Soundsfair, sounds…..fair?

Soundsfair adalah sebuah perhelatan musik dan pameran seni yang diadakan oleh Java Festival Production. Konsep awalnya adalah menggabungkan dua festival musik besar (Java Rockingland dan Java Soulnation) sekaligus eksibisi pameran seni didalamnya. Untuk perhelatannya yang pertama kali ini,Java Festival Production menghadirkan sederet artis kelas wahid mancanegara dari mulai Magic! hingga The Jacksons. Festival ini diselenggarakan selama 3 hari di hall JCC yang disulap menjadi beberapa panggung dengan kualitas lighting dan sound yang tidak diragukan lagi kedahsyatannya.

Saya sendiri hanya sempat datang pada perhelatannya di hari Minggu karena memang saya berniat untuk menonton aksi dari The Jacksons dan Yuna. Penyanyi yang saya sebut terakhir merupakan penyanyi berkebangsaan Malaysia yang tahun kemarin baru saja merilis debut albumnya dibawah naungan Verve Records yang merupakan anak dari record label kenamaan Universal Music Group.Albumnya sendiri masuk dalam nominasi Best Album World Music Award.

Berbekal kamera SLR dan tiket yang didapatkan dari agan-agan di Kaskus,berangkatlah saya menuju JCC pada hari Minggu. Sesampainya disana saya cukup bingung karena minimnya petunjuk arah dan jadwal masing-masing panggung. Panggung yang pertama saya tuju adalah panggung Demajors  yang letaknya ada di basement. Peformance pembuka dari panggung Demajors adalah seorang bedroom singer yang sudah cukup berumur dengan alunan gitarnya yang sangat menyentuh hati,yap siapa lagi kalau bukan Adhitia Sofyan.

Surprise surprise,ternyata panggung yang disediakan oleh Demajors cukup mendukung untuk menikmati peformance Adhitia Sofyan sambil ndusel ndusel ria. Penonton disediakan tempat untuk menikmati konsernya secara lesehan lengkap dengan bantalnya. Adhitia Sofyan mampu membawakan lagu-lagu hitsnya seperti September, Tokyo Lights Fade Away, In to You hingga Adelaide Sky yang melegenda. Momen yang saya ingat adalah ketika Adhitia Sofyan hendak menyanyikan lagu September,dia bercuap cuap begini, “Ya jadi ini satu lagu tentang dua orang yang saling memadu kasih dalam waktu yang singkat sebelum mereka harus kembali ke pacarnya masing-masing” yang kemudian secara serentak disambut dengan koor “AAAAAWWWW” dari para penontonnya. Ohiya,disini pula mas Adhitia Sofyan mengalami tragedi gitar kebanting. Nah,makanya mas kurang-kuranginlah bikin orang terhanyut .

Adhitia Sofyan

Kelar Adhitia Sofyan,saya melanjutkan dengan penonton penampilan dari Ari Lasso. Tidak banyak yang bisa diceritakan dari Ari Lasso selain suara khasnya yang super dan energik. Mayoritas penonton Ari Lasso adalah om-om dan tante-tante yang sudah berusia matang.Seusai Ari Lasso saya langsung buru-buru menonton Mocca yang sialnya ternyata sudah ketinggalan tiga lagu. Terakhir kali saya nonton Mocca sebelum ini kira-kira tiga tahun yang lalu jadi ya bisa dipastikan saya khidmat sekali bereuni dengan Mocca dan mbak Arina yang terlihat sangat cantik pada malam itu. Ciye

Walaupun masih kurang setengah jam dari penampilan Yuna,saya tidak mau ambil resiko ketinggalan performancenya Yuna maka saya langsung bergegas mencari lounge Garuda dan langsung meringsek kedepan panggung. By I mean depan panggung,it totally in the frontest of the stage. Yuna menggebrak dengan lagu Falling” yang spontan disambut riuh oleh crowd. Berturut-turut dengan kemampuan olah vokal diatas rata-rata Yuna kembali menghebohkan panggung dengan Mountains,I Wanna Go, Deeper Conversations, Decorate. Sebelum menyanyikan Decorate Yuna sempat bercerita bahwa lagu ini merupakan curhatan dari seorang temannya yang belum bisa move on,karena pada akhirnya si teman tersebut percaya bahwa akan datang waktu yang tepat dimana akhirnya mereka bisa bertemu kembali lagi dengan perasaan yang benar-benar baru. Makanya di akhir lirik Decorate “Just come back when you think its time” adalah sebenar-benarnya pedih pada malam itu. Kejutan encore juga terjadi disini,dimana para penonton mengira bahwa konser sudah usai dan tirai telah ditutup,Yuna kembali ke panggung dengan ukulele dan kemudian berdendang

Yuna-1

No SOS needed; no rescuing, she’s fine out there
No SOS needed; no rescuing, she’s fine out there
Yeah, she’s got life in her veins
She don’t need no rescue and she’s okay

Yap, Resccue dari Yuna membuktikan bahwa encore sebuah konser bisa se- menyenangkan ini.

I w

I w

Selesai Yuna,ada Endah N Rhesa dan The S.I.G.I.T yang mampu mengacak-acak crowd dengan gayanya masing-masing. Penampilan The S.I.G.I.T sendiri makin brutal dan ugal-ugalan dari terakhir kali saya melihatnya. Ya makin ala-ala Wolfmother dan Neil Young gitu deh.

Endah&Rhesa

Bad news and good news. Good news,akhirnya tampil juga The Jacksons,bad news, batere kamera habis. Alhasil,tidak ada bukti otentik bahwa saya nonton ‘opa-opa berbaju karnaval jingkrak-jingkrak yang melegenda’. Membuka penampilannya lewat lagu ‘Can You Feel It’, yang membuat para penonton yang hadir malam itu bergoyang. Lalu dilanjut oleh lagu ‘Blame it on The Boogie’, lagu yang diambil dari album ‘Destiny’ yang dirilis pada tahun 1978. Meskipun mereka sudah terlihat menua, tapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk menghibur para fans nya di Jakarta. Mereka masih enerjik! Tak lupa mereka juga membawakan beberapa lagu lainnya seperti, ‘Can’t Let Her Get Away’, Heartbreak Hotel’, dan ‘I Want You Back’, ‘ABC’, ‘Stop the Love You Save’, ‘Dancing Machine’, ‘Never Say Goodbye’, ‘I’ll Be There’ yang di-medley. Sejauh itu, The Jacksons adalah penampil yang paling terbaik selama Soundsfair.

With so many great artist to see and reasonable price,Soundsfair event sounds….fair, right? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s