Damarrama’s Top Albums 2017

Walaupun agak telat, namun kembali lagi bersama saya dan ritual paling konsisten di blog ini. Apalagi kalau bukan mereview album-album pilihan yang rilis sepanjang tahun 2017  kemarin. Ini bisa jadi daftar album tahunan paling sedikit yang pernah saya seleksi, tapi memang tahun 2017 ini begitu menarik. Saking menariknya sehingga saya enggan melewatkan album-album untuk dirayakan di penghujung tahun. Hal ini pula yang membuat saya sedikit kesulitan untuk memasukan album apa saja kedalam list ini. Ohya seperti biasa, list album yang ada disini diurutkan subjektif berdasarkan pilihan saya jadi dibawa santai saja ya. Check this out  !

 

11. Paramore – After Laughter

Bagi saya, Paramore adalah band hits di awal tahun 2000an yang mempunyai fanbase rata-rata anak emo (pada jamannya). Di tahun 2017 ini, beberapa fans emo tadi mungkin sudah lebih dewasa dan telah muncul fans-fans dengan rerata umur yang lebih muda dan condong ke 80’s aesthetics. Mengubah total pembawaan dan musik mereka merupakan pilihan dan timing yang sangat tepat di 2017 ini. Dengan musik yang lebih berwarna dan ceria Paramore tetap tidak melupakan ke-emoan-nya. Liriknya masih bercerita soal depresi, paranoia hingga impostor syndrome.  Semakin kita mendengarkan album ini semakin kita menyadari bahwa musik ceria dan gemes Paramore hanya ada  di permukaan. The Williams everyone loves is still there, but she’s become a little bit better at letting go. She’s not dwelling, so why should we? It’s time we matured with Paramore.

 

10. .Feast – MULTIVERSES

Di luar dari cover albumnya yang agak tidak biasa, MULTIVERSES justru memikat lewat materi-materi rock yang jenius. Saya menyebut kemasanya sangat operatic, tak hanya dari  suara riff gitar yang khas, sekaligus musik yang dibangun dan kolaborasi dengan beberapa musisi terkenal telah mengimpresi makna serupa. Orkestra yang tak terlalu ambisius, menciptakan ruang-ruang kesederhanaan dalam menafsirkan emosi dari setiap karya .Feast. Akan dengan mudahnya menyebut MULTIVERSES adalah kumpulan kegilaan, meski saya lebih suka menamainya kumpulan kontemplasi yang penuh kelegaan.

 

9. Scaller – Sense

Siapapun yang pernah menyaksikan penampilan Scaller secara langsung, akan tanpa ragu sepakat bahwa duo yang terdiri dari Stella Gareth & Reney Karamoy ini adalah sebuah band yang masuk dalam kategori muda dan berbahaya. Setiap gig mereka bagaikan erupsi-erupsi yang tidak dapat dihindarkan memompa adrenalin mereka yang menyaksikannya. Penampilan mereka ketat, penuh konsentrasi dan terasa seperti pompaan tenaga yang datang dari batang energi yang diasupkan ke badan di pagi hari. Senang rasanya melihat Scaller berhasil menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana musik mereka disajikan dalam bentuk karya, tidak semata-mata penampilan panggung yang berenergi. Rasanya, kita akan menyaksikan satu band pendatang baru yang akan makin laku ditanggap di mana-mana.

 

8. Passion Pit – Tremendous Sea of Love

Jika semua orang mengalahkan patah hatinya dengan membuat lagu seperti ini, maka dunia ini akan menjadi lebih baik. Lagu ini adalah sentral dalam album luar biasa Passion Pit, Tremendous Sea of Love. Beat-nya adalah sebuah candu yang tidak ingin kita habiskan, setiap fase di lagu ini menghipnotis kita, membawa kita ke sebuah lautan tak bertepi, di mana yang kita rasakan hanyalah getaran kebahagiaan tanpa batas.

