[Review] The Fault in Our Stars

“Some infinites are bigger than other infinites.”

 

Awalnya review ini mau saya tulis di blog film Cameovies, tetapi akhirnya saya mengurungkan niat tersebut karena review ini sedikit banyak mengandung personal note  dan bukan hanya filmnya saja yang akan saya review,tetapi bukunya juga. Saya membaca bukunya sekitar pertengahan tahun 2013,padahal buku ini sendiri sudah mulai terdengar gaungnya di tahun 2012 ya gak apa-apa lah telat-telat dikit,itung itung bisa liat review-reviewnya dulu.

Nah berbicara soal bukunya sendiri, The Fault In Our Stars, selanjutnya saya singkat saja TFIOS juga punya rating yang termasuk top atau elit di goodreads, ratingnya yaitu 4.5 dari 390.000 users lebih. So, I’m curious to read it.

Setelah saya searching sekilas, ternyata TFIOS itu berkisar tentang kanker. Hmmmm, sejujurnya buku yang membahas tentang penyakit, apalagi kanker, bukanlah buku favorit saya. Karena: 1. Saya memang tidak suka tema serius yang bisa bikin sedih atau depresi. Karena bagi saya, baca buku itu untuk escapism alias senang-senang dari dunia yang terkadang tidak menyenangkan, jadi mengapa memilih tema yang justru bikin sedih. 2. Beberapa orang yang saya kenal, banyak yang kalah dan meninggal saat berjuang melawan penyakit itu. Jadi saya tidak mau mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukan oleh penyakit tersebut. Tapi, karena rating dan puja-puji itu plus banyak remaja yang suka dengan buku yang bertema serius ini, saya penasaran juga. Apa sih yang membuatnya begitu spesial dan istimewa dibanding buku-buku bertema sejenis lainnya.

The Story

Hazel Grace, seorang remaja berusia 16 tahun yang divonis menderita kanker tiroid. Penyakit tersebut juga telah menyebar ke paru-parunya yang membuat Hazel sulit bernafas dan terpaksa mengenakan alat bantu pernafasan berupa selang dan tabung oksigen yang harus dibawa kemana pun Hazel pergi.

Saat menghadiri pertemuan anak-anak penderita kanker, Hazel bertemu dengan Augustus Waters, sesama penderita kanker juga, yaitu osteosarkoma yang telah membuat Augustus kehilangan satu kakinya. Augustus yang tampan dan selalu bersikap positif membuat Hazel jatuh cinta padanya.

Let's throw some eggs

Let’s throw some eggs

Augustus meyakinkan Hazel, bahwa ia bisa pergi ke Amsterdam untuk bertemu dengan penulis favorit Hazel, yaitu Peter Van Houten. Bersama-sama Hazel dan Augustus mencari jalan untuk bisa mewujudkan keinginan tersebut.

jadi bagaimana caranya Hazel dan Augustus bertemu dengan Peter Van Houten?

My Verdict on Both Book and Movie

So, is it true? Is it true, this is tearjerker book as they said? Well, maybe the answer is depend on your mood when you read it. I’m not cry but almost cry and I feel so sad while I close the book. I always say that I love the book about star crossed-lovers, but I correct it. No, I don’t like if the star crossed-lovers such as illness played in the book. Because I know the ending usually sad and tragic and it just remind me that’s how real life could be. But we must face it.

Saya sendiri kurang begitu trenyuh ya membaca bukunya,karena mungkin faktor umur yang membuat saya lebih bitter realistis dalam menyikapi hidup ini. Penokohannya juga terkesan seragam,hampir semua tokohnya diceritakan mempunyai sifat sebaik malaikat,oh c’mon this is not wonderland and we’re not alice.

Now back to the movies, meminjam sebuah kata dari rekan saya, The Fault in Our Stars adalah film yang segmented. Ini bukan sebuah komedi drama dengan roman di antara dua remaja yang mudah untuk diterima seperti The Perks of Being a Wallflower. Memang sih dengan latar cerita yang sudah gelap itu gampang buat Josh Boone untuk menyentuh lalu kemudian mengaduk-aduk emosi para penontonnya dengan hasil akhir linangan air mata, apalagi ia juga punya naskah yang setia banget dengan novel milik John Green itu. Tapi ini masalahnya, bagaimana dengan mereka yang belum membaca novelnya? Sayangnya cerita yang ditulis ulang oleh Scott Neustadter dan Michael H. Weber ini terlalu khusus, tidak umum.

The Fault in Our Stars memang mengandalkan banget gimana penonton menaruh simpati mereka pada masalah dan juga karakter. Meskipun dengan segala melodrama itu mereka tidak jatuh menjadi kisah yang super murahan, tetap saja The Fault in Our Stars akan menghasilkan dua sisi berlawanan, seperti pengalaman saya pada suatu adegan yang dapat mendengar isak tangis di kursi depan penonton, tapi dibelakang ada penonton yang berusaha menahan tawa mereka. Tidak heran sih mungkin karena pengaruh dari beberapa bagian yang memang terasa kosong dan hambar, meskipun dari chemistry antara dua karakter utama cukup meyakinkan dan berimbang, Woodley berhasil membuat kita luluh bersama masalahnya, tapi Elgort terasa terlalu manis. Satu-satunya adegan yang memang menjadi tearjerker untuk saya pribadi adalah ketika ayah dari Augustus mengeluarkan kursi roda dari mobil. Well, disitu saya tau sekali rasanya karena beberapa bulan yang lalu saya melakukan hal yang sama untuk ibu saya (yang didiagnosa menderita kanker juga). Adegan tersebut seolah-olah membalikan ekspektasi saya yang terlanjur rendah untuk film ini. Iya,disana saya baru merasa kalau film ini ‘hidup’

Dibalik segala plus dan minus yang ia miliki The Fault in Our Stars berhasil menjalankan tugas utamanya sebagai sebuah tearjerker yang efektif. Intensitas yang ia punya memang sih sedikit jauh dari harapan, tapi ada pesona yang lembut dengan perpaduan rasa sakit dan juga gairah pada inti cerita, cinta sejati. Tidak ada yang special dari cara ia diarahkan, tapi dengan akting yang baik serta script yang “bagus” dan “setia” The Fault in Our Stars berhasil berubah dari kumpulan kalimat kedalam bentuk gambar dengan permainan emosi manipulatif yang menyenangkan. Film yang mampu menyentuh dan mempermainkan emosi adalah film yang bagus buat saya. It’ll easily touch womens heart.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s