19 perkataan yang ngeselin buat programmer

Programmer

n. [proh-gram-mer]

Someone who solves a problem you didn’t know you had in a way you don’t understand.

see also : Wizard , Magician

Programmer mungkin saja menghabiskan hampir setiap waktunya untuk berkomunikasi dengan mesin. Mengenal hanya dua inputan, 1 atau 0. Namun bukan berarti mereka adalah mesin. Programmer is a human too who also crack under pressure. Mereka bisa juga merasa frustasi. Frustasi karena hal internal atau eksternal. Omongan dari non-programmer adalah satu dari sekian banyak hal eksternal yang bisa membuat mereka merasa kesal. Berikut celotehan dari muggles (baca:non-programmer) yang seringkali bisa bikin programmer gets hot under their collar.

(sssttttt, nomor 18 akan membuatmu tercengang.)

1. “Masih lancar kan ya semua?”

Honestly, saya kurang paham ekspresi untuk menanggapi ungkapan seperti ini. Mungkin semua memang masih lancar, tapi kami itu berurusan dengan hal yang sangat fragile yang dalam hitungan menit bisa ambyar. Makanya saya gak bisa ngasih jawaban terhadap hal yang saya sendiri gak bisa ngejanjiin.

2. “Kan emang tanggal segitu deadline nya”

Semua programmer benci deadline. Masalah yang kita temui itu sangat kompleks, jadi bikin deadline untuk hal yang kompleks kayak gitu hanya akan terlihat konyol.

3. “Bebas lah, pake cara yang paling cepet aja”

Makasih ya udah ngasih solusi (yang kurang berguna). Tapipak, saya gak akan ambil cara ini kalau dari awal bapak gak ngasih tanggal deadline yang mepet dan gak realistis.

4. “Liat deh, masih ada bug nih”

Bugnya muncul ya karena saya pake cara yang paling cepet. Yang nyuruh pake cara cepet siapa hayo?Ya menurut bapak aja deh.

5. “Eh minta tolong dong, bisa tolong itunya di anuin gak”

Maap, maap nih ya saya cuma terima perintah dari Project Manager atau programmer yang lebih senior dari saya. Don’t get me wrong, saya suka bantu orang tapi hal-hal kayak gini yang bikin nambah kerjaan dan mengurangi kebahagiaan orang-orang.

6. “Sori ganggu, cuma mau tanya ini”

Programmer kira-kira membutuhkan waktu minimal 30 menit for immerse to their own realms (not a fact , but my former workplace is IT related. So trust me with this). Jadi ketika kalian menganggu programmer dengan pertanyaan gak penting kalian itu hanya akan menambah setengah jam lagi sehingga si programmer ini bisa mulai kerja.

7. *nepuk bahu*

Kalau kalian melakukan hal ini ketika programmer lagi pake headset dan menatap serius ke layar komputernya. Ya jangan salahin kita juga kalau itu laptop/komputer bisa melayang ke muka kalian.

8. “Gue gak gitu ngerti sih, tapi bisa gak kalau kita….”

Hah. Lo aja gak ngerti masalahnya tapi sok-sokan mau nawarin solusi? ha ha ha. Lihat definisi diatas deh, programmers sejatinya adalah problem-solver , jadi kami akan sangat menghargai kalau kalian lihat baik-baik dulu masalahnya sebelum nawarin solusi.

9. “Perasaan gue kita harunya ngelakuin gini”

Dari jaman Mac masih 128K dan Windows masih versi 1.0, programmer itu cuman mengenal dunia biner kaku yang penuh logika. Satu dan nol. Request dan respond. Jadi gak usah bawa-bawa perasaan lah buat ngelawan logika.

10. “Ini kan kudunya gampang”

Menyelesaikan masalah dengan koding itu gak pernah gampang.

11. “Guys, status dong”

Misal nih ada website klien yang lagi down dan kita disuruh benerin, ya berarti emang tugas kita kan buat mengembalikan website tersebut sampe up lagi. Kita juga ngerti kalau klien perlu dikabarin prosesnya sampe mana. Tapi kalau terus-terusan ditanya gini kan malah gak kerja-kerja dong ya.