 

7. Bleachers – Gone Now 

Bleachers  adalah alterego Jack Antonoff yang sukses mengolaborasikan vokal, musik, dan penampilan dalam satu kesatuan tema bertajuk “classic pop”. Walaupun tidak semua lagunya terdengar bombastis, namun sJack Antonoff tau persis apa yang dibutuhkan  chorus sebuah lagu hingga menjadi earworm. Saya dengan album Gone Now ini sudah saatnya Jack Antonoff lebih dikenal sebagai artis ketimbang orang dibalik layar, mengutip Pitchfork

“By now, he’s accrued a strong enough songbook to successfully render that single a mere footnote to an enviable and flourishing career. Somewhere even further down his resume, there’s a place for Gone Now.”

 

6. SZA – Ctrl 

Track semacam Love Galore, The Weekend, dan Doves In the Wind adalah racun yang pelan-pelan memabukan telinga dan pikiran. SZA membingkis album ini dengan elemen-elemen soul, pop, dan R&B. SZA mengalun dalam tempo medium. Ramuan instrumentalnya riuh akan ketenangan. Di sisi lain, Ctrl juga terdengar dingin dan gelap. Namun di situ kehebatan SZA yang diam-diam menransfer aroma retro  dan segenap bunyi-bunyian kreasi.

 

5. HAIM – Something to Tell You

Empat tahun berselang sejak debut Days Are Gone, kini HAIM kembali menggebrak kancah permusikan dengan album Something to Tell You. Di album barunya ini HAIM mampu menggabungkan nuansa power pop dan rock 80’s dengan baik. Something to Tell You sendiri adalah kumpulan perasaan frustasi akan perasaan yang tak terucap. Selain video klip yang gemes-gemes menarik, lirik-lirik dalam lagu Something to Tell You juga terdengar lebih “mudah” dibanding Days Are Gone sehingga membuat album ini deserved little of your love ~

 

4. Calvin Harris – Funk Wav Bounces Vol.1

Whoa whoa whoa, tenang tenang. Kalian semua gak salah baca kok, memang benar Calvin Harris masuk dalam salah satu album favorit tahun ini, bahkan merupakan album yang pada pendengaran pertamanya didengerin tanpa diskip lagunya. Alih-alih mengikuti jejak Mark Ronson dalam memproduksi lagu, Calvin Harris malah mengikuti jejak duo robot Daft Punk dalam memadukan teknologi baru dan instrumen asli. Sudah banyak video Calvin Harris mencoba-coba berbagai macam instrumen dari synth hingga gitar elektrik yang ada di studionya. Bahkan dalam videoklip “Feels” terlihat jelas Calvin Harris dengan lihai memainkan Ibanez 1200 nya. Funk Wav Bounces Vol.1 adalah distraksi sekejap dari hingar bingar rutinitas untuk menikmati indahnya nuansa musim panas.

 

3. Various Artist – La La Land OST

Jatuh cinta berjuta rasanya. Alunan soundtrack yang sesuai saat jatuh cinta mampu melipat gandakan rasanya. Coba kalian bayangkan bagaimana kikuknya Joseph Gordon Levitt dalam sebuah adegan nyebrang jalan di 500 DoS tanpa diiringi lagu Hall & Oates “You Make My Dreams”? Atau bagaimana kita tahan dengan adegan Ben Affleck makan crackers binatang hanya karena ada alunan Aerosmith’s “Don’t Wanna Miss a Thing”. Seperti jatuh cinta, adegan-adegan dalam sebuah film pun memerlukan sebuah soundtrack untuk melipat gandakan rasa.

Formula yang sama juga berlaku pada film La La Land, sebuah persembahan dari Dave Chazelle. Alih-alih menggunakan lagu-lagu hits dari penyanyi ngetop, Dave Chazelle bekerja sama dengan Justin Hurwitz malah membuat original scoring yang related dengan adegan per adegan dalam filmnya. Nampaknya kurang afdol kalau kita tidak membahas bagaimana sempurnaya beberapa hits dalam album ini, jadi marilah kita simak satu persatu hits dalam album ini.

