Apa-apa yang salah dari DC Extended Universe

Saat tulisan ini dibuat, Justice League sudah memasuki masa penayangan di bioskop sekitar satu minggu. Film ini sendiri merupakan film kelima dari installment dalam DC extended universe. Banyak pro dan kontra berhembus sebelum film ini tayang. Bukan hanya karena beberapa film terdahulu dari DC yang mendapatkan mixed reaction di mata kritikus, namun juga karena film ini menjadi penentuan apakah franchise ini akan dapat berjalan kedepannya. Ada beberapa pertanyaan yang mendasar untuk semua kebapukan film DC ini, “What is the problem with these movies?” Beberapa orang mengeluhkan bahwa tone dalam film yang gelap dan muram adalah alasannya. Mereka tidak sepenuhnya salah, tapi bagi saya ada masalah yang jauh lebih besar daripada sekedar overly dark and bleak tone. Bagi saya pribadi, hal ini cukup krusial untuk dibenahi jika DC ingin installment ini berjalan sukses di waktu yang akan datang. Jadi, apakah sebenernya yang membuat beberapa film DC cukup bapuk? Jawabannya adalah…

Wait for it….

It’s the characters, yeah those guys

Sejauh ini dalam DC extended universe (selanjutnya akan disingkat DCEU) tidak ada tokoh dengan karakter yang cukup kuat. Apa itu karakter yang kuat? Yang dimaksud kuat disini adalah karakter dengan motivasi jelas, terus berkembang dan mempunyai sikap. Ok, I know that sounds like pelajaran PPKn jaman baheula, but to be honest, what I defined that sounds like pelajaran PPKn is actually a good reason to care about any of them. DCEU selalu bergantung pada gimmick marketing yang heboh dan kekuatan dari brand DC itu sendiri. Orang-orang akan nonton film Batman just because it’s fuckin Batman. Tapi kalau Warner Brothers ingin terus-terusan mengeruk uang dari para penonton, mereka butuh lebih dari nama besar brand, mereka butuh tokoh yang membuat penonton peduli. Selama ini DCEU berasumsi bahwa kita akan menonton film mereka karena pada dasarnya kita sudah tahu dan mengenal tokohnya. Kita menyukai Batman dan Superman dari komik atau film atau kartun. Agar installment ini dapat berjalan, DCEU membutuhkan sosok Superman dan Batman yang disukai.

This Batman

This Superman

Dan sejauh ini, kita gak suka dengan penokohan mereka berdua.

Jadi gini, ide dari cinematic universe sendiri dasarnya ada pada tokoh yang dicintai penonton sehingga penonton ingin melihat interaksi tokoh tersebut di film yang berbeda. Bandingkan dengan Marvel cinematic universe (MCEU) yang meraih pujian dari berbagai pihak, Why? It’s simple, because people love those characters. Why they love those characters?

Because Marvel did the hard work of developing interesting fully-formed characters that audiences cared about.

Buktinya? Well, you can agree to disagree with me, but here’s the thing.

Saya nonton Suicide Squad pada hari kedua penayangannya. Di film tersebut ada beberapa adegan dimana Batman dan Flash menjadi cameo. Ketika cameo ini muncul, reaksi yang saya rasakan dari bioskop yang full booked itu hanya bisik-bisik gak jelas seperti

“Eh itu The Flash ya?”

“Eh emang itu Ben Affleck ya?”

Sebagai perbandingan, beberapa tahun sebelumnya saya menonton Thor: The Dark World, yang mana film paling segmented dalam MCEU pada saat itu. Tapi saya ingat dimana Captain America muncul menjadi cameo kurang dari 10 detik dan tiba-tiba para penonton bersorak sorai ramai.

Itulah reaksi yang diinginkan oleh Warner Brothers tapi belum berhasil mereka dapatkan.

CHARACTER DEVELOPMENT

Kalian tahu kan bahwa cerita itu berasal dari tokoh. Kepedulian kita terhadap cerita bergantung kepada seberapa besar empati kita terhadap tokoh tersebut. Empati sendiri didapatkan penonton dari kekuatan tokoh. Apa yang diinginkan tokoh, apa motivasinya, pilihan yang diambil hingga perubahan karakter pada tokoh tersbut. Bingung? Oke, mari kita sama-sama lihat dengan contoh yang ada.

Tony Stark, di film perdana Iron Man pada awalnya adalah konglomerat playboy arogan yang bersikap semau-maunya. Kemudian dia ditangkap teroris dan hampir terbunuh oleh senjata ciptaannya dia sendiri. Dia akhirnya berhasil lolos dan membuat dua keputusan penting yang mengubah hidupnya. Stop memproduksi senjata dan menggunakan teknologinya untuk menolong orang lain. Di awal film dia adalah orang paling egois sedunia. Hingga pada akhirnya dia belajar hal baru sehingga menjadikannya orang yang berkemauan keras untuk menolong orang lain. Intinya, brengsek jadi baik. Klise kah? Iya memang klise, tapi efektif dan berhasil membuat film superhero yang kurang terkenal hingga menjadi franchise film tersukses sepanjang masa.