12. “Tolong bikin A/B test buat ukuran tombolnya dong”

Ini agak segmented sih buat front-end. Bukannya saya menyarankan untuk menghindari proses testing, tapi ya apa perlu sih ngabisin waktu seharian buat testing tombol 80px sama tombol 85px?

13. “Yaelah cuma nambahin chekcbox doang”

Sama kayak nomor 10. Bikin frustasi

14. “Loh kenapa?kirain udah siap di launch”

Seringkali kita ngerasa udah siap nih semuanya. Eh ternyata pas mau ditesting masih ada beberapa bug yang bikin mundur waktu launchnya. Ya emang selalu begitu, not a surprise on our world.

15. “Bisa gak tambahin fitur ini ini ini”

There’s nothing more demoralizing than requirements that constantly change.

16. “Gue punya ide keren nih, bisa gak tolong buatin. Nanti lo dapet bagiannya deh”

Programmers are problem-solver. Most of us are not idea people. Kalau emang ide lo sekeren itu ya bikin dulu aja sendiri MVP nya or at least mockupnya. Then we talk.

17. “Bukan kayak gini maksudnya”

Ya bukan mau kita juga diprotes gara requirements lo yang gak jelas.

18.”Jumat malem nih, hangout yuk”

Kami (kadang) gak ansos-ansos amat kok. Kami seneng juga bersosialisasi. Tapi kadang dengan deadline yang mepet, kami lebih seneng ngabisin waktu to get things done daripada hangout yang awalnya buat refreshing tapi gak bikin fresh juga.

19. “Kayaknya lo kudu kerja deh weekend ini”

Tapipak, saya harus kerja weekend kan gara-gara bapak ngajakin hangout tadi malem. ehe ehe ehe.

Most of our times we are talking with machines but we aren’t one. Programmers aren’t all that different from anyone else. We appreciate it when people(non-programmer) do 3 key things:

  • Respect our complexity of works
  • Provide us enough time to get it done
  • Give us the space we need to do our best

Most of non-programmers understand all of this, and I have enjoyed working with majority of non-technical people that come across during my career.

My point is, the best way to make sure you don’t frustate programmer are just be a reasonable and respectful human being. It is as simple as that.

Cheers.

Advertisements

Kebangkrutan Yahoo dan remeh temeh didalamnya

*Disclaimer : Tulisan ini tentu saja bukan tulisan serius penuh analisis tentang bagaimana Yahoo bisa bangkrut. Tulisan ini hanyalah sekelumit opini dari orang yang mengikuti berita soal teknologi dan hubungannya soal Yahoo. Go to Mashable or Business Insider if you want to find some serious article.

Minggu kemarin, dunia teknologi dikejutkan dengan kebangkrutan perusahaan raksasa yang bernama Yahoo yang kemudian dibeli oleh Verizon seharga 4.8 miliar dollar. Sebenarnya, harga Yahoo sendiri pernah mencapai puncaknya ketika tahun 2000. Kala itu, perusahaan raksasa ini ditaksir berharga hingga 125 miliar dollar.

Pada akhirnya, timing adalah segalanya. Untuk Yahoo, 16 tahun kemudian adalah sebenar-benarnya kemunduran hingga akhirnya bangkrut. Kalian bisa saja menghabiskan waktu seharian untuk cari-cari artikelnya secara mendalam kenapa Yahoo bangkrut. Simpan waktu kalian, cukup dengan membaca postingan ini 5 menit. Kalian akan tahu kesalahan Yahoo sehingga membuat perusahaan ini bangkrut.

1.Yahoo kebingungan membedakan pentingnya timing dan pentingnya menjadi yang paling pintar.

Kalian tahu yahoomail kan? Coba lihat disitu, apa yang paling mencolok? Yak betul. Banner iklan. Yahoo, sebagai penguasa portal web pada awal awal tahun membuat mereka takabur dan merasa uang bukan masalah. Lalu, apa yang perusahaan apabila bisa mendapatkan uang dengan mudah?Yak betul, mendapatkan uang lebih banyak lagi. Alih-alih menciptakan sebuah ekosistem yang kuat seperti Facebook atau Google, Yahoo malah terus-terusan menual slot banner ads mereka. Easy money.

