…dan setelah Black Mirror

Serial tv besutan Charlie Brooker sudah memasuki musim ke empat. Season keempat sendiri telah dirilis pada 29 Desember 2017 silam, serial Black Mirror ini sudah barang tentu ditunggu-tunggu para penggemarnya yang cukup sakau menantikan cerita aneh apa lagi yang akan tersaji. Walaupun di season keempat ini saya merasa alur ceritanya lebih mild dibanding season-season sebelum, tapi tetap saja ada beberapa episode yang after tastenya cukup cringey af . Dalam postingan kali ini, saya mencoba membedah mengapa Black Mirror sangat dinikmati walaupun jalan ceritanya cukup membuat merinding. Postingan ini mengandung spoiler disana sini, jadi bagi yang belum menonton, jauh-jauh aja kali ya.

Why Do We Watch Black Mirror?

This is Kenny

Tentu, kita semua masih ingat dengan plot cerita dari episode “Shut Up and Dance”. Kalau sudah lupa, mari saya ingatkan. Alkisah ada seorang remaja bernama Kenny yang kena blackmailing dan ia disuruh untuk membunuh seseorang. Apabila Kenny tidak menuruti apa yang si pengancam minta maka video aib Kenny akan disebarluaskan. Akhirnya, Kenny menuruti apa yang diminta dan tetap saja video aibnya tetap disebar. Tamat. Serius deh, apa yang menarik coba dari sebuah serial yang plot utamanya bercerita tentang bagaimana kemajuan teknologi disalah gunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Apa pula yang menarik dari sebuah serial tv yang mempunyai plot muram seperti; disuruh make love dengan babi, menghadapi ketakutan terbesarmu atau bahkan disuruh menjalani hukuman tanpa henti? Kadang beberapa tokohnya mati, kadang banyak orang yang mati. Walaupun dalam beberapa episodenya, tokoh utamanya mendapatkan ((sedikit))) pencerahan di akhir cerita. Singkatnya, Black Mirror adalah parade dari tragedi. Mungkin saja tujuan kita menonton Black Mirror seperti halnya kita suka menonton tragedi. Untuk merasakan perasaan kasihan dan takut hingga menghasilkan perasaan…. wait for it. Katarsis. Atau setidaknya begitulah yang tertuang dalam buku Poetics karangan Aristotle, kira-kira begini isinya

A tragedy, then, is the imitation of an action … with incidents arousing pity and fear to accomplish its catharsis of such emotions 

Menurut Aristotle, tujuan dari umat manusia merasakan tragedi adalah supaya kita bisa merasakan ketakutan dan ketidakberdayaan yang berujung pada katarsis. Katarsis sendiri diperlukan untuk menghindari manusia dari perbuatan negatif yang terpendam. Walaupun arti katarsis yang dimaksud Aristotle pun masih diperdebatkan banyak orang. Apakah sebagai purgation, purification atau clarification? Maksud semuanya bisa jadi sama hanya saja beda tema. Poinnya adalah dengan kita merasakan tragedi yang artistik terkadang terasa menyenangkan yang mana membuat kita penasaran untuk melihatnya. Yang lagi-lagi menjadi perdebatan. Jika kita tidak suka dengan tragedi di dunia nyata, mengapa kita suka melihatnya secara teatrikal dalam acara tv ataupun sebuah film? Jawabannya adalah tragedi yang ditunjukan melalui layar kaca adalah tragedi dengan porsi yang pas.

The Tragedy of Rob Stark

Apakah tragedi dengan porsi yang pas itu? Mari saya kasih contoh. Game of Thrones mempraktekan Poetics dari Aristotle dengan menghadirkan tragedi pada sosok karakter yang baik tapi tidak sempurna. Red Wedding adalah salah satu contoh tragedi yang ditampilkan secara blak-blakan namun tetap masuk akal yang dihadirkan pada masa kini. Ketika tragedi tersebut usai, kita entah mengapa ada sedikit perasaan lega. Bukan karena Rob Stark memang pantas mendapatkan itu semua, tapi kalau mau menengok ke belakang tragedi tersebut seakan menghapus’dosa’ dan kesedihan karena pilihan Rob Stark yang tidak hanya membuat  namun juga menambah dimensi katarsisnya.

