Apa-apa yang salah dari DC Extended Universe

Saat tulisan ini dibuat, Justice League sudah memasuki masa penayangan di bioskop sekitar satu minggu. Film ini sendiri merupakan film kelima dari installment dalam DC extended universe. Banyak pro dan kontra berhembus sebelum film ini tayang. Bukan hanya karena beberapa film terdahulu dari DC yang mendapatkan mixed reaction di mata kritikus, namun juga karena film ini menjadi penentuan apakah franchise ini akan dapat berjalan kedepannya. Ada beberapa pertanyaan yang mendasar untuk semua kebapukan film DC ini, “What is the problem with these movies?” Beberapa orang mengeluhkan bahwa tone dalam film yang gelap dan muram adalah alasannya. Mereka tidak sepenuhnya salah, tapi bagi saya ada masalah yang jauh lebih besar daripada sekedar overly dark and bleak tone. Bagi saya pribadi, hal ini cukup krusial untuk dibenahi jika DC ingin installment ini berjalan sukses di waktu yang akan datang. Jadi, apakah sebenernya yang membuat beberapa film DC cukup bapuk? Jawabannya adalah…

Wait for it….

It’s the characters, yeah those guys

Sejauh ini dalam DC extended universe (selanjutnya akan disingkat DCEU) tidak ada tokoh dengan karakter yang cukup kuat. Apa itu karakter yang kuat? Yang dimaksud kuat disini adalah karakter dengan motivasi jelas, terus berkembang dan mempunyai sikap. Ok, I know that sounds like pelajaran PPKn jaman baheula, but to be honest, what I defined that sounds like pelajaran PPKn is actually a good reason to care about any of them. DCEU selalu bergantung pada gimmick marketing yang heboh dan kekuatan dari brand DC itu sendiri. Orang-orang akan nonton film Batman just because it’s fuckin Batman. Tapi kalau Warner Brothers ingin terus-terusan mengeruk uang dari para penonton, mereka butuh lebih dari nama besar brand, mereka butuh tokoh yang membuat penonton peduli. Selama ini DCEU berasumsi bahwa kita akan menonton film mereka karena pada dasarnya kita sudah tahu dan mengenal tokohnya. Kita menyukai Batman dan Superman dari komik atau film atau kartun. Agar installment ini dapat berjalan, DCEU membutuhkan sosok Superman dan Batman yang disukai.

This Batman

This Superman

Dan sejauh ini, kita gak suka dengan penokohan mereka berdua.

Jadi gini, ide dari cinematic universe sendiri dasarnya ada pada tokoh yang dicintai penonton sehingga penonton ingin melihat interaksi tokoh tersebut di film yang berbeda. Bandingkan dengan Marvel cinematic universe (MCEU) yang meraih pujian dari berbagai pihak, Why? It’s simple, because people love those characters. Why they love those characters?

Because Marvel did the hard work of developing interesting fully-formed characters that audiences cared about.

Buktinya? Well, you can agree to disagree with me, but here’s the thing.

Saya nonton Suicide Squad pada hari kedua penayangannya. Di film tersebut ada beberapa adegan dimana Batman dan Flash menjadi cameo. Ketika cameo ini muncul, reaksi yang saya rasakan dari bioskop yang full booked itu hanya bisik-bisik gak jelas seperti

“Eh itu The Flash ya?”

“Eh emang itu Ben Affleck ya?”

Sebagai perbandingan, beberapa tahun sebelumnya saya menonton Thor: The Dark World, yang mana film paling segmented dalam MCEU pada saat itu. Tapi saya ingat dimana Captain America muncul menjadi cameo kurang dari 10 detik dan tiba-tiba para penonton bersorak sorai ramai.

Itulah reaksi yang diinginkan oleh Warner Brothers tapi belum berhasil mereka dapatkan.

Continue reading

Advertisements

Made In Jakarta

Siapa suruh datang ke Jakarta, kata mereka. Saya juga bingung, banyak orang kurang suka dengan kota ini. macet, banyak kejahatan, dan lain lain dan kawan kawan, tapi ya mau bagaimana lagi, hanya kota ini yang bisa menaungi kedinamisan saya dan hanya kota inilah yang bisa menghapus rasa cepat bosan saya. Karena nya, saya merasa menjadi manusia. Selalu banyak cerita dari Jakarta. Seperti playlist spesial dari saya untuk ulang tahun Jakarta, beberapa diantaranya mengandung cerita yang akan lebih dahsyat apabila dipadukan dengan nuansa Jakarta.

So, here it is.

1. Adrian Khalif – Made In Jakarta

Berkolaborasi dengan DJ bertalenta dalam negeri, Dipha Barus, Made in Jakarta dari Adrian Khalif berhasil membawa suasana musik yang baru dan segar dengan perpaduan musik hiphop dengan musik EDM yang memberikan vibe yang chill. Sebuah —anthem tentang [hasil] kerja keras dalam mewujudkan mimpi [di Jakarta] hence, Made In Jakarta.

