Damarrama’s Top Albums 2015

Selamat tahun baru. Walaupun 2016 masih terpaut seminggu lagi, tapi kita semua pasti sudah merasakan atmosfir tahun yang baru. Seperti biasa, saya akan menuliskan beberapa album favorit saya sepanjang tahun ini. Mengingat-ingat kembali serta merangkum apa saja rilisan tahun ini yang saya dengarkan. Beruntunglah di jaman yang serba praktis ini sudah ada yang namanya fasilitas streaming musik beserta algortima rekomendasinya. Apapun yang saya dengarkan , besoknya sudah muncul artis yang (menurut algoritmanya) pasti saya suka. Selain itu, layanan streaming musik ini juga sangat membantu untuk tetap up to date dengan rilisan rilisan baru. Yang paling penting adalah semua ini bisa didapatkan dengan gratis dan L E G A L. Terima kasih Spotify dan Deezer (bukan postingan berbayar).

Kembali kepada topik pemilihan rilisan yang saya dengarkan di 2015 ini. Saya sendiri sebenarnya menemukan lebih dari 15 rilisan yang bisa ditulis, namun sepertinya cukup merepotkan juga apabila menulis terlalu banyak. Toh kelima belas rilisan yang saya tulis juga sudah bisa merangkum apa-apa saja yang menjadi favorit saya. Daftar berikut subjektif disusun berdasarkan tingkat kefavoritan, jadi ya udah percaya aja rekomendasi saya bagus. Asli deh.

 

15.   Courtney Bannet – Sometimes I Sit and Think, sometimes I just Sit

Courtney Bannet mencoba menciptakan lagu-lagu yang cukup relate-able dengan kehidupan manusia sekaligus menyenangkan untuk didengarkan. Album ini memberikan perspektif yang jelas kedalam jalan pikiran orang yang tidak tahu apa yang mereka mau. Normal saja kan, Courtney Bennet juga seorang manusia yang tidak perlu tahu segalanya.

14.  Tuxedo – Tuxedo

Semenjak dunia diguncang dengan demam ‘Uptown Funk’ merilis lagu dengan nuansa funk dan disko sepertinya adalah pilihan yang tepat untuk bisa diterima pasar. Melihat celah yang menguntungkan ini, Tuxedo mencoba mengambil alih pasar funk disco dengan merilis album self-titled. Nampaknya grup band besutan Mayer Hawthorne dan juga dibantu produser hip-hop, Jake One ini juga ingin mencicipi buah kesuksesan. Wajar saja jika albumnya terdengar seperti musik daur ulang, karena memang project ini sendiri sudah dimulai dari tahun 2007 dengan visi yang cukup simpel yaitu to make everyone dance. Teknik bass slap dan clapping-clapping yang bertebaran membuat album ini terdengar seksi. Sulit sepertinya membayangkan album yang bercita rasa sleek dan smooth seperti Tuxedo ini akan hadir dalam waktu dekat.

 

13. Troye Sivan – ‘BLUE NEIGHBOURHOOD’

Dalam album debutnya yang berjudul Blue Nighbourhood, Troye Sivan seakan berani untuk mengacaukan persebaran album-album pop sedih yang dikuasai Adele. Musiknya seperti Lana Del Rey, liriknya bijaksana melampaui anak seumurannya. Vokalnya terdengar effortless seperti Ed Sheeran atau Bruno Mars. Dengan melewatkan talenta yang sangat jarang terjadi di dunia musik, apalagi datang dari seorang remaja Australia. Anda akan melewatkan sesuatu yang penting apabila belum mendengarkan album ini.

 

12.   Alabama Shakes – Sound and Color

Sound & Color merupakan rilisan yang berani tapi juga penuh kehati-hatian. Beberapa eksperimen dan resiko, terkadang salah langkah yang diambil sudah diperhitungkan masak-masak oleh Alabama Shakes. Dalam rilisan ini Alabama Shakes menawarkan sebuah musik dengan terobosan terbaru tanpa tendensi untuk mengalienasi yang penuh dengan kejutan.

 

11. Jamie xx – In Colour

Setelah terlalu lama me-remix lagu-lagu Radiohead dan terlibat dalam pembuatan album Drake – Take Care. Jamie xx yang notabene sudah mainan turntable dari usia 10 tahun ; dan kini pada usia 26 tahun ia menciptakan masterpiecenya sendiri. In Colour adalah rilisan fenomenal dengan balutan musik elegan didalamnya.