Part Two

Entire History of You

Oke, sekarang mari kita lihat tragedi di Black Mirror. Seperti yang sudah disebutkan, Black Mirror adalah sebuah serial tv yang cringey AF. Serial ini mampu melipatgandakan rasa kasihan dan ketakutan dalam diri kita semua. Tapi saya rasa, tragedi yang dihadirkan dalam Black Mirror berbeda dengan apa yang dihadirkan dalam Game of Thrones, Breaking Bad dan serial-serial tv lainnya. Perbedaan yang paling menonjol adalah efek after taste yang berbeda-beda. Penting untung diingat bahwa memang setiap episode Black Mirror menghadirkan tragedi yang berbeda-beda pula. Hampir setiap episodenya terlalu luwes untuk dijadikan narasi. Mereka tidak terikat pada satu formula tertentu. Walaupun benang merah yang paling terlihat adalah bagaimana teknologi di masa depan dapat menjadi malapetaka. Namun bagi ciri khas utama Black Mirror yang paling kuat adalah bagaimana ketidak nyambungan tokoh utama atas peristiwa yang bakal mereka alami. Kuncinya adalah disconnect to connect. National Anthem, episode perdana dari Black Mirror bercerita tentang bagaimana seorang perdana menteri diancam untuk make love dengan babi. Mungkin saja si perdana menteri ini bukan tanpa cacat, tapi diblackmail dengan cara yang seperti itu, I think it’s on another level. Atau dalam episode Entire History of You yang digambarkan dengan seorang suami yang cemburu buta, namun kecemburuannya justru membuktikan bahwa ia benar yang mana memori digitalnya mengakibatkan kehancuran keluarganya. Dalam White Bear, digambarkan bagaimana seorang pembunuh yang amnesia ‘disikisa’ secara terus-terusan untuk menjadi hiburan. Jikalau kalian setelah menonton season 1-4 dan merasa cringey AF, bisa jadi karena ini Black Mirror menghadirkan sebuah tragedi yang tidak seimbang. Tidak stabil. Ending cerita Black Mirror tidak pernah menghadirkan closure untuk tokoh utamanya. Ending yang terjadi pada Walter White tidak pernah terjadi pada tokoh-tokoh di Black Mirror. Mengutip Northrop Frye dalam Architecture of Literature.

Tragedy is intelligible because its catastrophe is plausibly related to its situation.

The  Closure

Hang The DJ

Jika ada satu hal yang dilakukan Charlie Brooker dengan sangat baik adalah memberikan kita tragedi-tragedi yang tidak pada pakemnya. Di tangan Charlie Brooker, tragedi-tragedi tadi diolah sedemikian rupa hingga tidak mengeluarkan katarsis. Jika katarsis tidak keluar maka yang tersisa hanyalah rasa kasihan dan ketakutan. Rasa inilah yang menuntun kita untuk lebih dekat dengan karakter dalam Black Mirror. Jadi kenapa dong kita menonoton Black Mirror? Menonton sebuah serial yang jelas-jelas hanya menghadirkan tragedi. Saya rasa kita menonton Black Mirror karena kita semua masih punya perasaan. Tidak seperti beberapa serial tv lainnya yang cenderung menghadirkan holyshit moment. Atau mungkin seperti Twilight Zone yang dalam akhir episodenya selalu menghadirkan pesan-pesan moral. Black Mirror hadir tanpa peduli dengan katarsis dan pesan moral. Mungkin inilah yang membuat serial Black Mirror terasa lebih jujur tanpa kehadiran dua hal tersebut. Dunia dimana kita terpojok oleh kehadiran omnipresent berupa teknologi adalah dunia yang kacau. Dunia yang tanpa ampun. Dunia diluar kendali kita. Black Mirror hadir. Bukan untuk menemukan solusi. Bukan untuk menenangkan. Black Mirror hadir untuk membiasakan kita semua.

Advertisements

Damarrama’s Top Albums 2017

Walaupun agak telat, namun kembali lagi bersama saya dan ritual paling konsisten di blog ini. Apalagi kalau bukan mereview album-album pilihan yang rilis sepanjang tahun 2017  kemarin. Ini bisa jadi daftar album tahunan paling sedikit yang pernah saya seleksi, tapi memang tahun 2017 ini begitu menarik. Saking menariknya sehingga saya enggan melewatkan album-album untuk dirayakan di penghujung tahun. Hal ini pula yang membuat saya sedikit kesulitan untuk memasukan album apa saja kedalam list ini. Ohya seperti biasa, list album yang ada disini diurutkan subjektif berdasarkan pilihan saya jadi dibawa santai saja ya. Check this out  !

 

11. Paramore – After Laughter

Bagi saya, Paramore adalah band hits di awal tahun 2000an yang mempunyai fanbase rata-rata anak emo (pada jamannya). Di tahun 2017 ini, beberapa fans emo tadi mungkin sudah lebih dewasa dan telah muncul fans-fans dengan rerata umur yang lebih muda dan condong ke 80’s aesthetics. Mengubah total pembawaan dan musik mereka merupakan pilihan dan timing yang sangat tepat di 2017 ini. Dengan musik yang lebih berwarna dan ceria Paramore tetap tidak melupakan ke-emoan-nya. Liriknya masih bercerita soal depresi, paranoia hingga impostor syndrome.  Semakin kita mendengarkan album ini semakin kita menyadari bahwa musik ceria dan gemes Paramore hanya ada  di permukaan. The Williams everyone loves is still there, but she’s become a little bit better at letting go. She’s not dwelling, so why should we? It’s time we matured with Paramore.