Sekarang, yuk coba lihat bagaimana kemunculan awal Superman di Man of Steel. Coba kasihtau saya, ada gak yang berubah dari Superman dari awal hingga akhir film? Oke itu pertanyaan retoris, karena jawabannya GAK ADA. Awal film kita bisa melihat Superman secara heroik mencoba menyelamatkan orang-orang dari tambang minyak yang meledak. Nah sekarang coba cepetin filmya dua jam kemudian. Apa yang terjadi di sana? Yak, lagi-lagi si Superman berusaha menyelamatkan orang dari General Zod. Kalau film ini adalah perkenalan dan dia sudah menjadi orang baik di awal kemunculannya, ya nguapain? Perkembangan karakter apa yang ingin ditampilkan? Kecuali mencukur jenggot dan memakai jubah dihitung sebagai character development. Lebih jauh lagi, Superman yang ini bahkan konsisten ngeselinnya dari awal sampai akhir. Dia menghancurkan truk dari seseorang yang mengganggunya, kemudian menghancurkan drone dari pihak militer hanya karena dia gak suka. Disini masalah terjadi, kalau dari awal dia memang mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang, motivasinya apa? Sampai sekarang saya juga gak tahu jawabannya selain karena dia Superman, titik. Yang lebih membingungkan adalah di satu sisi ayahnya bilang bahwa dia tidak boleh menggunakan kekuatannya, di satu sisi ayahnya bilang bahwa suatu hari dia akan mengubah dunia. This is slightly off topic but I want to point out how confusingly Paul Kent is written in this movie. Kembali ke Superman, kita gak tahu apa yang dia mau, gak tahu apa motivasinya dan kita gak pernah lihat perkembangan karakternya sebagai manusia. Ya terus, kenapa juga kita harus punya empati pada tokoh semacam ini? Coba bayangkan, misalnya nih ada orang yang sama sekali gak tahu siapa atau apa itu Superman. Kalau begini caranya DC ngenalin karakter Superman, lha mbok pikir apa si orang awam ini mau nonton sequelnya?

Dalam buku Robert McKee yang berjudul “Story”, dia menulis begini

True CHARACTER is revealed in the choices a human being makes under pressure – the greater the pressure, the deeper the revelation, the truer the choice to the character’s essential nature.

Gampangnya gini, kita pasti menilai seseorang dari pilihan apa yang diambil oleh orang itu. Hampir semua film superhero origin memberikan kita adegan dimana tokoh utama membuat pilihan yang penting yang mencerminkan karakter tokoh tersebut dalam kehidupan. Contoh lagi dalam film Batman Begins. Di adegan saat hari terakhir pelatihan Bruce Wayne sebagai anggota League of Shadows, dia disuruh mengeksekusi seorang kriminal, Bruce Wayne menolaknya dengan bilang begini

“I will go back to Gotham and I will fight man like this but I will not become an executioner”

NAH !!! 1111!!!

Disini, dia membuat sebuah keputusan penting bahwa apa yang dia percayai menjadikannya Batman. Major turning point seperti inilah yang membuat penonton mempunyai empati terhadap karakternya. Mungkin yang paling efektif dalam menjelaskan bagaimana origin story bekerja adalah Spider-Man besutan Sam Raimi. Kita tentu sudah tahu nasehat dari Uncle Ben yang masyhur itu.

“With great power comes great responsibility”

Awalnya Peter Parker menggunakan kekuatannya untuk kepentingan sendiri. Kemudian dia membiarkan seorang krimanal kabur yang ternyata si kriminal ini ternyata adalah pembunuh Uncle Ben. Adegan terpenting adalah ketika akhirnya Peter berhasil menagkap kriminal itu dan menyadari bahwa kalau saja dia tidak egois, maka Uncle Ben masih hidup. Hingga akhirnya Peter sadar dan berjanji untuk memerangi kejahatan. Man of Steel tidak pernah memberikan momen seperti ini. Memberikan penjelasan mengenai pilihan hidup Superman dan apa yang dia percaya. Dan, hal seperti ini tidak membaik pada film-film selanjutnya.

WORSE AND THE WORST

Film yang berdurasi hampir tiga jam ini fokus kepada Superman yang menolong orang tapi sebenarnya gak suka-suka banget nolongin orang dan Superman yang gak setuju terhadap cara-cara Batman dalam meringkus penjahat. Superman sepertinya lebih fokus kepada kriminal korban dari Batman daripada kriminal beneran yang memang melakukan kejahatan berat. Malahan ada adegan dimana Superman nylengkat mobil Batman yang mana membuat Batman gak bisa menangkap penjahat yang berkeliaran. Sekali lagi, tidak ada develoment karakter pada Superman. Ya walaupun di akhir cerita dia mengorbankan diri untuk dicabik-cabik oleh Doomsday, tapi ya apa faedahnya? Dalam hal ini, Batman malah lebih memiliki karakter development (ya walaupun agak  bodoh sih). Batman memulai film dengan membenci Superman dan ingin membunuhnya yang kemudian dia menyadari bahwa mereka di pihak yang sama. Masalahnya, Batman gak segera sadar bahwa membunuh Superman adalah ide buruk, yang mana hampir semua orang udah bilang gitu dalam dua jam film ini. Sebenernya sih ya, setup awal bagaimana Batman benci Superman itu udah cukup bagus di awal film. Tapi ketika Batman way too extreme hingga mau ngebunuhnya itu yang ngebuat kita susah bersimpati sama Batman. Kesimpulan dari film ini sendiri adalah Batman yang terus-terusan dendam dan Superman yang kelewat naif dan goblok. Satu hal yang bikin film ini kelewat bapuk ya karena emosi dari tokohnya yang sangat statis dan cara berpikir mereka yang gitu-gitu aja. Kita bisa kok fast forward ke 90 menit berikutnya dan kita masih bakal menemukan cara berpikir karakternya yang stagnan.