2. Emir Hermono – 3am In Jakarta

At some point in your life you must have been stalking your ex (bf/gf/unfinished business) and reminiscing every moments you had in the past. This song is actually all of the things above, plus point if you ever experienced it in Jakarta, at 3am.

3. Emir Hermono – Cuma Kamu

Perpanjangan dari lagu diatas. Karena apalah artinya cuma ngegalau dini hari tanpa drunk text ke mantan (pacar/gebetan) yang isinya bilang bahwa Jakarta adalah hal yang kusuka nomer dua, setelah senyummu. Ya cuma kamu.

Continue reading

Scaling the Abundance

We love to blame the world, because the world can’t blame us back. Nowadays, we can hear a lot of complaints saying about information overload and the various things about task that we supposed to be responsible for. Like shaking a fist at the sky, we assume there is someone or simply invisible force, willfully putting things in our way. Simply because we feel overwhelmed today, doesn’t mean the information of information is different from how it was one year or 100 years ago. Of course, at the present time life feels more overwhelming. Keeping our goals in focus isn’t easy. But that doesn’t mean, the world or technology is responsible for our problems. Let me put it this way, throughout the history some people have struggled to be creative and to concentrate, while others haven’t found it to be much struggle at all. Why is it different?One thing for sure, technology or volume of published information is not the one you should blame for.

Let’s looking a little further to the past. On the day your great-grandmother was born there were more books in print that she could have read. Did this trouble her? Probably not. The reason we feel overloaded today are the same our ancestors could have given for the book overload they were all born with. Now, let’s reminiscing a little while: Socrates never said “I’d do great work if I didn’t have philosophy overload from hanging out at the agora.” Emily Dickinson didn’t complain of vocabulary overload in the English Language. Picasso, Da Vinci, Tesla and Marie Currie all possessed amazing curiosities and could have been easily distracted away from their work by the abundance of sex, food, conversation, money, news, books, and paintings. Yet they worked. They produced. Van Gogh was mad and starving, and produced. Every generation has had its grand distractions. Our ancestors painted on cave walls for God’s sake, as the struggle for survival didn’t stop their creativity. Bukowski was a drunk and a bum in early sense of the word, yet wrote and wrote and wrote even more. The point being is we have to sacrifice something to create something.

Now the question is, what are we willing to sacrifice to create? If we don’t sacrifice something for our ideas, it’s our ideas that will be sacrificed for us. For our grandparents it was radio. For our parents it was TV. For us it’s the web. For our children it will be something else. There is always justifiable distractions, but history does not give us a pass for the ideas we let ourselves get distracted away from.

Maybe information overload is a myth or maybe it isn’t. My point is that as long as the things that distract us have an ‘off’ switch, the problem isn’t the world, the problem is US. The world, like we have known always had much more information that we can consume, much less understand. The only thing that’s changed is our self-righteous stress in response to it. Let me put this way. Imagine yourself going to music concert;did the hundreds of people in the audience distract you from listening?Or when you go to bookstores;did the many books on the shelves make it impossible to browse for a book you wanted? Let’s go hiking ; would the thousands of plants, trees and insects stress you out? Every abundance things that I have mentioned teach us that our brains are information avoidance machine once you realise the staggering ratio of what is around us compared to what we consciously notice.

We complain that the web is trash, but in the same breath we whine about how it is to turn it off. We crave, we habituate, we justify and we get nervous and uncomfortable when we don’t get our fix. And when we fail and feel bad, we blame the technologies and the world for our problems. We wonder why there is so much information.”Who did this to us” the answer is clearly the person asking the question. We as human being have been disciplined to consume more than we’ll ever need. When it comes to information, we tend to behave the same way: our inboxes and reading lists are several lifetime long, yet everyday we go out and chase more for no good reason at all. It’s a paradox, we fear missing out so much that we create an environment which guarantees we will feel we are missing out. We are compelled to be information fiends, hoarding it, feeling shame over it, feeling dopamine rushes when we capture new batches, conquests that only repeat the same pattern.

I’m a normal human being. Some days are unproductive. No matter how I want to create, work, produce. I just can’t. But I will never blame Twitter, Facebook, Netflix or a phone, for the same reasons I would never blame the sky. It’s up to me to gain control over mind. The world and technology in it has never been a problem. It’s the willingness to work over months, years to make our mind an ally in our pursuits and not an adversary.

So stand up dude. When you stand, you’ll discover you’ve been ‘drowning’ in a kiddie pool of information all along.