 

10. .Feast – MULTIVERSES

Di luar dari cover albumnya yang agak tidak biasa, MULTIVERSES justru memikat lewat materi-materi rock yang jenius. Saya menyebut kemasanya sangat operatic, tak hanya dari  suara riff gitar yang khas, sekaligus musik yang dibangun dan kolaborasi dengan beberapa musisi terkenal telah mengimpresi makna serupa. Orkestra yang tak terlalu ambisius, menciptakan ruang-ruang kesederhanaan dalam menafsirkan emosi dari setiap karya .Feast. Akan dengan mudahnya menyebut MULTIVERSES adalah kumpulan kegilaan, meski saya lebih suka menamainya kumpulan kontemplasi yang penuh kelegaan.

 

9. Scaller – Sense

Siapapun yang pernah menyaksikan penampilan Scaller secara langsung, akan tanpa ragu sepakat bahwa duo yang terdiri dari Stella Gareth & Reney Karamoy ini adalah sebuah band yang masuk dalam kategori muda dan berbahaya. Setiap gig mereka bagaikan erupsi-erupsi yang tidak dapat dihindarkan memompa adrenalin mereka yang menyaksikannya. Penampilan mereka ketat, penuh konsentrasi dan terasa seperti pompaan tenaga yang datang dari batang energi yang diasupkan ke badan di pagi hari. Senang rasanya melihat Scaller berhasil menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana musik mereka disajikan dalam bentuk karya, tidak semata-mata penampilan panggung yang berenergi. Rasanya, kita akan menyaksikan satu band pendatang baru yang akan makin laku ditanggap di mana-mana.

 

8. Passion Pit – Tremendous Sea of Love

Jika semua orang mengalahkan patah hatinya dengan membuat lagu seperti ini, maka dunia ini akan menjadi lebih baik. Lagu ini adalah sentral dalam album luar biasa Passion Pit, Tremendous Sea of Love. Beat-nya adalah sebuah candu yang tidak ingin kita habiskan, setiap fase di lagu ini menghipnotis kita, membawa kita ke sebuah lautan tak bertepi, di mana yang kita rasakan hanyalah getaran kebahagiaan tanpa batas.

 

7. Bleachers – Gone Now 

Bleachers  adalah alterego Jack Antonoff yang sukses mengolaborasikan vokal, musik, dan penampilan dalam satu kesatuan tema bertajuk “classic pop”. Walaupun tidak semua lagunya terdengar bombastis, namun sJack Antonoff tau persis apa yang dibutuhkan  chorus sebuah lagu hingga menjadi earworm. Saya dengan album Gone Now ini sudah saatnya Jack Antonoff lebih dikenal sebagai artis ketimbang orang dibalik layar, mengutip Pitchfork

“By now, he’s accrued a strong enough songbook to successfully render that single a mere footnote to an enviable and flourishing career. Somewhere even further down his resume, there’s a place for Gone Now.”

 

6. SZA – Ctrl 

Track semacam Love Galore, The Weekend, dan Doves In the Wind adalah racun yang pelan-pelan memabukan telinga dan pikiran. SZA membingkis album ini dengan elemen-elemen soul, pop, dan R&B. SZA mengalun dalam tempo medium. Ramuan instrumentalnya riuh akan ketenangan. Di sisi lain, Ctrl juga terdengar dingin dan gelap. Namun di situ kehebatan SZA yang diam-diam menransfer aroma retro  dan segenap bunyi-bunyian kreasi.

 

5. HAIM – Something to Tell You

Empat tahun berselang sejak debut Days Are Gone, kini HAIM kembali menggebrak kancah permusikan dengan album Something to Tell You. Di album barunya ini HAIM mampu menggabungkan nuansa power pop dan rock 80’s dengan baik. Something to Tell You sendiri adalah kumpulan perasaan frustasi akan perasaan yang tak terucap. Selain video klip yang gemes-gemes menarik, lirik-lirik dalam lagu Something to Tell You juga terdengar lebih “mudah” dibanding Days Are Gone sehingga membuat album ini deserved little of your love ~

 

