…dan setelah Black Mirror

Serial tv besutan Charlie Brooker sudah memasuki musim ke empat. Season keempat sendiri telah dirilis pada 29 Desember 2017 silam, serial Black Mirror ini sudah barang tentu ditunggu-tunggu para penggemarnya yang cukup sakau menantikan cerita aneh apa lagi yang akan tersaji. Walaupun di season keempat ini saya merasa alur ceritanya lebih mild dibanding season-season sebelum, tapi tetap saja ada beberapa episode yang after tastenya cukup cringey af . Dalam postingan kali ini, saya mencoba membedah mengapa Black Mirror sangat dinikmati walaupun jalan ceritanya cukup membuat merinding. Postingan ini mengandung spoiler disana sini, jadi bagi yang belum menonton, jauh-jauh aja kali ya.

Why Do We Watch Black Mirror?

This is Kenny

Tentu, kita semua masih ingat dengan plot cerita dari episode “Shut Up and Dance”. Kalau sudah lupa, mari saya ingatkan. Alkisah ada seorang remaja bernama Kenny yang kena blackmailing dan ia disuruh untuk membunuh seseorang. Apabila Kenny tidak menuruti apa yang si pengancam minta maka video aib Kenny akan disebarluaskan. Akhirnya, Kenny menuruti apa yang diminta dan tetap saja video aibnya tetap disebar. Tamat. Serius deh, apa yang menarik coba dari sebuah serial yang plot utamanya bercerita tentang bagaimana kemajuan teknologi disalah gunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Apa pula yang menarik dari sebuah serial tv yang mempunyai plot muram seperti; disuruh make love dengan babi, menghadapi ketakutan terbesarmu atau bahkan disuruh menjalani hukuman tanpa henti? Kadang beberapa tokohnya mati, kadang banyak orang yang mati. Walaupun dalam beberapa episodenya, tokoh utamanya mendapatkan ((sedikit))) pencerahan di akhir cerita. Singkatnya, Black Mirror adalah parade dari tragedi. Mungkin saja tujuan kita menonton Black Mirror seperti halnya kita suka menonton tragedi. Untuk merasakan perasaan kasihan dan takut hingga menghasilkan perasaan…. wait for it. Katarsis. Atau setidaknya begitulah yang tertuang dalam buku Poetics karangan Aristotle, kira-kira begini isinya

A tragedy, then, is the imitation of an action … with incidents arousing pity and fear to accomplish its catharsis of such emotions 

Menurut Aristotle, tujuan dari umat manusia merasakan tragedi adalah supaya kita bisa merasakan ketakutan dan ketidakberdayaan yang berujung pada katarsis. Katarsis sendiri diperlukan untuk menghindari manusia dari perbuatan negatif yang terpendam. Walaupun arti katarsis yang dimaksud Aristotle pun masih diperdebatkan banyak orang. Apakah sebagai purgation, purification atau clarification? Maksud semuanya bisa jadi sama hanya saja beda tema. Poinnya adalah dengan kita merasakan tragedi yang artistik terkadang terasa menyenangkan yang mana membuat kita penasaran untuk melihatnya. Yang lagi-lagi menjadi perdebatan. Jika kita tidak suka dengan tragedi di dunia nyata, mengapa kita suka melihatnya secara teatrikal dalam acara tv ataupun sebuah film? Jawabannya adalah tragedi yang ditunjukan melalui layar kaca adalah tragedi dengan porsi yang pas.

The Tragedy of Rob Stark

Apakah tragedi dengan porsi yang pas itu? Mari saya kasih contoh. Game of Thrones mempraktekan Poetics dari Aristotle dengan menghadirkan tragedi pada sosok karakter yang baik tapi tidak sempurna. Red Wedding adalah salah satu contoh tragedi yang ditampilkan secara blak-blakan namun tetap masuk akal yang dihadirkan pada masa kini. Ketika tragedi tersebut usai, kita entah mengapa ada sedikit perasaan lega. Bukan karena Rob Stark memang pantas mendapatkan itu semua, tapi kalau mau menengok ke belakang tragedi tersebut seakan menghapus’dosa’ dan kesedihan karena pilihan Rob Stark yang tidak hanya membuat  namun juga menambah dimensi katarsisnya.