10. Passion Pit – Kindred

Dengan durasi tidak lebih dari 40 menit, Kindred merupakan rilisan yang penuh dengan dikotomi dalam liriknya. Angelakos menyelesaikan materi album ini sambil berjuang melawan bipolar sindrom yang di deritanya. Ambil contoh lagu “Until We Can’t (Let’s Go)” yang merupakan curahan hati dari Angelakos tentang konsep ‘living very long’ yang menurutnya tidak akan dia alami: settling down , mempunyai anak dan merayakan hari tua dengan bahagia. Atau contoh lain dalam lagu “Looks Like Rain” yang bernuansa dreamy pop ini mengambil sisi optimis dari cerita kelam mengenai kiasan tentang awan hitam yang akan menyelimuti kehidupan kita semua.  Sure, there may be dark clouds overhead on a dreary day, but the water ensures new life can grow. Sekali lagi, Angelakos sukses mengolah pengalaman kelam tentang dirinya menjadi sebuah album pop yang powerful.

9. Brandon Flowers – The Desired Effect

Mr Brightside yang satu ini memang tidak diragukan lagi dalam kancah dunia permusikan. Selain tampan dan pembawaannya yang taat beragama ini saya bercita-cita kalau sudah besar ingin menjadi Brandon Flowers  menjadi Midas bagi apapun yang disentuhnya. Kalian tidak akan bisa menebak apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Brandon Flowers sebelum membaca apa yang dia buat diantara lirik-liriknya. Daripada membuat formula musik yang itu-itu saja dari tahun-tahun sebelumnya, Brandon Flowers membuat sesuatu yang baru setiap saat. That you imagine, is not quite the desired effect (pun intended).

8.  CHVRCHES – Every Open Eye

Kesuksesan debut CHVRCHES  dengan album “The Bones of What You Believe” sepertinya membuat mereka terlena. Album Every Open Eye ini sendiri menurut saya seperti ‘deflated beach ball’, banyak warna, tambalan dan pemanis disana-sini namun pada akhirnya mereka tidak melakukan suatu gebrakan baru. Begitulah industri musik, ketika mereka membuat hal yang relatif sama maka akan dianggap salah, ketika melakukan gebrakan baru juga dianggap salah. Terus dalam kasus CHVRCHES ini siapa dong yang paling bener? Mayberry. Untuk review lebih mendalam bisa dilihat di Houtskools.

7. Tame Impala – Currents

Band yang satu ini pasti sudah tidak asing di kalangan hipster-hipster era 2012an. Dengan album sebelumnya yang bertajuk “Lonerism” dengan hits single Elephant yang sangat catchy, sampai-sampai mungkin kalian kepikiran membeli Blackbery setelah mendengarkan lagu tersebut, kali ini Tame Impala kembali merilis album yang tidak-beigtu-catchy-namun-mempunyai-hook-yang kuat. Perbedaan paling mendasar antara kedua album tersebut adalah : Lonerism merupakan album yang cocok didengarkan selagi jalan, sedangkan Currents merupakan album yang cocok didengarkan ketika kita sedang duduk dalam gelap dan kesendirian sembari merenung. Album ini juga mempunyai wasiat bahwa untuk menemukan kedamaian kita harus menemukannya sendiri dalam diri kita.

6. Silampukau – Dosa , Kota, dan Kenangan

Silampukau mengambil hati saya sejak lagu Doa 1 dengan lirik potogan lirik “Duh gusti aku kesasar di jalur Indie, terima sablon kaos dan kadang gantungan kunci.”  Musik Silampukau adalah folk. Lengkap dengan gitar akustik, ukulele, harmoni vokal penuh karakter dan lagu-lagu melodius yang bagus. Lirik dan kisah-kisah tentang Surabaya lebih berkuasa ketimbang musiknya. Hal yang menarik dalam album Silampukau ini juga ada pada pemilihan liriknya. Tengoklah dalam lagu Si Pelanggan yang bercerita tentang kawasan Dolly. Pilihan kata yang mereka terapkan di lagu ini seolah membangun sebuah konstruksi sejarah dan masa kini untuk melihat persoalan dari kacamata yang lebih general. Membenturkan kata kafir dan frase krat-krat bir sudah barang tentu jadi serangan dahsyat untuk kenyataan. Tapi lihat lagi premis lain yang mengikuti; cinta tidak mesti merana dan banyak biaya, suaka bagi hati yang terluka, hidup yang celaka atau tempat mentari sengaja ditunda. Deretan yang lumayan panjang itu, tentu tidak bisa dipandang dengan kacamata moral semata, kan? Pamungkas album ini sendiri ada pada lagu Malam Jatuh di Surabaya. Kata mereka, “Tuhan kalah di riuh jalan.” Sebuah kalimat penuh tenaga yang buat saya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, karena ia telah menjadi kesimpulan paling penting dari Dosa, Kota dan Kenangan. Akhir kata , maju terus Silampukau semoga tidak berubah murahan seperti Ahmad Dha…