4. Calvin Harris – Funk Wav Bounces Vol.1

Whoa whoa whoa, tenang tenang. Kalian semua gak salah baca kok, memang benar Calvin Harris masuk dalam salah satu album favorit tahun ini, bahkan merupakan album yang pada pendengaran pertamanya didengerin tanpa diskip lagunya. Alih-alih mengikuti jejak Mark Ronson dalam memproduksi lagu, Calvin Harris malah mengikuti jejak duo robot Daft Punk dalam memadukan teknologi baru dan instrumen asli. Sudah banyak video Calvin Harris mencoba-coba berbagai macam instrumen dari synth hingga gitar elektrik yang ada di studionya. Bahkan dalam videoklip “Feels” terlihat jelas Calvin Harris dengan lihai memainkan Ibanez 1200 nya. Funk Wav Bounces Vol.1 adalah distraksi sekejap dari hingar bingar rutinitas untuk menikmati indahnya nuansa musim panas.

 

Continue reading

Apa-apa yang salah dari DC Extended Universe

Saat tulisan ini dibuat, Justice League sudah memasuki masa penayangan di bioskop sekitar satu minggu. Film ini sendiri merupakan film kelima dari installment dalam DC extended universe. Banyak pro dan kontra berhembus sebelum film ini tayang. Bukan hanya karena beberapa film terdahulu dari DC yang mendapatkan mixed reaction di mata kritikus, namun juga karena film ini menjadi penentuan apakah franchise ini akan dapat berjalan kedepannya. Ada beberapa pertanyaan yang mendasar untuk semua kebapukan film DC ini, “What is the problem with these movies?” Beberapa orang mengeluhkan bahwa tone dalam film yang gelap dan muram adalah alasannya. Mereka tidak sepenuhnya salah, tapi bagi saya ada masalah yang jauh lebih besar daripada sekedar overly dark and bleak tone. Bagi saya pribadi, hal ini cukup krusial untuk dibenahi jika DC ingin installment ini berjalan sukses di waktu yang akan datang. Jadi, apakah sebenernya yang membuat beberapa film DC cukup bapuk? Jawabannya adalah…

Wait for it….

It’s the characters, yeah those guys

Sejauh ini dalam DC extended universe (selanjutnya akan disingkat DCEU) tidak ada tokoh dengan karakter yang cukup kuat. Apa itu karakter yang kuat? Yang dimaksud kuat disini adalah karakter dengan motivasi jelas, terus berkembang dan mempunyai sikap. Ok, I know that sounds like pelajaran PPKn jaman baheula, but to be honest, what I defined that sounds like pelajaran PPKn is actually a good reason to care about any of them. DCEU selalu bergantung pada gimmick marketing yang heboh dan kekuatan dari brand DC itu sendiri. Orang-orang akan nonton film Batman just because it’s fuckin Batman. Tapi kalau Warner Brothers ingin terus-terusan mengeruk uang dari para penonton, mereka butuh lebih dari nama besar brand, mereka butuh tokoh yang membuat penonton peduli. Selama ini DCEU berasumsi bahwa kita akan menonton film mereka karena pada dasarnya kita sudah tahu dan mengenal tokohnya. Kita menyukai Batman dan Superman dari komik atau film atau kartun. Agar installment ini dapat berjalan, DCEU membutuhkan sosok Superman dan Batman yang disukai.

This Batman

This Superman

Dan sejauh ini, kita gak suka dengan penokohan mereka berdua.

Jadi gini, ide dari cinematic universe sendiri dasarnya ada pada tokoh yang dicintai penonton sehingga penonton ingin melihat interaksi tokoh tersebut di film yang berbeda. Bandingkan dengan Marvel cinematic universe (MCEU) yang meraih pujian dari berbagai pihak, Why? It’s simple, because people love those characters. Why they love those characters?

Because Marvel did the hard work of developing interesting fully-formed characters that audiences cared about.

Buktinya? Well, you can agree to disagree with me, but here’s the thing.

Saya nonton Suicide Squad pada hari kedua penayangannya. Di film tersebut ada beberapa adegan dimana Batman dan Flash menjadi cameo. Ketika cameo ini muncul, reaksi yang saya rasakan dari bioskop yang full booked itu hanya bisik-bisik gak jelas seperti

“Eh itu The Flash ya?”

“Eh emang itu Ben Affleck ya?”

Sebagai perbandingan, beberapa tahun sebelumnya saya menonton Thor: The Dark World, yang mana film paling segmented dalam MCEU pada saat itu. Tapi saya ingat dimana Captain America muncul menjadi cameo kurang dari 10 detik dan tiba-tiba para penonton bersorak sorai ramai.

Itulah reaksi yang diinginkan oleh Warner Brothers tapi belum berhasil mereka dapatkan.

