Sisi lain manusia dari metafor kebutaan

Blindness

Apa jadinya jika sebuah negeri tanpa nama di landa oleh kebutaan massal ? Kebutaan yang bukan pada umumnya. Karena biasanya orang buta merasakan kegelapan, tapi yang ini beda, para orang buta merasa dihadapan mereka terbentang kabut putih yang tebal dan berkilauan.

Kejadiannya sungguh mendadak. Seorang pengemudi mendapat serangan kebutaan saat ia sedang berada di lampu merah di dalam mobilnya. Seorang pencuri yang memanfaatkan si pemilik mobil tersebut, secara mendadak juga terserang kebutaan. Seorang dokter mata, sehabis ia praktek juga dilanda hal yang sama. Perempuan pelacur pun mengalami juga, saat ia selesai menerima ‘tamu’nya.

Secara cepat buta putih menyebar, menular bagaikan wabah influenza. Tak jelas apa media penularannya yang pasti semua yang berdekatan dengan orang yang buta dipastikan akan tertular. Dalam waktu singkat wabah ini menulari puluhan, hingga ratusan orang dalam kota tersebut. Pemerintah mengantisipasi penularan dengan mengisolasi orang-orang yang telah menjadi buta. Salah satunya ditempatkan dalam sebuah bangunan bekas rumah sakit jiwa dan dijaga secara ketat oleh sepasukan tentara.

Para orang buta yang dikarantina harus mengurus diri mereka sendiri, tak ada petugas medis atau sukarelawan yang menolong mereka. Hanya ada tentara yang bertugas menaruh jatah makanan di gerbang rumah sakit dan menjaga agar para orang buta tak melewati gerbang rumah sakit. Siapapun yang melewati batas yang ditentukan tentara tak segan akan menembaknya.

Hingga pada akhirnya para interniran buta pun menemukan kebebasannya ketika rumah sakit yang menjadi pengurung mereka kebakaran. Namun situasi di luar tak ubahnya seperti di dalam, mereka harus tetap bertahan hidup karena seluruh warga kota menjadi buta. Tak ada pasokan listrik dan air karena semua pengelolanya menjadi buta. Orang-orang buta menjarah toko-toko makanan. Mereka yang tiba-tiba buta ketika berada di tengah jalan tak bisa menemukan dimana rumahnya hingga mereka memasuki rumah siapa saja yang ditemuinya. Tak adanya air membuat para orang buta membuang hajat dimana-mana. Jalanan penuh dengan tahi-tahi yang telah menjadi lumpur. Mayat berserakan di jalanan tanpa ada yang bisa menguburnya, beberapa dimakan anjing-anjing yang kelaparan, pembusukan terjadi dimana-mana. Kota dipenuhi ancaman wabah penyakit akibat udara yang tidak higenis.

Jelas kebahagiaan bukan tujuan dari novel karangan Jose Saramago ini. Semua yang tertulis di novel ini sangat kelam dan gelap. Uniknya lagi pembaca tidak perlu dipusingkan dengan menghapal nama-nama yang ada. Dengan hal tersebut,maka Jose Saramago tidak memberi celah pada pembaca untuk menduga-duga penjelasan medis yang terjadi. Selain itu peristiwa demi peristiwa yang terjadi dan dialog-dialog antar tokohnya tak sekedar mengumbar kesuraman saja melainkan memaparkan makna perjuangan hidup, menohok sisi kemanusiaan kita, hingga menukik ke dalam esensi kehidupan dan kematian.

Buku ini jelaslah menggambarkan suatu keadaan chaos yang menimpa sebuah negeri tak bernama dan menimbulkan kengerian akan bayangkan apabila benar-benar terjadi

 

Chaos is merely order waiting to be deciphered

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s