Dibuka dengan lagu “Another Day of Sun” yang mempunyai irama upbeat nan sederhana menceritakan tentang kehidupan Hollywood dengan segala tempo cepatnya. Bagi yang sudah menonton filmnya (saya sendiri nonton empat kali di bioskop) pasti paham bahwa Another Day of Sun adalah sebuah lagu yang tampak luar hangat namun menyengat. Lagu ini sendiri sebagai penanda bahwa kalian akan menyaksikan perjalan seorang pemimpi yang belum tahu arah tujuannya hendak kemana, so be prepare.

Lagu “A Lovely Night” dengan sempurna menceritakan masalah klasik mengenai dua orang yang saling melengkapi namun tidak ditakdirkan bersama. Terlihat bagaimana Sebastian bernyanti seperti orang yang kesakitan “A silver shine that stretches to the sea/ We’ve stumbled on a view that’s tailor-made for two/ What a shame those two are you and me.”  yang kemudian ditutup dengan chorus sempurna (“What a waste of a lovely night”).

Tentu saja, beberapa lagunya mendapat privilege dinyanyikan lebih dari dua kali. “City of Stars” pertama kali dinyanyikan oleh Sebastian sewaktu ia berkontemplasi mengenai kehidupannya. Yang kedua adalah saat Sebastian berduet dengan Mia di apartemennya. Dalam duetnya, Mia tersenyum (Emma Stone smile FTW) sembari bernyanyi – semakin membuat gimmick yang tulus pada genre film yang sering dianggap lebay.

Seperti yang tertulis pada judulnya “Mia & Sebastian’s Theme” adalah jiwa dari La La Land itu sendiri. Diawali dengan alunan piano yang mellow yang kemudian sambung menyambung ke track “Epilogue”. Track “Epilogue” sendiri menurut saya adalah salah satu tembang terbaik dalam third act sebuah film yang mampu meluluh lantahkan emosi tanpa menggunakan media visual.

The final reprisal of “City of Stars” comes over the end credits, this time with Stone humming and later using “bum bum bahs” and “da da dahs” in place of the words. Like all of La La Land, it is a perfect encapsulation of how people and songs evolve, from worry to love to a point where no words are needed. It is, of course, the music that remains: a constant companion and guiding light. Maybe life having a soundtrack is but a dream, but as La La Land’s remarkable music proves, it’s one well worth believing in.

Here’s to the fools who dream. Tabik !

 

2. Lorde – Melodrama

 

Tiada yang lebih sendu dari Melodrama milik Lorde tahun ini. Masih dengan nuansa pop dan R&B, dimana banyak akan ditemukan bunyi-bunyian funky yang sedikit ganjil, namun sangat renyah di telinga. Lorde selalu punya konsep menarik pada setiap albumnya. “Melodrama” digambarkan Lorde sebagai sebuah album berkonsep; sebuah pesta yang tak terkontrol dan di mana keseluruhan “kisah” yang terdapat dalam setiap track terjadi di pesta tersebut. Dan sebagaimana pesta, ada keriaan, ada kemabukan, dan kadang penyesalan sesudahnya. Melalui konsep ini Lorde dengan cerdas menggambarkan kronika tentang hubungan bahkan eksistensialisme.

Transisi mulus adalah kunci dari “Melodrama”. Mulai dari electro-pop edgy seperti ‘The Louvre’ yang disambung dengan balada ‘Liability’, atau balada ‘Supercut’ yang disusul dengan synth-pop-dance ‘Supercut’. Berjalan dengan sangat organis, sehingga perpindahan antar-track menjadi tidak terasa. “Melodrama” pada akhirnya terdengar seperti sebuah lagu yang sangat panjang, meski sama sekali tak melelahkan untuk disimak.

Mungkin “Melodrama” tidak akan mendapat apresiasi semeriah “Pure Heroines”. Hanya saja, dengan eskalasi artistik yang meningkat dengan signifikan, seharusnya antusiasme harus tetap diberikan pada “Melodrama”. Karena di dalamnya kita bisa mendengarkan barisan lagu pop terbaik tahun ini, selain menjadi catatan jika skena musik pop masih memiliki berlian setajam dan sebrilian Lorde.