Continue reading

Made In Jakarta

Siapa suruh datang ke Jakarta, kata mereka. Saya juga bingung, banyak orang kurang suka dengan kota ini. macet, banyak kejahatan, dan lain lain dan kawan kawan, tapi ya mau bagaimana lagi, hanya kota ini yang bisa menaungi kedinamisan saya dan hanya kota inilah yang bisa menghapus rasa cepat bosan saya. Karena nya, saya merasa menjadi manusia. Selalu banyak cerita dari Jakarta. Seperti playlist spesial dari saya untuk ulang tahun Jakarta, beberapa diantaranya mengandung cerita yang akan lebih dahsyat apabila dipadukan dengan nuansa Jakarta.

So, here it is.

1. Adrian Khalif – Made In Jakarta

Berkolaborasi dengan DJ bertalenta dalam negeri, Dipha Barus, Made in Jakarta dari Adrian Khalif berhasil membawa suasana musik yang baru dan segar dengan perpaduan musik hiphop dengan musik EDM yang memberikan vibe yang chill. Sebuah —anthem tentang [hasil] kerja keras dalam mewujudkan mimpi [di Jakarta] hence, Made In Jakarta.

2. Emir Hermono – 3am In Jakarta

At some point in your life you must have been stalking your ex (bf/gf/unfinished business) and reminiscing every moments you had in the past. This song is actually all of the things above, plus point if you ever experienced it in Jakarta, at 3am.

3. Emir Hermono – Cuma Kamu

Perpanjangan dari lagu diatas. Karena apalah artinya cuma ngegalau dini hari tanpa drunk text ke mantan (pacar/gebetan) yang isinya bilang bahwa Jakarta adalah hal yang kusuka nomer dua, setelah senyummu. Ya cuma kamu.

Continue reading

Scaling the Abundance

We love to blame the world, because the world can’t blame us back. Nowadays, we can hear a lot of complaints saying about information overload and the various things about task that we supposed to be responsible for. Like shaking a fist at the sky, we assume there is someone or simply invisible force, willfully putting things in our way. Simply because we feel overwhelmed today, doesn’t mean the information of information is different from how it was one year or 100 years ago. Of course, at the present time life feels more overwhelming. Keeping our goals in focus isn’t easy. But that doesn’t mean, the world or technology is responsible for our problems. Let me put it this way, throughout the history some people have struggled to be creative and to concentrate, while others haven’t found it to be much struggle at all. Why is it different?One thing for sure, technology or volume of published information is not the one you should blame for.

Let’s looking a little further to the past. On the day your great-grandmother was born there were more books in print that she could have read. Did this trouble her? Probably not. The reason we feel overloaded today are the same our ancestors could have given for the book overload they were all born with. Now, let’s reminiscing a little while: Socrates never said “I’d do great work if I didn’t have philosophy overload from hanging out at the agora.” Emily Dickinson didn’t complain of vocabulary overload in the English Language. Picasso, Da Vinci, Tesla and Marie Currie all possessed amazing curiosities and could have been easily distracted away from their work by the abundance of sex, food, conversation, money, news, books, and paintings. Yet they worked. They produced. Van Gogh was mad and starving, and produced. Every generation has had its grand distractions. Our ancestors painted on cave walls for God’s sake, as the struggle for survival didn’t stop their creativity. Bukowski was a drunk and a bum in early sense of the word, yet wrote and wrote and wrote even more. The point being is we have to sacrifice something to create something.

Now the question is, what are we willing to sacrifice to create? If we don’t sacrifice something for our ideas, it’s our ideas that will be sacrificed for us. For our grandparents it was radio. For our parents it was TV. For us it’s the web. For our children it will be something else. There is always justifiable distractions, but history does not give us a pass for the ideas we let ourselves get distracted away from.

Maybe information overload is a myth or maybe it isn’t. My point is that as long as the things that distract us have an ‘off’ switch, the problem isn’t the world, the problem is US. The world, like we have known always had much more information that we can consume, much less understand. The only thing that’s changed is our self-righteous stress in response to it. Let me put this way. Imagine yourself going to music concert;did the hundreds of people in the audience distract you from listening?Or when you go to bookstores;did the many books on the shelves make it impossible to browse for a book you wanted? Let’s go hiking ; would the thousands of plants, trees and insects stress you out? Every abundance things that I have mentioned teach us that our brains are information avoidance machine once you realise the staggering ratio of what is around us compared to what we consciously notice.