Peace out✌️

Dua puluh enam yang belum padam

Kemarin tanggal 18 Februari saya baru saja merayakan ulang tahun. Menurut perhitungan tahun masehi, tahun 2017 adalah ulang tahun saya yang ke dua puluh enam. Sebuah milestone terbaru dalam hidup saya. Hidup selama dua puluh enam tahun. Usia dua puluh enam tahun tidaklah se-spesial ketika berusia dua puluh tiga atau dua puluh lima. Blink182 bilang bahwa ‘nobody likes you when you’re 23’ sedangkan artikel-artikel motivasi berpendapat bahwa dua puluh lima merupakan suatu angka sakral dimana kedewasaan dan permasalahan hidup terjadi, hence, quarter life crisis happens. Dua puluh enam bisa dibilang merupakan usia untuk rehat sejenak sembari melihat kebelakang untuk melihat sudah sejauh apa kita melangkah. Walaupun di tiap pertambahan umur memang kita seharusnya melakukan itu semua. Namun di usia dua puluh enam ini kita lebih bisa ‘beristirahat’ karena pressurenya yang tidak setinggi usia-usia lainnya. Beristirahat sembari menata diri untuk terus melanjutkan perjalanan.

Hal pertama yang dua puluh enam ajarkan adalah reminiscence. Karena rasa sakit mungkin akan hilang, luka akan sembuh, tapi dendam dan penyesalan akan selalu ada. Ia abadi, tak peduli sejauh dan secepat apa kamu berlari, sembunyi, dan berkata baik-baik saja. Karenanya, yang bisa kita lakukan hanyalah bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan sampai saat ini. Bersyukur bahwa pada hari ulang tahun ini, masih banyak orang yang peduli dan mendoakanmu. Berbagai macam ucapan saya dapatkan di hari itu, dari mulai ucapan serius nan flattered yang diawali dengan “to the determined person who I’ve ever known”, ucapan penuh pengharapan sekaligus mengingatkan seperti “semoga tetap humble (even you know everything)”, hingga ucapan brengsek dari teman terbaik semacam ini. Oh dan tentu saja sekedar ucapan dan doa-doa templating yang tentunya harus kita amini juga, karena bagaimanapun itu juga sebuah pengharapan untuk kita.

screenshot_20170219-160517-01

Hal kedua yang saya pelajari di umur baru ini adalah keeping up the pace. Orang seringkali berkata “kamu masih 25 tahun, Dan, jalanmu masih panjang.” Oh, how much I hate those words. Saya paham, bagi beberapa orang yang jauh lebih berpengalaman dari saya, saya adalah orang yang sangat grasa-grusu dan terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Tidak ada yang salah dengan nasehat untuk saya tersebut, tentu saja, tapi saya selalu membenci kata “masih“. Sebuah kata penuh jebakan seolah-olah kita punya banyak waktu luang untuk menyelesaikan segala hal.

Sama seperti saya ketika orang-orang berkata perjalanan saya masih jauh, saya sudah 25 tahun, saya masih belum punya hunian tinggal permanen, saya belum punya kendaraan, saya belum punya gelar master, saya belum keliling Indonesia, saya belum bisa bikin perpus mini, saya belum ke luar negeri lagi, saya belum menyelesaikan banyak buku di kamar, saya belum punya gaya hidup sehat dan sederet daftar yang belum saya selesaikan sementara waktu terus berjalan secara linear.

Setidaknya dalam dua tahun terakhir, saya menuliskan satu buah reminder untuk selalu saya pegang dalam melakukan sesuatu, “All we have to decide is what to do with the time that is given us.” Saya cukup kenyang dengan kenyataan bahwa, kematian tidak sejauh itu berjalan dari kita, tidak pernah ada jaminan bahwa hidup saya atau bahkan hidup kita sepanjang apa yang kita bayangkan.

Daftar panjang pencapaian saya masih menunggu untuk saya selesaikan, dan saya sudah berusia 26 tahun.

It was a much simpler time, when what kept me at the night were the monsters under my bed, and not the voices inside my head.

 

Valentine Movie Picks – Cinta Saja Tidak Cukup

Tulisan ini dibuat karena kegabutan pada hari Selasa rasa Jumat. Dimana besok adalah hari libur karena ibukota akan mengadakan what so called pesta demokrasi. Selain itu, ternyata hari ini jatuh di tanggal 14 Februari, tanggal dimana sebagian orang menyebutnya dengan ‘Hari Kasih Sayang’.

Kita bisa saja mendefinisikan apa itu arti kasih sayang dan cinta. Dari yang manis hingga sinis seperti yang dikatakan Don Drapper (selaku anak ahensi) “What you call love was invented by guys like me to sell nylons.” Ya mungkin pengertian ‘cinta’ menurut saya gak se-sinis itu ya, but hey just be realistic you can live your life only with love, don’t you?

Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, inilah beberapa judul film yang menurut penulis bisa menggambarkan situasi diatas atau mungkin bisa memberikan arti tersendiri di hari kasih sayang ini. Tentu saja, rekomendasi saya disertai dengan beberapa patah kata yang terkesan ‘pakar yhaaaaaaa’

 Yaudah. Inilah ~

 

1.Blue Valentine (2010)

Film ini dipilih karena ada unsur kata valentine di dalamnya. Meskipun begitu, film ini tidak melulu bercerita soal perayaan valentine. Dalam Blue Valentine, perjalanan sepasang kekasih digambarkan dengan gamblang dan penuh perjuangan.

Blue Valentine ditampilkan dengan sebuah proses cerita yang membuat setiap penontonnya dapat membandingkan bagaimana kehidupan Dean dan Cindy sebelum dan sesudah pernikahan. Hal ini dilakukan lewat deretan adegan yang melompat antara adegan yang berlangsung di masa sekarang dengan adegan yang berlangsung di masa lalu lewat proses pengeditan yang sangat cerdas. Hasilnya, tiap adegan mampu merangkai tiap aliran emosi dengan sangat baik dan tak pernah kehilangan satupun momen emosional di tiap ceritanya. Tiap emosi ditampilkan saling berlawanan masa-masa bahagia sebelum pernikahan terjadi dan masa-masa depresi ketika pernikahan itu berlangsung yang membuat Blue Valentine begitu nyata dan jujur.

Hasil terbaik itu juga didorong dengan kemampuan dua aktor utamanya, Ryan Gosling dan Michelle Williams. Gosling dan Williams menampilkan karakter mereka dengan chemistry yang tercipta begitu alami. Tampil bersama di sepanjang 112 menit durasi film ini berjalan, Gosling dan Williams merupakan elemen terpenting dalam Blue Valentine dan menjadikan kisah film ini terasa begitu manis pada awalnya, namun begitu menyesakkan dan menyakitkan di bagian lain. Kehadiran mereka juga yang akan membuat Blue Valentine begitu terasa personal bagi beberapa kalangan penontonnya, khususnya ditambah dengan deretan dialog yang begitu terasa puitis dan mendalam, sinematografi yang indah serta deretan lagu-lagu yang mampu meningkatkan setiap tampilan emosi yang ada.

Blue Valentine adalah sebuah gambaran pesimistik mengenai sebuah pernikahan yang menemui jalan buntu dalam perjalanannya. Bukti bahwa cinta aja gak cukup untuk memulai suatu pernikahan.

 

2. Up in The Air (2009)

Siapa bilang cinta tidak bisa salah alamat? Bercerita tentang pria sukses yang tidak bisa membangun sebuah komitmen. Dia membentengi diri bahwa sesungguhnya dia hanya belum menemukan orang yang tepat.

Fokus utama film ini ada pada tokoh Ryan Bingham. Sekilas kita akan melihatnya menjadi sosok yang complicated. Bayangin aja, menjadi seorang flyer yang kerjaannya mecat pegawai lain dan memotivasi dengan teknik-teknik yang lihai. Menjadi seorang motivator dengan kata-kata terkenalnya : “What is in your bag?” – intinya tentang bagaimana melepaskan beban relationship pada tas yang dibawa kemana-mana. Awalnya Ryan adalah tokoh yang happy dengan hidupnya. Dan saya sendiri mikir betapa menyenangkan hidupnya! Bandara sudah menjadi rumah pertamanya, dan itulah real life seorang Ryan Bingham. Tapi pada akhirnya kita akan ikut simpati pada Ryan Bingham ketika ia menyadari betapa banyak hal yang telah ditinggalkannya. Puncaknya ketika ia bukan orang yang ‘exist’ bagi adik perempuannya yang akan menikah. George Clooney sendiri sangat tepat dalam mendalami peran ini. Kita seakan-akan melihat bahwa itu adalah kehidupan nyata dari Clooney.

Ketika Ryan menelepon Alex dan berkata, “I thought I was your real life…”. Kamera kemudian menjauh, menunjukkan Ryan menutup teleponnya dengan sedih pada sebuah jendela dengan lampu remang sedangkan dua jendela di kamar sebelahnya padam. – Saya merasa bisa memahami bahwa untuk pertama kalinya mungkin, Ryan Bingham merasa kesepian. Disitu kita ditampar bahwa cinta aja gak cukup. Apalagi cintanya buat orang yang salah. (ADUH).

3. Real Steel (2011)

Valentine tidak melulu perayaan soal sepasang kekasih dan muda mudi dimabuk asmar. Bisa jadi ia menjelma diantara hubungan bapak dan anak. Real Steel mampu mengemas kisah cinta dalam sebuah keluarga menjadi sangat epik dan mengharukan.