 

1.  Kendrick Lamar – DAMN

Maha benar King Kendrick dengan segala kemampuan ngerapnya.  Rima dengan multi-silabel kompleks, delivery yang tiba-tiba berubah kontras plus flow dengan varian kecepatan plus yang banyak diadopsi oleh rapper era sekarang.  Tapi itu bukanlah senjata pamungkas dari King Kendrick. Senjata pamungkasnya sendiri adalah bagaimana ia melihat the big picture yang kemudian memampatkannya dalam toples-toples kecil, ia susun sedemikian rupa dengan bungkus beragam, bisa jadi lapisan metafor, bisa pula dalam makna-makna ganda. Ia mampu memotret hal kompleks dan menukarnya dengan potongan kecil yang siap ia susun ulang untuk kemudian hanya dengan upaya ekstra para fansnya menyusun ulang potongan itu seperti menyusun rubik. Dalam adonannya, ia memasukkan banyak masalah, personal, emosional, moral, politikal bahkan hal yang remeh seperti trend.

“Damn” seolah merupakan narasi lanjutan “Butterfly”, di mana pada proses selanjutnya ternyata Kendrick membayar mahal pencarian kedamaian tadi dengan membiarkan dirinya bertransisi menjadi seorang ignoran. “Damn” adalah dokumentasi ia menjadi asshole kompleks. Sebuah fuck you album. Dari sisi musikal, album ini justru seolah terdengar seperti sekuel “good kid, M.A.A.D. City”. Dalam proses kreatifnya berbalik arah dengan “Pimp the Butterlfy”. Ia tak lagi berkontemplasi di ruangan dengan sejumlah musisi untuk menghasilkan musik jazz-funk yang ambisius, namun mengendarai trend boom-trap simplistik yang sangat mudah diakses. Single-nya “Humble” adalah contoh yang paling sempurna. Melanjutkan dua album pertamanya (Empat, jika kalian menghitung pula “Section.80” dan “untitled unmastered”), “Damn” kembali membuktikan betapa ambisiusnya Kendrick dalam menghasilkan karya.

 

Honorable Mentions

Linkin Park – One More Light LIVE

 

Saya percaya ada ribuan remaja di bawah kolong langit ini yang merasa bahwa lagu-lagu Linkin Park diciptakan untuk kegusaran masa remaja mereka. Banyak juga remaja yang menuliskan syair-syair lagu tersebut untuk ditulis di buku tulisnya. Linkin Park, juga Chester Benington, telah menyatukan banyak hati dengan lagu-lagunya. Sengaja atau tidak, saya percaya, mereka ini merasa nasib mereka beririsan dengan syair-syair yang dinyanyikan Chester.

Saya percaya ada ribuan yang nilai bahasa inggris di sekolahnya meningkat drastis karena sering mendengarkan album “Meteora”. Saya juga percaya ada ribuan remaja yang melatih kemampuan ngerapnya melalui lagu “In The End”. Masing-masing dari kita merayakan Linkin Park dengan caranya sendiri. Mereka yang berbahagia karena mendapatkan jawaban, mereka yang mengutuk kesepian karena perasaannya tak berbalas, serta mereka yang kemudian membenci band ini karena ratusan kenangan yang dihadirkan.

Kelak, saat kita sudah jauh lebih tua, ketika umur sudah bertambah, kita akan menertawakan diri sendiri. Merelakan perpisahaan, mensyukuri pertemuan, dan juga memahami mengapa Chester harus pergi lebih cepat, seperti juga mereka yang tak bisa kita rawat selamanya. Kelak kita akan memahami apa makna kepergian. Seperti yang dikatakan Chester, sometimes solutions aren’t so simple
Sometimes goodbye’s the only way. 

Perpisahan itu menyebalkan, tapi terima kasih.

Who cares if one more light goes out?

Well, I do.

(Now, I’m not crying. You are).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s