We complain that the web is trash, but in the same breath we whine about how it is to turn it off. We crave, we habituate, we justify and we get nervous and uncomfortable when we don’t get our fix. And when we fail and feel bad, we blame the technologies and the world for our problems. We wonder why there is so much information.”Who did this to us” the answer is clearly the person asking the question. We as human being have been disciplined to consume more than we’ll ever need. When it comes to information, we tend to behave the same way: our inboxes and reading lists are several lifetime long, yet everyday we go out and chase more for no good reason at all. It’s a paradox, we fear missing out so much that we create an environment which guarantees we will feel we are missing out. We are compelled to be information fiends, hoarding it, feeling shame over it, feeling dopamine rushes when we capture new batches, conquests that only repeat the same pattern.

I’m a normal human being. Some days are unproductive. No matter how I want to create, work, produce. I just can’t. But I will never blame Twitter, Facebook, Netflix or a phone, for the same reasons I would never blame the sky. It’s up to me to gain control over mind. The world and technology in it has never been a problem. It’s the willingness to work over months, years to make our mind an ally in our pursuits and not an adversary.

So stand up dude. When you stand, you’ll discover you’ve been ‘drowning’ in a kiddie pool of information all along.

Peace out✌️

Dua puluh enam yang belum padam

Kemarin tanggal 18 Februari saya baru saja merayakan ulang tahun. Menurut perhitungan tahun masehi, tahun 2017 adalah ulang tahun saya yang ke dua puluh enam. Sebuah milestone terbaru dalam hidup saya. Hidup selama dua puluh enam tahun. Usia dua puluh enam tahun tidaklah se-spesial ketika berusia dua puluh tiga atau dua puluh lima. Blink182 bilang bahwa ‘nobody likes you when you’re 23’ sedangkan artikel-artikel motivasi berpendapat bahwa dua puluh lima merupakan suatu angka sakral dimana kedewasaan dan permasalahan hidup terjadi, hence, quarter life crisis happens. Dua puluh enam bisa dibilang merupakan usia untuk rehat sejenak sembari melihat kebelakang untuk melihat sudah sejauh apa kita melangkah. Walaupun di tiap pertambahan umur memang kita seharusnya melakukan itu semua. Namun di usia dua puluh enam ini kita lebih bisa ‘beristirahat’ karena pressurenya yang tidak setinggi usia-usia lainnya. Beristirahat sembari menata diri untuk terus melanjutkan perjalanan.

Hal pertama yang dua puluh enam ajarkan adalah reminiscence. Karena rasa sakit mungkin akan hilang, luka akan sembuh, tapi dendam dan penyesalan akan selalu ada. Ia abadi, tak peduli sejauh dan secepat apa kamu berlari, sembunyi, dan berkata baik-baik saja. Karenanya, yang bisa kita lakukan hanyalah bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan sampai saat ini. Bersyukur bahwa pada hari ulang tahun ini, masih banyak orang yang peduli dan mendoakanmu. Berbagai macam ucapan saya dapatkan di hari itu, dari mulai ucapan serius nan flattered yang diawali dengan “to the determined person who I’ve ever known”, ucapan penuh pengharapan sekaligus mengingatkan seperti “semoga tetap humble (even you know everything)”, hingga ucapan brengsek dari teman terbaik semacam ini. Oh dan tentu saja sekedar ucapan dan doa-doa templating yang tentunya harus kita amini juga, karena bagaimanapun itu juga sebuah pengharapan untuk kita.

screenshot_20170219-160517-01

Hal kedua yang saya pelajari di umur baru ini adalah keeping up the pace. Orang seringkali berkata “kamu masih 25 tahun, Dan, jalanmu masih panjang.” Oh, how much I hate those words. Saya paham, bagi beberapa orang yang jauh lebih berpengalaman dari saya, saya adalah orang yang sangat grasa-grusu dan terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Tidak ada yang salah dengan nasehat untuk saya tersebut, tentu saja, tapi saya selalu membenci kata “masih“. Sebuah kata penuh jebakan seolah-olah kita punya banyak waktu luang untuk menyelesaikan segala hal.

Sama seperti saya ketika orang-orang berkata perjalanan saya masih jauh, saya sudah 25 tahun, saya masih belum punya hunian tinggal permanen, saya belum punya kendaraan, saya belum punya gelar master, saya belum keliling Indonesia, saya belum bisa bikin perpus mini, saya belum ke luar negeri lagi, saya belum menyelesaikan banyak buku di kamar, saya belum punya gaya hidup sehat dan sederet daftar yang belum saya selesaikan sementara waktu terus berjalan secara linear.

Setidaknya dalam dua tahun terakhir, saya menuliskan satu buah reminder untuk selalu saya pegang dalam melakukan sesuatu, “All we have to decide is what to do with the time that is given us.” Saya cukup kenyang dengan kenyataan bahwa, kematian tidak sejauh itu berjalan dari kita, tidak pernah ada jaminan bahwa hidup saya atau bahkan hidup kita sepanjang apa yang kita bayangkan.