Part Two

Entire History of You

Oke, sekarang mari kita lihat tragedi di Black Mirror. Seperti yang sudah disebutkan, Black Mirror adalah sebuah serial tv yang cringey AF. Serial ini mampu melipatgandakan rasa kasihan dan ketakutan dalam diri kita semua. Tapi saya rasa, tragedi yang dihadirkan dalam Black Mirror berbeda dengan apa yang dihadirkan dalam Game of Thrones, Breaking Bad dan serial-serial tv lainnya. Perbedaan yang paling menonjol adalah efek after taste yang berbeda-beda. Penting untung diingat bahwa memang setiap episode Black Mirror menghadirkan tragedi yang berbeda-beda pula. Hampir setiap episodenya terlalu luwes untuk dijadikan narasi. Mereka tidak terikat pada satu formula tertentu. Walaupun benang merah yang paling terlihat adalah bagaimana teknologi di masa depan dapat menjadi malapetaka. Namun bagi ciri khas utama Black Mirror yang paling kuat adalah bagaimana ketidak nyambungan tokoh utama atas peristiwa yang bakal mereka alami. Kuncinya adalah disconnect to connect. National Anthem, episode perdana dari Black Mirror bercerita tentang bagaimana seorang perdana menteri diancam untuk make love dengan babi. Mungkin saja si perdana menteri ini bukan tanpa cacat, tapi diblackmail dengan cara yang seperti itu, I think it’s on another level. Atau dalam episode Entire History of You yang digambarkan dengan seorang suami yang cemburu buta, namun kecemburuannya justru membuktikan bahwa ia benar yang mana memori digitalnya mengakibatkan kehancuran keluarganya. Dalam White Bear, digambarkan bagaimana seorang pembunuh yang amnesia ‘disikisa’ secara terus-terusan untuk menjadi hiburan. Jikalau kalian setelah menonton season 1-4 dan merasa cringey AF, bisa jadi karena ini Black Mirror menghadirkan sebuah tragedi yang tidak seimbang. Tidak stabil. Ending cerita Black Mirror tidak pernah menghadirkan closure untuk tokoh utamanya. Ending yang terjadi pada Walter White tidak pernah terjadi pada tokoh-tokoh di Black Mirror. Mengutip Northrop Frye dalam Architecture of Literature.

Tragedy is intelligible because its catastrophe is plausibly related to its situation.

The  Closure

Hang The DJ

Jika ada satu hal yang dilakukan Charlie Brooker dengan sangat baik adalah memberikan kita tragedi-tragedi yang tidak pada pakemnya. Di tangan Charlie Brooker, tragedi-tragedi tadi diolah sedemikian rupa hingga tidak mengeluarkan katarsis. Jika katarsis tidak keluar maka yang tersisa hanyalah rasa kasihan dan ketakutan. Rasa inilah yang menuntun kita untuk lebih dekat dengan karakter dalam Black Mirror. Jadi kenapa dong kita menonoton Black Mirror? Menonton sebuah serial yang jelas-jelas hanya menghadirkan tragedi. Saya rasa kita menonton Black Mirror karena kita semua masih punya perasaan. Tidak seperti beberapa serial tv lainnya yang cenderung menghadirkan holyshit moment. Atau mungkin seperti Twilight Zone yang dalam akhir episodenya selalu menghadirkan pesan-pesan moral. Black Mirror hadir tanpa peduli dengan katarsis dan pesan moral. Mungkin inilah yang membuat serial Black Mirror terasa lebih jujur tanpa kehadiran dua hal tersebut. Dunia dimana kita terpojok oleh kehadiran omnipresent berupa teknologi adalah dunia yang kacau. Dunia yang tanpa ampun. Dunia diluar kendali kita. Black Mirror hadir. Bukan untuk menemukan solusi. Bukan untuk menenangkan. Black Mirror hadir untuk membiasakan kita semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s