Kekuatan utama film ini adalah karakterisasi dan hubungan antar ayah-anak yang digali dengan baik, semua ini tentu saja berkat chemistry antara Hugh Jackman dan Dakota Goyo yang sangat luar biasa. Bahkan saking intimnya, saya merasa bahwa fokus film ini adalah drama antar ayah dan anak tersebut, sedangkan pertandingan boxing antar robot hanya sebagai selingan ataupun untuk membuat film ini agar tampak lebih orisinil. Kenapa film ini masuk pilihan penulis karena ada salah satu quotesnya yang bagus banget, kayak gini nih

“I want you to fight for me. That’s all I ever wanted.”

Harap diingat, quotenya sendiri dilontarakan dari seorang anak ke ayahnya, tidak untuk dispin jadi isu cinta yang mendayu-dayu. Film ini membuktikan bahwa cinta aja gak cukup, unless you’re Wolverine and have a giant robot.

4. Easy A (2010)

Capek dengan film-film romantis yang melelahkan? Mungkin Easy A bisa menjadi solusinya dengan menyaijkan humor yang segar. Forget about your sweetheart Mia Dolan on La La Land. Emma Stone is the real deal in this movie. While there is nothing to tell about ‘love’ on this movie, but this movie still show us some humor and romantic side. This is another proof that love is not enough, you might need some banter to enjoy it.

5. Smashed (2012)

Smashed adalah sebuah dark-comedy yang sempit, namun bekerja sangat efektif. Sejak awal ia sudah memberikan gambaran dengan jelas pesan yang ingin ia sampaikan, dan mungkin jika dilihat secara sepintas tampak kurang begitu menjanjikan. Tapi ternyata itu justru menjadi sebuah trik dari Ponsoldt untuk menghadirkan kejutan-kejutan yang ia punya. Banyak pelajaran yang terselip manis didalam setiap dialog dari masing-masing karakter miliki, namun sayangnya diletakkan secara implisit.

Sejak awal premis yang tampak kurang meyakinkan justru mampu tampil mengejutkan. Ya, ternyata sang sutradara punya materi yang kuat, dan ia juga mampu menggambarkan dengan baik bahan tersebut sehingga menjadi menarik. Ponsoldt pandai mengatur porsi kehancuran yang film ini punya, memberikannya secara sedikit demi sedikit tanpa menjadikan anda ingat padanya. Hal tersebut disebabkan unsur komedi yang mampu mencuri perhatian dibalik tema gelap tadi. Dark comedy bekerja dengan baik, membentuk banyak momen yang punya kadar lucu cukup tinggi, namun anehnya menjadikan seolah tertahan untuk tertawa lepas dan hanya berhasil tersenyum kecil.

Kunci sukses lainnya adalah para aktor yang sukses tampil memikat. Mary Elizabeth Winstead menggunakan kesempatan yang ia punya dengan tepat. Winstead bersinar. Dari ketika ia menjadi alcoholic, menghadapi suami yang useless karena kerjanya hanya mabuk dan bermain game, ketika ia mencoba berhenti minum, hingga kemudian meledak, semuanya hidup tanpa terlihat dipaksakan. Winstead menjadikan Kate sebuah karakter yang layak untuk mendapatkan simpati dan dukungan. Sebuah skenario nyata bahwa cinta saja tidak cukup. Yang penting sobeeeer ~

Bonus:

Hari untuk Amanda

Sudah jelas kan, karena selalu ada yang lebih seru dibanding yang lebih penting?

Damarrama’s Top Albums 2016

5

Dua ribu enam belas. Sebuah tahun yang panjang dan mengerikan untuk dilewati. Dari mulai banyaknya legenda yang meninggal hingga terpilihnya Darth Vader dalam pemilu di Amerika Serikat. Diantara beberapa peristiwa cukup mengerikan yang terjadi di tahun ini marilah kita sejenak menyingkir kemudian lebih bersyukur bahwa tahun ini dipenuhi dengan album-album musik yang memanjakan telinga.

Terlalu banyak malahan, inginnya sih membuat daftar ini lebih dari lima belas album, tapi nampaknya saya terlalu malas untuk mengisi commentary section (maafkan -__-). Seperti biasa, daftar ini subjektif dan disusun berdasarkan tingkat kefavoritan. Without further ado, berikut album musik dari 2016 yang menyita perhatian saya.

15. Modern Baseball – Holy Ghost

Menggabungkan pop punk dengan semangat garage band menjadikan album ini mempunyai  nuansa yang unik. Isi albumnya pun tidak melulu bercerita soal teenage angst (seperti pop punk pada umumnya). Dengan mengambil tema yang agak berat soal kehilangan dan perasaan depresi salah satu personelnya album ini berhasil memunculkan hook yang cukup memorable dan meledak-ledak. Holy Ghost merupakan paradoks, keteraturan dalam kesemrawutan. Organized chaos. Album ini juga yang mengingatkan pada masa-masa remaja dimana stage diving merupakan hal paling keren yang bisa kita lakukan. These guys are what’s it all about.