Daftar panjang pencapaian saya masih menunggu untuk saya selesaikan, dan saya sudah berusia 26 tahun.

It was a much simpler time, when what kept me at the night were the monsters under my bed, and not the voices inside my head.

 

Valentine Movie Picks – Cinta Saja Tidak Cukup

Tulisan ini dibuat karena kegabutan pada hari Selasa rasa Jumat. Dimana besok adalah hari libur karena ibukota akan mengadakan what so called pesta demokrasi. Selain itu, ternyata hari ini jatuh di tanggal 14 Februari, tanggal dimana sebagian orang menyebutnya dengan ‘Hari Kasih Sayang’.

Kita bisa saja mendefinisikan apa itu arti kasih sayang dan cinta. Dari yang manis hingga sinis seperti yang dikatakan Don Drapper (selaku anak ahensi) “What you call love was invented by guys like me to sell nylons.” Ya mungkin pengertian ‘cinta’ menurut saya gak se-sinis itu ya, but hey just be realistic you can live your life only with love, don’t you?

Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, inilah beberapa judul film yang menurut penulis bisa menggambarkan situasi diatas atau mungkin bisa memberikan arti tersendiri di hari kasih sayang ini. Tentu saja, rekomendasi saya disertai dengan beberapa patah kata yang terkesan ‘pakar yhaaaaaaa’

 Yaudah. Inilah ~

 

1.Blue Valentine (2010)

Film ini dipilih karena ada unsur kata valentine di dalamnya. Meskipun begitu, film ini tidak melulu bercerita soal perayaan valentine. Dalam Blue Valentine, perjalanan sepasang kekasih digambarkan dengan gamblang dan penuh perjuangan.

Blue Valentine ditampilkan dengan sebuah proses cerita yang membuat setiap penontonnya dapat membandingkan bagaimana kehidupan Dean dan Cindy sebelum dan sesudah pernikahan. Hal ini dilakukan lewat deretan adegan yang melompat antara adegan yang berlangsung di masa sekarang dengan adegan yang berlangsung di masa lalu lewat proses pengeditan yang sangat cerdas. Hasilnya, tiap adegan mampu merangkai tiap aliran emosi dengan sangat baik dan tak pernah kehilangan satupun momen emosional di tiap ceritanya. Tiap emosi ditampilkan saling berlawanan masa-masa bahagia sebelum pernikahan terjadi dan masa-masa depresi ketika pernikahan itu berlangsung yang membuat Blue Valentine begitu nyata dan jujur.

Hasil terbaik itu juga didorong dengan kemampuan dua aktor utamanya, Ryan Gosling dan Michelle Williams. Gosling dan Williams menampilkan karakter mereka dengan chemistry yang tercipta begitu alami. Tampil bersama di sepanjang 112 menit durasi film ini berjalan, Gosling dan Williams merupakan elemen terpenting dalam Blue Valentine dan menjadikan kisah film ini terasa begitu manis pada awalnya, namun begitu menyesakkan dan menyakitkan di bagian lain. Kehadiran mereka juga yang akan membuat Blue Valentine begitu terasa personal bagi beberapa kalangan penontonnya, khususnya ditambah dengan deretan dialog yang begitu terasa puitis dan mendalam, sinematografi yang indah serta deretan lagu-lagu yang mampu meningkatkan setiap tampilan emosi yang ada.

Blue Valentine adalah sebuah gambaran pesimistik mengenai sebuah pernikahan yang menemui jalan buntu dalam perjalanannya. Bukti bahwa cinta aja gak cukup untuk memulai suatu pernikahan.

 

2. Up in The Air (2009)

Siapa bilang cinta tidak bisa salah alamat? Bercerita tentang pria sukses yang tidak bisa membangun sebuah komitmen. Dia membentengi diri bahwa sesungguhnya dia hanya belum menemukan orang yang tepat.

Fokus utama film ini ada pada tokoh Ryan Bingham. Sekilas kita akan melihatnya menjadi sosok yang complicated. Bayangin aja, menjadi seorang flyer yang kerjaannya mecat pegawai lain dan memotivasi dengan teknik-teknik yang lihai. Menjadi seorang motivator dengan kata-kata terkenalnya : “What is in your bag?” – intinya tentang bagaimana melepaskan beban relationship pada tas yang dibawa kemana-mana. Awalnya Ryan adalah tokoh yang happy dengan hidupnya. Dan saya sendiri mikir betapa menyenangkan hidupnya! Bandara sudah menjadi rumah pertamanya, dan itulah real life seorang Ryan Bingham. Tapi pada akhirnya kita akan ikut simpati pada Ryan Bingham ketika ia menyadari betapa banyak hal yang telah ditinggalkannya. Puncaknya ketika ia bukan orang yang ‘exist’ bagi adik perempuannya yang akan menikah. George Clooney sendiri sangat tepat dalam mendalami peran ini. Kita seakan-akan melihat bahwa itu adalah kehidupan nyata dari Clooney.