5. Barasuara – Taifun

Taifun adalah album rock paling lengkap yang dirilis tahun ini. Adalah sebuah album yang dikerjakan selama 3 tahun oleh supergroup bernama Barasuara yang tampaknya sudah menepati hype yang mereka dapat selama ini. Setiap lagu yang ada di Taifun seperti sebuah soundtrack entah itu pada fase pencarian jati diri, berusaha bangkit lagi dari kegagalan, atau meninggalkan masa lalu yang kelam. Dengarkan saja “Menunggang Badai”, “Tarintih” dan “Mengunci Ingatan” maka layar film kehidupan di otak kita masing-masing akan memilik isoundtrack terbarunya diiringi lagu-lagu Barasuara. Barasuara akan memporak-porandakan jiwa kalian dan memberikan telinga kalian sesuatu yang baru untuk didengar, yang akan memberikan kita semua sebuah awal baru di bawah langit yang sama. Seperti taifun.

4. Carly Rae Jepsen – E•MO•TION

Album pop terbaik tahun 2015. Carly Rae Jepsen membuktikan bahwa dirinya bukan hanya sekedar one hit wonder kacangan. Produksi yang rapi, lirik yang gampang  dicerna dan irama ceria yang akan membuat album ini really really really really disukai. Sudah pernah saya review di Houtskools.

Capek ya? Tenang, sebentar lagi kita akan memasuki area 3 besar. Siapa-siapa saja yang akan masuk top-list ini?tetap ikuti tulisan ini ya

3. Alessia Cara – Know-It-All

Setiap orang pasti pernah mengalami fase beranjak dewasa atau biasa disebut masa-masa remaja. Beberapa diantara kita mungkin mengalaminya dengan susah payah. Alessia Cara, penyanyi berusia 19 tahun yang mengukuhkan dirinya sebagai antisocial pessimist bercerita banyak tentang fase beranjak dewasa yang sebagai pemberontak dan bahwa pesta tidak melulu membawa kesenangan dalam debut albumnya yang bertajuk Know-It-All. Karakter vokal yang kuat yang mengingatkan kita akan Amy Winehouse berhasil menyedot perhatian publik. Selain karakter vokal yang kuat, Cara juga dikenal sebagai pembuat lirik yang jempolan. Soal pengalaman juga Alessia Cara tidak ketinggalan, ia sudah pernah ikut Taylor Swift dalam  “1989 World Tour”, tampil di hadapan 55.000 orang yang tidak menjadi masalah untuknya. Album ini dibuka dengan lagu Seventeen yang bercerita bahwa dia berharap untuk selamanya berusia 17 tahun tanpa harus menjadi dewasa. Four Pink Walls menjadi track yang menonjolkan kebintangan dengan instrumen yang njelimet dan vokal yang tidak sembarangan dari Alessia Cara. Lirik paling menohok terdapat pada lagu ‘Wild Things’ yang berbunyi “Don’t wanna hang around the in crowd/ The cool kids aren’t cool to me/ They’re not cooler than we are.”  Lagu penutup yang berjudul “Scars To Your Beautiful” bercerita tentang bagaimana wanita kebanyakan tertekan dengan pengaruh body image. Cara dengan apik dapat membantahnya bahwa menjadi cantik adalah hak semua orang.