14. Band of Horses – Why Are You OK

Band of Horses merupakan salah satu band yang lagunya akan selalu cocok ditempatkan sebagai soundtrack sebuah film atau tv series. Ben Bradwell, merupakan sosok dibalik fenomena tersebut. Vocal ngondoy-nya yang khas ditemani dengan nada-nada minor dari genjrengan gitarnya dan ketukan drum yang statis merupakan formula yang jitu yang membuat Band of Horses dengan cepat disukai oleh khalayak ramai. Dalam penulisan liriknya, Bradwell menggunakan frasa pasif-agresif semacam “You stay here till the ghost is clear”, “I love you so much I’m going to throw up”, dan “As far as we’ve come, we’ve still further to go”. Pada akhirnya, Why Are You OK merupakan album yang OK dalam enam tahun terakhir dalam karier Band of Horses ini.

13. A Tribe Called Quest – We Got It From Here… Thank You 4 Your Service

Setelah 18 tahun lamanya, akhirnya A Tribe Called Quest kembali mengeluarkan album terbarunya yang sarat dengan muatan politik. Salah satu lagunya bahkan dengan cerdas dapat memperkirakan hasil dari pemilu di Amerika Serikat bulan November kemarin. Terlihat dari “For Tyson types and Che Figures / Let’s make somethin’ happen” adalah sebuah ajakan untuk sayap kiri (demokrat sosialis) untuk melakukan revolusi. Sebagaiman album hip-hop bernuansa OG lainnya, ATCQ tetap dapat memberikan kritik sosial tanpa mengurangi nuansa yang membuat mereka menjadi legenda. Hal lain yang membuat album ini berbahaya adalah sebuah track penutupnya yang berjudul “The Donald”. Surprise surprise, alih-alih soal kritik terhadap Presiden terpilih Amerika, lagu ini justru merupakan sebuah penghormatan terhadap Phife Dawg (salah satu personel ATCQ yang beru meninggal). Lagu ini bisa dengan sangat menyentuh menggambarkan peninggalan darinya berupa ATCQ. Angkat topi untuk ATCQ yang sudah mau turun gunung untuk membuat sebuah magnum opusnya. Tidak ada yang bisa diucapkan lagi kecuali Thank You 4 Your service.

12. Japanese Breakfast – Psychopomp

Perpaduan antara post rock dan dream pop bertemu dengan vokal twee pop. Ada banyak atmosfir yang disajikan dalam album ini. Melodi yang disajikan pun cukup beragam dan bisa memberikan nuansa sendu. Sebuah album yang setelah didengarkan dapat memberikan perasaan optimis.

11.  Metallica – Hardwired… to self-destruct

Sudah jadi rahasia umum bahwa band yang merilis lebih dari empat album sebaiknya bubar saja atau jika saja beruntung tidak bubar maka fansnya akan terbagi menjadi dua. Fans yang mengharapkan mereka terus berdinamika atau fans yang mengharapkan mereka untuk kembali ke bentuk awalnya. Tidak terkecuali dengan Metallica. Setelah Black album tidak sedikit fans yang jejingkrakan mendengar Master of Puppets atau singalong pada lagu Enter Sandman. Saya sendiri bukan seorang purist, lebih suka Metallica pada era Black album.

Semua berubah pada tahun 2008, waktu saya pertama kali mendengarkan Ride the Lightning saya tidak tahu bahwa lagu tersebut adalah lagu dari Metallica. Dengan produksi ala-ala tahun 80an saya berpikir “Wah gila, ini band oke juga bisa niruin Metallica” hingga pada akhirnya saya menyadari bahwa itu adalah Metallica yang mencoba mengcopy-cat Metallica.

Hardwired…to self-destruct adalah apa-apa yang ada pada album Death Magnetic dalam versi yang lebih baik. Hyper-speed drumming, riff gitar yang bersuara seperti senapan otomatis, bluesy notes, vokal Hetfield yang cheesy hingga lagu-lagu yang singalong-able semua ada disana. Walaupun bukan sebuah album yang sempurna namun tetap sebuah karya yang dapat menggerakan kita semua untuk berdoa “Sehat-sehat terus ya mbah biar pada bisa bikin album yang keren”.

10.Christabel Annora – Talking Days

Untuk urusan penyanyi wanita saya selalu memilih pihak yang kurang mainstream. Seperti halnya saya memilih Monita Tahalea dibanding Raisa atau Christabel Annora dibanding dengan Danilla Riyadi. Ya nama terakhir yang saya sebut mungkin memang kurang familiar di khalayak ramai. Ada yang spesial saat membicarakan soal Christabel Annora, dia mungkin bukan definisi “wanita cantik” pada umumnya (toh cantik itu relatif). Namun ada hal-hal dalam dirinya yang membuat kita (atau hanya saya?) penasaran, orang Perancis menyebut nya dengan je ne sais quoi. 

