[Review] Eleanor & Park

Tolong perhatiannya, disini akan ada spoilers tentang isi buku. Major spoilers actually.You’ve been warned

 

Baru sempat membuak laptop untuk menulis sebuah review buku yang ditamatin kira-kira dua bulan lalu. Menahan sensasi nyeri hati setelah membaca buku ini bukanlah perkara mudah. Terutama ketika kalimat pamungkas pereda nyerinya berbunyi “Just three words long.” Rasa-rasanya Rainbow Rowell telah membangkitkan perasaan pembacanya untuk menulis sebuah novel yang bahkan mereka tidak sadar mempunyainya. Saya menyukai buku ini,buku ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilupakan (setidaknya daam waktu dekat). Untuk menulis review inipun akhirnya saya kebali membuka halaman-halaman didalamnya untuk menajamkan kritik saya terhadap buku ini. Well, let’s delve into this book,shall we?

The Review

Rainbow Rowell menarasikan novel ini dengan menggunakan POV orang ketiga terbatas dimana kalimatnya memiliki tempo yang cerdas dan cepat,semacam punchline musikalitas. Rowell sendiri banyak menggunakan quote-quote dari era 86an seperti The Cure,Star Wars dan komik Marvel. Sebagai narator yang menggunakan orang ketiga terbatas,Rowell juga mengembangkan metafora budaya pop. Seperti yang tersaji dalam setelah Eleanor pergi ke rumah Park dan melihat kesempurnaan rumah tangga disana dan Eleanor menyadari bahwa keluarganya tidak bisa sesempurna itu.

Karakter yang berbicara seperti ini juga bisa kita temui dalam narasi film seperti Juno, 500 Days of Summer hingga Dawson’s Creek. Sangat penting untuk diingat bahwa cara bicara Rowell sebagai narator dan tokoh-tokoh didalam karakternya mempunyai perbedaan yang signifikan. Tokoh-tokohnya menggunakan bahasa anak muda yang seperti ‘You know’ dan ‘Like…’ . Sebagai pembaca, mudah untuk percaya bahwa Eleanor dan Park mungkin ada di dunia nyata. Mereka diciptakan dengan konsisten dan otentik oleh Rowell. Pada awal hubungan mereka Park mengatakan bahwa Eleanor adalah orang yang sedikit rasis dan selalu tampak marah. Pesimisme dan sarkasme Eleanor gunakan untuk menjauhkan dirinya dari Park. Tapi pada akhirnya she finally breaks down and tells him how much she needs him, that she feels like she isn’t living when he’s not around. Pengembangan karakter yang terjadi disajikan sangat detail dalam bentuk teks.

Ketika novelnya mulai melompat lompat dan mulai membuat rasa nyeri di hati,mungkin memang sudah saatnya anda mulai berpikir untuk menamatkan buku ini. Walaupun Eleanor & Park terlihat seperti novel bergenre YA yang cukup dangkal,tapi saya pribadi akan tetap memasukannya dalam list ‘ Heartwrenching Books That I Read on 2014′

The Quotes

“I love you,” he said.

She looked up at him, her eyes shiny and black, then looked away. “I know,” she said …

“You know?” he repeated. She smiled, so he kissed her. “You’re not the Han Solo in this relationship, you know.”

“I’m totally Han Solo,” she whispered. …

“Well, I’m not Princess Leia,” he said.

“Don’t get so hung up on gender roles,” Eleanor said. …

“You can be Han Solo,” he said, kissing her throat. “And I’ll be Boba Fett. I’ll cross the sky for you.”

—–

“Eleanor was right. She never looked nice. She looked like art, and art wasn’t supposed to look nice; it was supposed to make you feel something.”

—–

“…and his eyes were so green they could turn carbon dioxide into oxygen.”

——

“Can’t you just like a girl who likes you back?’
‘None of them likes me back. I may as well like the one I really want.”

—–

“She couldn’t repay him. She couldn’t even appropriately thank him. How can you thank someone for the Cure? Or the X-Men? Sometimes it felt like she’d always be in his debt.

And then she realized that Park didn’t know about the Beatles.”

—–

“Nothing before you counts,” he said. “And I can’t even imagine an after.” 

—–

“There’s no reason to think we’re going to stop loving each other,’ he said. ‘And there’s every reason to think that we won’t.” 

Final Verdict

Of course, Rowell’s not just talking about the bands and comics. Park’s easy ability to share his passions with Eleanor actually feeds into her insecurity, but a little bit slips away when she realizes that she does have a passion to give to him. Sharing music they love is just the opening act to their eventual emotional and physical intimacy. The desire to give something of yourself to someone, to influence them, to change their life in the way they’ve changed yours: this is one of the most important ideas in the novel. Because yes, first love almost never lasts, but when two people affect each other the way that Eleanor and Park do, there is nothing that lasts longer.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s