Layaknya Lorde dua tahun lalu, Alessia Cara mampu menangkap emosi remaja seusianya dan mengolahnya menjadi sebuah karya yang bertengger di Top 40. Mungkin Alessia Cara belum menyadari bahwa sekarang dia termasuk dalam jajaran Cool Kids yang know-it-all

2.  The Weeknd – Beauty Behind The Madness

Abel Tesfaye atau yang lebih dikenal dengan nama The Weeknd memang belakangan ini banyak menjadi perbincangan. Entah dari model rambutnya atau dari cengkok soulful-nya yang menghanyutkan. Lagu-lagunya banyak bercerita tentang bagaimana cinta bisa menjadi pedang bermata dua, menyembuhkan sekaligus menyakitkan. Bukan itu saja, lirik dan videoklipnya juga rata-rata cukup ‘nakal’ . Keduanya benar-benar terikat secara emosional. Kekuatan vokal Tesfaye melebur dalam barisan lirik yang bertutur. Ada kandungan kisah di sana, ada jalinan plot yang menggiring rasa penasaran. Sebagai album yang cukup kohesif dan menghanyutkan, BBTM ini paling cocok didengarkan dalam keadaan setengah mabuk sembari ada yang melakukan lap-dance di depan anda. Karena pada akhirnya Abel Tesfaye adalah young God yang can make that pussy rain. Often.

1. Kendrick Lamar – To Pimp A Butterfly

Terimakasih album ini telah mengingatkan kita bahwa Amerika masa kini masih berkutat seputar isu rasial. Warna suaranya yang bertekstur cempreng dan khas itu bercerita bahwa African-American disana masih sering mengalami perlakuan diskriminasi. To Pimp a Butterfly merupakan sebuah album yang mengejutkan, menginspirasi dan masih tetap dapat menghibur, suatu rilisan yang tepat untuk menutup daftar terfavorit Masdan tahun 2015 ini.

Honorable Mentions :

Justin Bieber – Purpose

Sempat bingung juga awalnya album ini akan ditempatkan dimana. Dimasukin kedalam urutan rilisan terfavorit jelas akan mencoreng nama saya yang jelas-jelas cuma mau membahas musik yang cukup obscure. Beruntunglah album dari Bieber ini cukup mengusik perhatian saya sehingga merasa sayang kalau tidak ditulis sedangkan kata-kata di kepala banyak berhamburan untuk ditulis. Akhirnya saya putuskan untuk memasukannya dalam daftar honorable-mentions , yaitu penghargaan spesial yang saya tulis karena cukup menarik perhatian,  memasukan album ini kedalam honorable mentions tidak akan mencoreng nama saya sebagai seorang hipster   saya rasa merupakan win-win solution dimana saya tetap bisa berkomentar tanpa orang lain bisa ngejudge selera musik saya, ya semacam guilty pleasure.

Sebelum mulai menghujat, marilah kita flashback dulu dengan kehadiran Bieber cilik di tahun 2010 dengan suara cemprengnya yang belum akil balig, Bieber mengguncang dunia dengan album My World dan entah berapa juta kali lagu Baby diputar di Youtube. Efek yang ditimbulkan dari Bieber ini sungguh luar biasa, dia yang tadinya bukan siapa-siapa mendadak menjadi superstar dan mungkin beratus ratus juta wanita disana berharap menjadi one less lonely girl-nya Bieber (aha, pun intended).  Fast forward menuju Bieber remaja, fase dimana setengah cowok dunia menjadi benci setengah mati terhadapnya. Dari mulai kelakuan masa puber, DUI (driving under influence), sampai beberapa kali terkena kasus pemukulan paparazi. Sialnya, dengan kelakuan yang ugal-ugalan seperti itu, Bieber tidak mengimbanginya dengan membuat musik yang bagus. Lebih lanjut lagi orang-orang yang benci dengan gampang bilang bahwa Bieber memproduksi musik sampah. Padahal ya….memang jelek sih musik-musik Bieber pada masa remaja itu. Ditambah dengan kelakuannya yang menyebalkan itu.

Tahun berganti tahun, akhirnya di tahun 2015 ini Bieber lebih bisa mengontrol emosinya dan (untungnya) memproduksi kembali musik bagus. Bukan, saya bukan sedang berusaha menjadi Front Pembela Bieber, saya melihat dari kualitas musiknya dengan mengesampingkan faktor-faktor eksternal seperti, apakah dia seorang Justin Bieber? Coba marilah kita tengok album terbarunya yang berjudul Purpose ini. Purpose mungkin bukan sebuah album yang mampu membungkam kritikus tapi jelas ini comeback yang bagus untuk Justin Bieber.

Kalau di tahun 2015 ini masih ada yang asal komentar “Albumnya Justin Bieber yang baru sampah.” Sudah, jangan marah, orang model begituan cuma mengeluarkan isi kepalanya kok. Mereka gak punya kewajiban bersikap objektif soal musik. Tinggalin aja sembari berkata, “What do you mean?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s