Ketika Ryan menelepon Alex dan berkata, “I thought I was your real life…”. Kamera kemudian menjauh, menunjukkan Ryan menutup teleponnya dengan sedih pada sebuah jendela dengan lampu remang sedangkan dua jendela di kamar sebelahnya padam. – Saya merasa bisa memahami bahwa untuk pertama kalinya mungkin, Ryan Bingham merasa kesepian. Disitu kita ditampar bahwa cinta aja gak cukup. Apalagi cintanya buat orang yang salah. (ADUH).

3. Real Steel (2011)

Valentine tidak melulu perayaan soal sepasang kekasih dan muda mudi dimabuk asmar. Bisa jadi ia menjelma diantara hubungan bapak dan anak. Real Steel mampu mengemas kisah cinta dalam sebuah keluarga menjadi sangat epik dan mengharukan.

Kekuatan utama film ini adalah karakterisasi dan hubungan antar ayah-anak yang digali dengan baik, semua ini tentu saja berkat chemistry antara Hugh Jackman dan Dakota Goyo yang sangat luar biasa. Bahkan saking intimnya, saya merasa bahwa fokus film ini adalah drama antar ayah dan anak tersebut, sedangkan pertandingan boxing antar robot hanya sebagai selingan ataupun untuk membuat film ini agar tampak lebih orisinil. Kenapa film ini masuk pilihan penulis karena ada salah satu quotesnya yang bagus banget, kayak gini nih

“I want you to fight for me. That’s all I ever wanted.”

Harap diingat, quotenya sendiri dilontarakan dari seorang anak ke ayahnya, tidak untuk dispin jadi isu cinta yang mendayu-dayu. Film ini membuktikan bahwa cinta aja gak cukup, unless you’re Wolverine and have a giant robot.

4. Easy A (2010)

Capek dengan film-film romantis yang melelahkan? Mungkin Easy A bisa menjadi solusinya dengan menyaijkan humor yang segar. Forget about your sweetheart Mia Dolan on La La Land. Emma Stone is the real deal in this movie. While there is nothing to tell about ‘love’ on this movie, but this movie still show us some humor and romantic side. This is another proof that love is not enough, you might need some banter to enjoy it.

5. Smashed (2012)

Smashed adalah sebuah dark-comedy yang sempit, namun bekerja sangat efektif. Sejak awal ia sudah memberikan gambaran dengan jelas pesan yang ingin ia sampaikan, dan mungkin jika dilihat secara sepintas tampak kurang begitu menjanjikan. Tapi ternyata itu justru menjadi sebuah trik dari Ponsoldt untuk menghadirkan kejutan-kejutan yang ia punya. Banyak pelajaran yang terselip manis didalam setiap dialog dari masing-masing karakter miliki, namun sayangnya diletakkan secara implisit.

Sejak awal premis yang tampak kurang meyakinkan justru mampu tampil mengejutkan. Ya, ternyata sang sutradara punya materi yang kuat, dan ia juga mampu menggambarkan dengan baik bahan tersebut sehingga menjadi menarik. Ponsoldt pandai mengatur porsi kehancuran yang film ini punya, memberikannya secara sedikit demi sedikit tanpa menjadikan anda ingat padanya. Hal tersebut disebabkan unsur komedi yang mampu mencuri perhatian dibalik tema gelap tadi. Dark comedy bekerja dengan baik, membentuk banyak momen yang punya kadar lucu cukup tinggi, namun anehnya menjadikan seolah tertahan untuk tertawa lepas dan hanya berhasil tersenyum kecil.

Kunci sukses lainnya adalah para aktor yang sukses tampil memikat. Mary Elizabeth Winstead menggunakan kesempatan yang ia punya dengan tepat. Winstead bersinar. Dari ketika ia menjadi alcoholic, menghadapi suami yang useless karena kerjanya hanya mabuk dan bermain game, ketika ia mencoba berhenti minum, hingga kemudian meledak, semuanya hidup tanpa terlihat dipaksakan. Winstead menjadikan Kate sebuah karakter yang layak untuk mendapatkan simpati dan dukungan. Sebuah skenario nyata bahwa cinta saja tidak cukup. Yang penting sobeeeer ~

Bonus:

Hari untuk Amanda

Sudah jelas kan, karena selalu ada yang lebih seru dibanding yang lebih penting?