Begitu pula dengan albumnya yang walaupun banyak memberikan nuansa sendu tapi tetap terasa manis. Ada 13 lagu yang terdapat di album rilisan Barongsai Records itu. Keseluruhannya memiliki benang merah antara satu sama lain. Sangat menyenangkan jika didengar urut dari track pertama hingga akhir. Christabel Annora memang sengaja menyusunnya cukup runut sesuai rutinitas kebanyakan orang. Mulai dari bangun tidur, melakukan aktivitas, berpolemik, bersuka-cita, hingga kembali tertidur; inilah yang dinamakan ampuh menyita banyak pasang telinga untuk memenuhi playlist hariannya.

Talking Days merupakan sebuah album perkenalan manis dari Christabel Annora yang membuat saya ingin membalas

“Hai Christabel, nice talking to you too”

9. AURORA – All My Demons Greeting Me as a Friend

AURORA adalah nama panggung dari penyanyi berusia 19 tahun yang menggetarkan panggung Nobel Peace Prize 2015 dengan penampilannya mengcover lagu Half The World Away dari Oasis yang berhasil menyita perhatian dari artis-artis senior lainnya. Yang menyita perhatian adalah suaranya yang tajam seakan membelah sunyinya ruangan auditorium tersebut. Albumnya sendiri mempunyai konsep yang menarik. Terinspirasi dari Bob Dylan dan Leonard Cohen, Aurora berhasil menyampaikan pikiran dan gagasan yang jauh melebihi usianya. Sama seperti Lorde, album ini juga bercerita tentang escapism, cinta yang hilang hingga instrospeksi terhadap diri sendiri. Jika stereotipe artis pop adalah buruk, Aurora mencoba mendobrak stigma itu. Album ini merupakan salah satu buktinya.

8.The 1975 – I like it when you sleep, for you are so beautiful yet so unaware of it

Setelah menelurkan debut albumnya pada tahun 2013, The 1975 kembali beraksi dengan album terbarunya yang berjudul I like it when you sleep. Hasilnya tak kalah impresif dari debutnya. Meski materi-materi dalam album kedua ini lebih abstrak dan dewasa pada penulisan liriknya namun tak serta merta melucuti warna musik The 1975 yang penuh warna. Riuh deng an energi melankolis, I like it when you sleep, for you are so beautiful yet so unaware of it  merangkum sejumlah balada eksentrik tentang cinta. Permainan instrumen eletronika maupun bunyi-bunyian organik mampu membangun atmosfer eksotis dalam tubuh pop album ini.

7. David Bowie – Blackstar

Salah satu album terkelam dan paling eksperimental dari Bowie. Di dominasi oleh nada-nada gloomy bernuansa jazz, Bowie seakan menyihir kita untuk berkontemplasi tentang perkara kematian. Tujuh tembang dalam album ini adalah salah satu candu terbaik untuk berkontemplasi dengan diri sendiri.

6. Kaytranada – 99.9%

Ibaratkan sebuah spektrum warna, racikan hip-hop dan EDM dari seorang DJ Kanada bernama Kaytranada bekerja dengan menampilkan seluruh warna tersebut. Sensasi-sensasi terbaik mengalir dari eksplorasi instrumen tabuh dan petik yang tesinkronisasi dengan energi synth.99.9% membuat Anda berjingkrak, melayang, dan juga duduk terdiam demi menemukan jiwa Anda yang sesungguhnya. Lantas lantunan “If you had everything you’d ever wanted. Right in front of me, what’s it gonna be?” akan jadi klimaksnya.

5. Weezer – White Album

Although this album is not the most impressive album from Weezer, but given the last decade of their discography, I have an urge to say that The White Album is, hats off, the best Weezer album since…well, since it became so hard to agree on what the last great Weezer album was.