While we’re at it, I should talk about Suicide Squad now because it’s the worst of the DC films. Premis filmnya sebenernya cukup menarik, dimana kita disuruh berempati pada penjahat yang punya kekuatan aneh-aneh tapi juga bikin penasaran. Film berpusat pada Deadshot dan Harley Quinn. Tidak seperti Batman dan Superman, mereka justry lebih punya karakter. Mereka punya karakter tapi ya masih tetep statis. Motivasi Deadshot di awal film sebenernya bisa diulik lebih jeli lagi. Alih-alih bikin origin yang masuk akal, scriptwriternya malah bikin ide cerita yang gak sinkron buat Deadshot. Anaknya Deadshot itu gak suka bapaknya jadi pembunuh bayaran dan minta dia untuk berhenti. Cuma di akhir film ada adegan dimana Deadshot harus nembak monster to save the world, konyolnya di adegan itu tiba-tiba ada bayangan anaknya yang mengingatkan Deadshot agar jangan nembak. Padahal kan si Deadshot nembak buat nyelametin dunia bukan buat bunuh orang. Hal ini adalah salah satu contoh bagaimana scriptwriter yang malas ngulik karakter.

Harley Quinn, walaupun terlihat menyenangkan sepanjang film tapi kenyataannya dia adalah yang karakternya paling statis. Motivasinya sepanjang film hanyalah agar kembali bersama dengan Joker, that’s it. Pada akhirnya mereke kembali bersama sih, tapi coba kita telaah. Scriptwrite ini seakan-akan tidak menayadari bahwa ada potensi besar yang bisa digunakan. Seperti contohnya bagaimana Harley menyadari betapa abusifnya Joker dan akhirnya bisa gantian nge abuse si Joker, tapi seperti kita tahu this thing doesn’t happen. Satu-satunya karakter yang mempunyai keterikatan emosi dengan cerita utama adalah Rick Flag yang mana pacarnya June Moon kesurupan Enchantress. Tapi karena Deadshot lebih keren dan diperankan oleh Will Smith, jadi aja Deadshot yang mengakhiri semua konflik yang ada. Deadshot, orang asing yang gak bahkan gak kenal siapa itu June Moon. WTF, dude??? Pada akhirnya Suicide Squad hanyalah film hura-hura yang awalnya bisa saja bagus, tapi karena kemalasan scriptwriter membuat film ini nampak seperti gak ada faedahnya.

(maybe) IT GOES BETTER

Layaknya manusia, sebuah film pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Walaupun di paragraf sebelumnya saya sudah jelaskan panjang lebar bagaimana bapuknya DCEU. Namun haru diakui bahwa ada hal-hal tertentu yang menjadi kelebihan mereka. Tidak seperti Marvel, mereke berhasil membuat memorable musical themes untuk dua karakter utamanya.

Pilihan mereka untuk syuting dalam format analog film juga agaknya tidak bisa ditandingi Marvel dalam kualitas gambar. Belum lagi casting untuk tokoh-tokoh utamanya yang selalu mendapat aktor dan aktris berkualitas. Yang mana kita tahu akan sulit ketika berhadapan dengan tokoh yang ikonik. Sudah jelas bahwa Zack Snyder dan David Goyer mempunyai tujuan yang ambisius dalam setiap filmnya. Man of Steel bercerita bagaimana ketika alien super ada di dunia nyata. BvS mengeksplorasi ide tentang kekuatan ketakutan dicampur dengan satir politik dan aksi-aksi superhero. Dan Wonder Women bercerita bahwa dunia ini tidak sebaik yang kita pikirkan.

Kita bisa berdebat seharian penuh apakah DCEU itu sukses atau tidak? Perdebatan macam ini melelahkan. Perdebatan ini tidak mengubah fakta bahwa pihak film kurang menaruh perhatian pada perkembangan karakter pada tiga film terdahulunya. Saya selalu percaya bahwa empati terhadap tokoh adalah apa yang membuat kita peduli. Selain mengubah tone yang gelap dan muram, DCEU sekarang juga berangsur-angsur memulihkan kepercayaan terhadap karakternya. Kini saya hanya bisa berharap, berharap bahwa nantinya extended universe ini akan melampaui ekspektasi yang sudah-sudah.

Berharap itu melelahkan, tapi bolehlah sesekali kita berharap lebih.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s