Berbasa (yang sangat) basi

Alhamdulillah kita semua masih diberi umur untuk merayakan hari raya Idul Fitri di tahun 2016 ini. Idul Fitri tahun ini memang sudah lewat, namun kesannya masih membekas di pikiran kita; dari mulai repot mudik, bertemu keluarga besar, hingga perasaan tidak rela untuk kembali ke rutinitas setelah sejenak merasakan libur.

Lebaran memang sudah selesai, namun halal-bihalalnya akan segera datang. Bicara halal bihalal pastilah kita akan bicara soal momen reuni dengan berondongan pertanyaan basa (yang terkadang sangat) basi.  Berikut bentuk basa (yang sangat) basi yang terkadang mengusik emosi dan bagaimana cara menghindarinya.

“Kok gemukan/kurusan”

Obrolan seputar berat badan masih terlihat lucu apabila kita masih balita. Indikator balita sehat adalah gemuk, sedangkan kurus adalah kurang gizi. Tapi tahukah kamu, beranjak dewasa gak semua orang suka disinggung masalah berat badannya. Tidak jelas juga siapa yang mempelopori pertanyaan tersebut sebagai pembuka obrolan.

Kita yang disinggung “kok gemukan”, paling paling hanya bisa menimpali “iya nih” sambil tersenyum masam. Tapi tahu gak sih, that girl you called fat she’s starving herself. Atau mungkin kalian mau sok-sokan memuji, “kok kurusan sih” yang mungkin (malah lebih salah) karena mungkin that girl you called skinny she has been losing her weigh for over a year so she can fit into *your* societal imperative according to prejudiced, unhealthy and unrealistic ideal. Menggemuk atau tidak kan hak asasi manusia. Kok kalian yang ngurusin sih? (pun intended)

Ya mungkin memang sudah budaya kita ngomentarin fisik orang lain, kayak gak ada bahasan lain aja. Atau memang gak ada?

“Kerja dimana”

Gak ada yang salah dengan kalimat ini, kalau saja kalian nanya pada orang yang kerja kantoran dan atau berstatys pegawai. Tapi kita hidup di masyarakat heterogen, dimana gak semua orang jadi pegawai. Ada yang menekuni usaha nirlaba, ada yang berdagang, ada yang jadi freelancer atau ada pula yang gak kerja tapi udah kaya raya. Pertanyaan ini sudah jamak terdengar di momen kumpul-kumpul untuk adu gengsi sekaligus kepo mata pencaharian satu sama lainnya.

Pernah ada momen dimana saya nanya gini terus dijawab “Nganggur nih, masih nyari” . Ups, awkward moment deh. Atau kejadian kedua dimana saya nanya hal yang sama kemudian dijawab “Kenapa semua orang nanya gitu, ya? Gue kan enggak kerja, gue peneliti”. Dari situ saya berkesimpulan bahwa tidak semua orang merasa nyaman dengan pertanyaan tersebut. Solusinya adalah dengan merevisinya dengan ‘Lagi sibuk apa?’ karena menurut saya siapapun pasti punya kesibukan walaupun gak kerja.

“Kapan nyusul”

Kata tanya kapan ini masih terdengar oke sampai usia awal 20-an. Dari saat itu kata kapan mempunyai arti tersendiri dibanding kata tanya yang lain. Terlebih kalau pertanyaan ini ditanyakan sewaktu kondangan atau nikahan.

Paling-paling kita yang ditanya cuma bisa cengengesan sambil garuk-garuk kepala berharap ada jawaban di belakang sana. Seberes topik kapan-nyusul-nikah ini akan pula lahir kapan nyusul kapan nyusul lainnya.

Nyatanya, nikah itu beda dengan balapan motor atau F1. Gak ada garis akhir yang seragam untuk tiap-tiap orang. Kalau garis akhirnya saja sudah beda?Ngapain saling salip-menyalip kan? Hanya karena kamu berani nikah di usia belia bukan berarti kita harus nikah tiga milidetik setelahnya kan? Toh juga gak semua orang ingin menikah, bisa aja dia ingin jadi sugar daddy pertapa shaolin di gunung yang jauh dan hidup sendirian kan?

Setiap orang punya ikhtiar tersendiri untuk menyegerakan. Masing-masing punya takdirnya sendiri.

I had a dream talk with God face to face.

He said why people consider life is a race.

While it is actually just a phase.

 

Photo from Stocksnap

Setiap orang akan menikah pada waktu-Nya sejak enggak ada yang tau persis kapan peristiwa-peristiwa penting terjadi di hidup kita. Setiap orang akan menggemuk atau mengurus pada waktunya sejak enggak ada yang pernah tau kapan pola hidup berubah. Setiap orang akan gemilang dengan cara-Nya sejak enggak ada yang pernah tau kemana takdir akan berarah.

Ada sejuta cara mengawali obrolan di momen reuni. Berbasa-basi enggak harus basi karena kesantunan tetap harus diutamakan semenjak yang kita temui adalah makhluk berperasaan. Maka, berkatalah saat memang harus. Lebih baik diam saat ucapan dirasa enggak berdayaguna. Alasannya sederhana.

“Tongue has no bones but it’s strong enough to break heart”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s