4. Trees & Wild – Zaman Zaman

Lupakanlah soal album pertama mereka yang berjudul ‘Rasuk’, ‘Zama Zaman’ merupakan sebuah monster yang berbeda. Ada kemiripan yang menarik antara The Trees and The Wild dengan Bon Iver. Meski cukup berbeda secara musikal, TTATW dan Bon Iver – atau dalam hal ini Remedy Waloni dan Justin Vernon – tampaknya memiliki cara yang sama untuk memaknai momentum. Setelah menuai pujian di album sebelumnya, keduanya malah nyaris vakum dan mengabaikan “kesempatan” yang ada untuk justru mengubur presence yang telah mereka ciptakan. Baru setengah dekade kemudian (“Rasuk” dirilis 7 tahun yang lalu, dan “Bon Iver” dirilis 5 tahun yang lalu), mereka kembali dengan materi anyar. Dan, alih-alih kembali untuk merayakan dan bernostalgia dengan konsep lama yang membuat mereka menjadi pujaan fansnya, Remedy dan Vernon sama-sama kembali dengan amunisi baru yang dsiap ditembakan kepada ekspektasi yang ada di kepala pendengarnya. Jika amunisi Vernon adalah absurditas penulisan judul lagu dan glitch yang membuat bingung para penggemar denting gitar akustik yang bernuansa sendu melagu (pun intended), maka senjata Remedy di album comebacknya adalah eksistensi noise atmosferik yang dominan di hampir seluruh lagunya. Keberanian ini jelas patut diapresiasi. Bahwa TTATW berani keluar dari zona nyaman mereka dan mau menjelajahi area baru.

Eksplorasi dan eksperimentasi. Dua kata kunci untuk menggambarkan keseluruhan album ini. Mereka seakan benar-benar mendobrak batasan-batasan yang ada dengan membuat lagu-lagu yang berdurasi cukup panjang. Hanya dua lagu yang durasinya di bawah lima menit, bisa dibilang lagu-lagu tersebut merupakan semacam jembatan penghantar ke lagu selanjutnya. Seperti dalam trek “Srangan” yang cukup untuk membuat kita rehat sejenak untuk kemudian kuping kita dihajar lagi di lagu selanjutnya, “Monumen”.

Tujuh tahun pun rasanya dapat dimaklumi untuk sebuah album yang telah lama dinanti dari sebuah grup band. Karena mereka jelas mampu membayar lunas penantian panjang itu dengan menghadirkan album berkualitas yang tetap mampu mempesona para pendengarnya. Butuh sedikit waktu untuk menyelami kreativitas TTATW di “Zaman, Zaman”, dan kalian akan menemukan jawabannya setelah beberapa kali mendengarkan album ini dari awal hingga akhir.

Akhirnya sampailah kita pada tiga besar dari daftar ini. Simak terus ya

Continue reading

(Love Letter) To my second password

Dear you,

When was the last time we’re seeing each other? About 3 months ago? or maybe about 2 weeks ago when I was sign up for that newsletter that required my password to be strong with those capital, number and used of punctuation mark? Great times isn’t it? Feels like yesterday. Do you remember when I tries to typing you almost fifth times just to make sure it’s the correct one? I’m hopeless that time, I thought I would never finish setting up that account. That’s why I love about you – you always keep me guessing.

We knew that our time back there was precious. I know that we want spent more time together, but it’s complicated I supposed. I still seeing my main password, but you have to believe me when I said that my main password is nothing compared to you. The only thing that keeps us together is the reason that my main password is knew about my past through the embarrassing Yahoo mail account. Put you in my position, do you know how much humiliation could be done to my reputation if that information leaked?

When it came to attention I gave to my main password, I just changed the number when it’s mandatory. That’s it. That is how I care about my main password. But you, you’re different. You are special. With your nonsensical combination of symbols, numbers, and upper- and lowercase letters. Do you know how many times I’ve clicked, “Forgot my password,” and entered my pet’s name and the city I was born for you? I wouldn’t do that for any old password.

You know I want you to be in my life, but it’s easier said then done. I have been with my main password for two years now. Right now, my main password is pretty insecure compared to you. I won’t deny that you’re endowed with a more impressive length. I’m not the only one who thinks your character number is impressive–several websites have voiced their approval. You should be flattered, you’re the star here.

Every time we meet again, you accuse me of using you. You accused me that I want to be together when my main password is not strong enough to fulfill the requirement. Now that is how you wrong. The main reason why you’re special is because our spontaneous meeting. Don’t you think when I’m using you for main password it will be less serendipitous, growing duller and duller until I finally store you in my browser like a box of baking soda in the back of the refrigerator. I don’t want that to be us. What we have is too good to be ruined by routine.

For you, I did something I’ve never done before. You may not believe this, but I have you written in notebook that I keep in my desk. You’re right there next to my paperclips and post-its in a place of eminent my main password has never occupied. From time to time I open that little notebook and look fondly upon you when I have one last try before I’m locked out of an account. It’s in these precious moments that you mean the most to me.

That brings why are we here today: I need you. I needed you more than ever before. I’m creating an account somewhere to receive free one-month subscription, and the password requirements are too demanding for my main password. You’re my only hope, alternate password. I know you don’t think you can trust me, but I’m going to change. What if I put you on my Gmail account login? That would be a big step for both of us! I know it’s about time I keep my promises make more time for you, but what do you say? Can we make this work again, at least this once until I can opt-out and unsubscribe from this account? Please?