Setelah punya uang, mereka berpikiran untuk membeli perusahaan lain dan (merasa) bisa menjalankannya lebih baik dari perusahaan itu sendiri. Sebut saja Tumblr, Geocities dan Broadcast.com yang dibeli oleh Yahoo dengan harga fantasis. Hasilnya?Nihil. Tindakan tersebut yang membuat Yahoo seakan tidak punya pilihan yang pasti perihal apa yang mereka inginkan.

2. Yahoo kurang inisiatif terhadap servisnya.

Yahoo Mail kalah dengan Gmail.

Yahoo Answers kalah dengan Quora.

Flickr kalah dengan Instagram.

Dan yang paling memalukan adalah Yahoo Search kalah dengan Google Search. Sebelum ada Google, Yahoo adalah penguasa mesin pencari di jagad maya.

Mereka punya uang, mereka punya jutaan user, mereka seharusnya bisa saja melakukan inisiatif untuk membenahi dan meningkatkan servis mereka. Tapi? mereka kurang inisiatif sehingga kalah terus-terusan oleh pesaing yang (padahal) masih baru.

3. Yahoo melepas aset paling berharganya sendiri

Di tahun 2005, Jerry Yang (Cofounder Yahoo) membeli 40% saham dari Alibaba sebesar 1 miliar dolar. Sembilan tahun kemudian, 40% tersebut bernilai 80 miliar dollar. Tapi tunggu dulu, di tahun 2012 dan 2014. Yahoo menjual beberapa persen saham Alibaba tersebut.

Jack Ma

Hari ini, Yahoo hanya memiliki 15% saham Alibaba. Lima belas persen saham tersebut sekarang bernilai 30 miliar dollar, hampir lebih besar enam kali dari nilai perusahaan Yahoo sendiri. Tapipak, kan lumayan itu 50 miliar yang terbuang.

4. Yahoo selalu salah pilih CEO.

Marrissa Meyers memang terlihat seperti CEO yang kurang kompeten. Apalagi setelah pembelian Tumblr di tahun 2013 dan penjualan saham Alibaba di tahun 2014. Tapi Marrissa Meyers akan terlihat jenius apabila dibandingkan dengan pendahulunya. Contohnya adalah Scott Thompson. Dibawah kepemimpinan dia, Yahoo memecat lebih dari 2000 karyawannya. Dia jugalah biang kerok penjualan sejumlah saham Alibaba.

Kemudian ada pula Terry Semel yang disebut-sebut sebagai CEO dengan track record terburuk. Salah satu ‘prestasinya’ adalah dengan menolak tawaran dari Microsoft untuk membeli Yahoo sebesar 40 miliar dollar. Rugi bandar gak tuh?

5. Yahoo cinta buta terhadap produknya.

Pada tahun 1998, Sergey Brin dan Larry Page pernah menawarkan Google kepada Yahoo dengan nilai ‘hanya’ 1 juta dollar. Yahoo menolaknya dengan harapan user akan lebih berkutat pada Yahoo directories dan melihat lebih banyak iklan.

Jerry Yang bertemu dengan Sergey Brin dan Larry Page

Tidak pernah terpikirkan sekalipun oleh Yahoo bahwa apa yang terbaik untuk user, (biasanya) terbaik juga untuk kemajuan perusahaan mereka. Dan ya tentu saja kita semua tahu bagaimana kisah ini berakhir . Google sekarang bernilai lebih dari 500 miliar dollar, sedangkan Yahoo tinggal sejarah.

Berbasa (yang sangat) basi

Alhamdulillah kita semua masih diberi umur untuk merayakan hari raya Idul Fitri di tahun 2016 ini. Idul Fitri tahun ini memang sudah lewat, namun kesannya masih membekas di pikiran kita; dari mulai repot mudik, bertemu keluarga besar, hingga perasaan tidak rela untuk kembali ke rutinitas setelah sejenak merasakan libur.

Lebaran memang sudah selesai, namun halal-bihalalnya akan segera datang. Bicara halal bihalal pastilah kita akan bicara soal momen reuni dengan berondongan pertanyaan basa (yang terkadang sangat) basi.  Berikut bentuk basa (yang sangat) basi yang terkadang mengusik emosi dan bagaimana cara menghindarinya.

