Fragmen Lirik Satu Fase

Robert Burton seorang satiris yang menyebalkan dan juga penulis buku Anatomy of Melancholy mencoba menjelaskan melankolia dari berbagai perspektif pengetahuan. Di sana dijelaskan bahwa kehilangan tidak melulu soal luka. Ia adalah pernyataan cinta yang detil namun dalam satu waktu keruh. Sebuah hal yang selama ini seolah kita ketahui tapi tak pernah benar-benar kita pahami dengan utuh.

Aku pernah merasakan kehilangan yang semacam itu. Kehilangan yang terlalu prosais untuk bisa diterjemahkan dalam kata-kata. Bukan saja akan hiperbolis namun juga terlalu melankolis. Seolah-olah kehilangan yang aku rasakan adalah yang paling hebat. Yang paling puncak sehingga penderitaan lain menjadi kurang penting. Atau meminjam bait puisi yang digunakan Chairil Anwar “dan duka maha tuan bertahta”.

Tapi bukan tentang kesedihan yang ingin aku bagi di sini.,perihal kenangan dan cerita yang dulu pernah kita lalui. Tapi semua itu tak penting bukan? Iya dong. Masa aku harus melulu bercerita soal kekecewaan? Tentang penolakan dan kisah-kisah yang luput dan urung kita ceritakan? Tapi ada baiknya kita bercerita tentang Allegri Dante, penyair masyur Italia, pengarang puisi epik Divine Comedy. Ia yang seumur hidup jatuh cinta sekali, terpaksa harus gigit jari karena si kekasih itu rupanya memutuskan untuk mencintai orang lain. Dalam kesedihan ia menuliskan sajak-sajak Purgatory yang terkenal itu. Ia adalah contoh manusia yang berpikir bahwa kehilangan tak mesti harus menjadikan manusia terpuruk. Lebih dari itu ia menjadi legenda karena puisinya.

Kehilangan selalu intim. Ia melekat pada benda atau sajak atau bunyi atau apapun yang jamak namun hanya si empu kehilangan itu yang bisa merasakan derit perih ketika potongan masa lampau hadir. Seperti dalam lagu yang kita dengar. Seperti berbaris sajak   yang membawaku pada satu fiksi yang sumbing. Pada akhirnya yang tersisa hanya kesunyian. Sebelum berakhir kesunyian,marilah kita tengok kembali mixtape yang merupakan narasi pengingat bahwa kita pernah ada dalam satu fase yang sama.

Nah dalam lagu ini ada  lagu yang kupilih berdasarkan narasi dari cerita pertemuan hingga perpisahan kita. Eh aku lupa, percuma bicara tentang kenangan denganmu yang sudah jadi milik orang lain. Kukira aku menyusun ini secara impulsif berdasarkan fragmen lirik atau musikalitas mereka saja. Kau tentu setuju bukan?

Mixtape ini dimulai dengan lagu milik Monita Tahalea yang berjudul I Love You. Lirik lagu ini kukira cocok sekali untuk mengenang masa dimana kita (masih) sama-sama kasmaran dan tidak memikirkan apa yang terjadi selanjutnya. It’s only you and me vs the world.

Lagu kedua adalah the sound of settling dari Death Cab For Cutie. Ini tentang masa muda yang lampau. Lagi-lagi tentang ingatan ya? Iya aku tak konsisten. Tapi coba dengar lagu ini “Our youth is fleeting, Old age is just around the bend. And I can’t wait to go gray.” Ia bercerita tentang masa depan yang akan datang. Entah kau akan menyentuhnya, menghadapinya atau bahkan sembunyi darinya. Bukankah hidup hanya perkara menunda keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasar?

Setelah kita berandai-andai tentang masa depan yang akan kita lalui bersama,tetap saja ada perasaan ragu yang menyergap salah satu dari kita. Maka dari itu kita tampilkan Adele dengan Chasing Pavementnya, sebuah lagu manis yang berulang kali mengatakan apakah sebuah hubungan ini akan menuju ke sesuatu yang berarti.

Keraguan itu pun makin menjadi,salah satu dari kita akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa hubungan ini tidak layak dan memang tidak sepatutnya dilanjutkan.  Coba tengok lirik dari Can’t Finish What You Started yang dibawakan oleh Motion City Soundtrack , “Every story needs an ending, after all ” 

Masih belum bisa menerima kenyataan kalau dia sudah meninggalkanmu dan kamu masih berharap dia bersamamu? Tenang, The Morning After siap menemaninya dengan tembang yang berjudul Stay For A While. Simaklah liriknya yang berkata ‘”Someday you’ll believe that I’m sincere. When everything begins to dissapear”

Dini Budiayu dengan I Loved You Too Much memang menjadi pengganjal kamu untuk bisa bergegas. Bagaimana tidak?lagunya sendiri bercerita tentang perasaan cinta yang begitu dalam terhadap seseorang sehingga mustahil untuk bisa melupakan sebuah kebersamaan yang lekat dalam tempo yang singkat.

Disaat kamu sedang kehilangan dan melihat dirinya telah bahagia,merasa dendam untuk membalas rasa sakitmu. The Beatles selalu berhasil menenangkanmu dengan lagu Let It Be nya. Lagu ini memang soal membiarkan apa yang sudah berlalu biarlah berlalu. “Let it be let it be let it be let it be ~”

Terkadang kamu berpikir untuk melanjutkan hidupmu dengan orang lain,tidak jarang juga kamu masih membayangkan untuk bisa bersamanya. Seperti yang John Legend bilang, “We’re just ordinary people,maybe we should take it slow” disambung dengan “maybe you’ll stay,maybe you’ll leave, maybe you’ll return” . Ah tak apalah, toh kita juga masih manusia biasa dengan segala ketidak-konsistenan-nya

Akhirnya mungkin kamu akan sadar bahwa perpisahan bisa jadi tidak begitu menyakitkan dengan lagu Last Goodbye dari  Jeff Buckley, dengan suaranya yang lembut itu adalah pengiring perpisahan yang indah . Kamu akan menyimpan ceritamu untuk dirimu sendiri. sementara ceritaku akan selesai sampai di sini. Buat apa mengingat hal yang hanya akan membuat kita luka? Tak ada penyesalan. Tidak ada ratapan. “This is our last goodbye / I hate to feel the love between us die.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s