Dua puluh enam yang belum padam

Kemarin tanggal 18 Februari saya baru saja merayakan ulang tahun. Menurut perhitungan tahun masehi, tahun 2017 adalah ulang tahun saya yang ke dua puluh enam. Sebuah milestone terbaru dalam hidup saya. Hidup selama dua puluh enam tahun. Usia dua puluh enam tahun tidaklah se-spesial ketika berusia dua puluh tiga atau dua puluh lima. Blink182 bilang bahwa ‘nobody likes you when you’re 23’ sedangkan artikel-artikel motivasi berpendapat bahwa dua puluh lima merupakan suatu angka sakral dimana kedewasaan dan permasalahan hidup terjadi, hence, quarter life crisis happens. Dua puluh enam bisa dibilang merupakan usia untuk rehat sejenak sembari melihat kebelakang untuk melihat sudah sejauh apa kita melangkah. Walaupun di tiap pertambahan umur memang kita seharusnya melakukan itu semua. Namun di usia dua puluh enam ini kita lebih bisa ‘beristirahat’ karena pressurenya yang tidak setinggi usia-usia lainnya. Beristirahat sembari menata diri untuk terus melanjutkan perjalanan.

Hal pertama yang dua puluh enam ajarkan adalah reminiscence. Karena rasa sakit mungkin akan hilang, luka akan sembuh, tapi dendam dan penyesalan akan selalu ada. Ia abadi, tak peduli sejauh dan secepat apa kamu berlari, sembunyi, dan berkata baik-baik saja. Karenanya, yang bisa kita lakukan hanyalah bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan sampai saat ini. Bersyukur bahwa pada hari ulang tahun ini, masih banyak orang yang peduli dan mendoakanmu. Berbagai macam ucapan saya dapatkan di hari itu, dari mulai ucapan serius nan flattered yang diawali dengan “to the determined person who I’ve ever known”, ucapan penuh pengharapan sekaligus mengingatkan seperti “semoga tetap humble (even you know everything)”, hingga ucapan brengsek dari teman terbaik semacam ini. Oh dan tentu saja sekedar ucapan dan doa-doa templating yang tentunya harus kita amini juga, karena bagaimanapun itu juga sebuah pengharapan untuk kita.

screenshot_20170219-160517-01

Hal kedua yang saya pelajari di umur baru ini adalah keeping up the pace. Orang seringkali berkata “kamu masih 25 tahun, Dan, jalanmu masih panjang.” Oh, how much I hate those words. Saya paham, bagi beberapa orang yang jauh lebih berpengalaman dari saya, saya adalah orang yang sangat grasa-grusu dan terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Tidak ada yang salah dengan nasehat untuk saya tersebut, tentu saja, tapi saya selalu membenci kata “masih“. Sebuah kata penuh jebakan seolah-olah kita punya banyak waktu luang untuk menyelesaikan segala hal.

Sama seperti saya ketika orang-orang berkata perjalanan saya masih jauh, saya sudah 25 tahun, saya masih belum punya hunian tinggal permanen, saya belum punya kendaraan, saya belum punya gelar master, saya belum keliling Indonesia, saya belum bisa bikin perpus mini, saya belum ke luar negeri lagi, saya belum menyelesaikan banyak buku di kamar, saya belum punya gaya hidup sehat dan sederet daftar yang belum saya selesaikan sementara waktu terus berjalan secara linear.

Setidaknya dalam dua tahun terakhir, saya menuliskan satu buah reminder untuk selalu saya pegang dalam melakukan sesuatu, “All we have to decide is what to do with the time that is given us.” Saya cukup kenyang dengan kenyataan bahwa, kematian tidak sejauh itu berjalan dari kita, tidak pernah ada jaminan bahwa hidup saya atau bahkan hidup kita sepanjang apa yang kita bayangkan.

Daftar panjang pencapaian saya masih menunggu untuk saya selesaikan, dan saya sudah berusia 26 tahun.

It was a much simpler time, when what kept me at the night were the monsters under my bed, and not the voices inside my head.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s