Kutukan Si Dua Puluh Tiga

Dua puluh tiga adalah sebuah usia yang cukup sakral. Kalau beberapa orang menganggap life begins at 30 dan beberapa orang lagi menganggap bahwa quarter life crisis adalah awal perjalanan hidup namun bagi saya hidup baru terasa ketika usia dua puluh tiga tahun. Hal ini juga didukuung oleh Blink 182 yang dengan gamblang mengatakan bahwa “Nobody likes you when you’re 23” pada lagunya yang berjudul What’s My Age Again. Berikut adalah beberapa alasan saya yang mungkin dapat mewakilkan kaum-kaum twenty three diluar sana yang menganggap bahwa usia dua puluh tiga adalah usia keramat.

Kita adalah generasi dua puluh tiga,yang berkerut pada kursi kantor karena merasa aneh mengenakan baju kerja untuk orang dewasa. Berjalan dengan angkuh menyusuri kota dengan mata menatap kosong pada layar 5 inchi ditangan dengan alasan bahwa kita perlu  memberi makan ego kita. Kita bekerja keras untuk memastikan bahwa gelar sarjana kita tidaklah sia-sia dan menjalin suatu hubungan intens dengan seseorang yang tidak begitu kita cintai hanya untuk justifikasi agar hidup tidak terasa sepi.

Kita adalah generasi dua puluh tiga,dimana hidup terasa lebih pengar dan menyakitkan. Beberapa percakapan sehari-hari kita hanyalah untuk memastikan bahwa hidup kita akan baik-baik saja. Kita merasa bangga apabila salah satu kolega kita bisa mencapai sebuah kesuksesan tapi tidak merasa bangga terhadap diri sendiri. Apabila salah satu kolega kita berhasil memasak makanan yang tingkat kesulitannya melebihi pasta,kita akan bertepuk tangan untuknya namun kita juga dengan keras mengkritik diri sendiri karena belum bisa menghasilkan sebuah karya best-seller atau startup yang ground-breaking .

Kita adalah generasi dua puluh tiga, ketika lagu Taylor Swift menjadi lebih masuk akal dan mendadak kita menjadi terlalu tua untuk sebuah acara kampus. Teman-teman dekat kita bahkan tidak tinggal dalam rumah yang sama,merindukan pulang kerumah pada pukul satu siang,mempunyai beberapa kewajiban sekaligus tetap merasa tertekan dan berharap hidup akan menjadi lebih meyakinkan.

Kita adalah generasi dua puluh tiga, yang harus bertarung mati-matian dengan patah hati. Sosial media memperparah pertarungan kita. Bahkan ketika kita sudah mencoba untuk meng-unfriend atau block orang tersebut,namanya akan tetap muncul pada news feed kita dibawah gambar yang mereka like atau dari mutual-mutual friend kita yang notabene saling mengenal satu sama lain.Kita membenci online dating tapi itulah cara agar kita merasa tidak kesepian,karenanya waktu kita habis untuk swipe left atau swipe right pada Tinder.

Kita adalah generasi dua puluh tiga, mencoba secara konstan untuk berhenti mengeluh dan menikmati hidup. Hidup tidak sepenuhnya buruk. Kita masih mempunyai keluarga serta orang tua yang mendukung aktivitas dan usaha kita. Masih bisa berkumpul bersama teman pada Jumat malam,berpesta hingga lupa waktu tanpa takut penilaian orang terhadap kita. Keriaan tersebut mungkin hanya sesaat,setelahnya kita tetap akan merasa pesimis dan kuatir bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa kita.

Kita adalah generasi dua puluh tiga, terlalu tua untuk keluar setiap malam namun terlalu muda untuk tetap dirumah tanpa melakukan apa-apa. Ingin lebih produktif dan menjadi lebih berarti namun belum menemukan cara yang tepat . Belum mempunyai pasangan hidup,anak ataupun pekerjaan yang mapan menjadikan kita untuk berusaha lebih. Kita tidak begitu menginginkan hal tersebut namun tetap ingin melakukan sesuatu, karenanya kita duduk termenung menonton Luke dan Lorelei berdebat dalam serial Girlmore Girls sembari tetap memelihara kupu-kupu dalam perut.

Kita adalah generasi dua puluh tiga, yang selalu cemas setiap saat karena kita tidak ingin bertambah tua. Kita sudah mencapai titik dimana tidak bisa lagi dikategorikan sebagai anak-anak dan belum mencapai usia berbahagia karena dari studi yang kita baca bahwa orang akan merasa bahagia di usia 30an. Kita mungkin takut,tapi kita generasi dua puluh tiga dan tetap tahu cara bersenang-senang.

Kita adalah generasi dua puluh tiga, mencoba memaafkan diri sendiri karena tidak bisa menjadi seperti Lena Dunham atau Mark Zuckenberg dengan melihat bahwa mereka adalah pengecualian dari kutukan dua puluh tiga. Karena sebagian dari kita menganggap bahwa usia dua puluh tiga merupakan titik dimana keputusan penting diambil, entah kita akan mengambil suatu pekerjaan,menetap pada suatu kota dan mencintai seseorang.

Kita adalah generasi dua puluh tiga, all we want is to understand who we are, and we can’t.

Only time will tell us.

Advertisements

One comment on “Kutukan Si Dua Puluh Tiga

  1. lihazna says:

    kutukan 22 ada juga kan? buatkan kami yg berteriak dibawah naungan angka 22 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s