“Kok gemukan/kurusan”

Obrolan seputar berat badan masih terlihat lucu apabila kita masih balita. Indikator balita sehat adalah gemuk, sedangkan kurus adalah kurang gizi. Tapi tahukah kamu, beranjak dewasa gak semua orang suka disinggung masalah berat badannya. Tidak jelas juga siapa yang mempelopori pertanyaan tersebut sebagai pembuka obrolan.

Kita yang disinggung “kok gemukan”, paling paling hanya bisa menimpali “iya nih” sambil tersenyum masam. Tapi tahu gak sih, that girl you called fat she’s starving herself. Atau mungkin kalian mau sok-sokan memuji, “kok kurusan sih” yang mungkin (malah lebih salah) karena mungkin that girl you called skinny she has been losing her weigh for over a year so she can fit into *your* societal imperative according to prejudiced, unhealthy and unrealistic ideal. Menggemuk atau tidak kan hak asasi manusia. Kok kalian yang ngurusin sih? (pun intended)

Ya mungkin memang sudah budaya kita ngomentarin fisik orang lain, kayak gak ada bahasan lain aja. Atau memang gak ada?

“Kerja dimana”

Gak ada yang salah dengan kalimat ini, kalau saja kalian nanya pada orang yang kerja kantoran dan atau berstatys pegawai. Tapi kita hidup di masyarakat heterogen, dimana gak semua orang jadi pegawai. Ada yang menekuni usaha nirlaba, ada yang berdagang, ada yang jadi freelancer atau ada pula yang gak kerja tapi udah kaya raya. Pertanyaan ini sudah jamak terdengar di momen kumpul-kumpul untuk adu gengsi sekaligus kepo mata pencaharian satu sama lainnya.

Pernah ada momen dimana saya nanya gini terus dijawab “Nganggur nih, masih nyari” . Ups, awkward moment deh. Atau kejadian kedua dimana saya nanya hal yang sama kemudian dijawab “Kenapa semua orang nanya gitu, ya? Gue kan enggak kerja, gue peneliti”. Dari situ saya berkesimpulan bahwa tidak semua orang merasa nyaman dengan pertanyaan tersebut. Solusinya adalah dengan merevisinya dengan ‘Lagi sibuk apa?’ karena menurut saya siapapun pasti punya kesibukan walaupun gak kerja.

“Kapan nyusul”

Kata tanya kapan ini masih terdengar oke sampai usia awal 20-an. Dari saat itu kata kapan mempunyai arti tersendiri dibanding kata tanya yang lain. Terlebih kalau pertanyaan ini ditanyakan sewaktu kondangan atau nikahan.

Paling-paling kita yang ditanya cuma bisa cengengesan sambil garuk-garuk kepala berharap ada jawaban di belakang sana. Seberes topik kapan-nyusul-nikah ini akan pula lahir kapan nyusul kapan nyusul lainnya.

Nyatanya, nikah itu beda dengan balapan motor atau F1. Gak ada garis akhir yang seragam untuk tiap-tiap orang. Kalau garis akhirnya saja sudah beda?Ngapain saling salip-menyalip kan? Hanya karena kamu berani nikah di usia belia bukan berarti kita harus nikah tiga milidetik setelahnya kan? Toh juga gak semua orang ingin menikah, bisa aja dia ingin jadi sugar daddy pertapa shaolin di gunung yang jauh dan hidup sendirian kan?

Setiap orang punya ikhtiar tersendiri untuk menyegerakan. Masing-masing punya takdirnya sendiri.

I had a dream talk with God face to face.

He said why people consider life is a race.

While it is actually just a phase.

 

Photo from Stocksnap

Setiap orang akan menikah pada waktu-Nya sejak enggak ada yang tau persis kapan peristiwa-peristiwa penting terjadi di hidup kita. Setiap orang akan menggemuk atau mengurus pada waktunya sejak enggak ada yang pernah tau kapan pola hidup berubah. Setiap orang akan gemilang dengan cara-Nya sejak enggak ada yang pernah tau kemana takdir akan berarah.

Ada sejuta cara mengawali obrolan di momen reuni. Berbasa-basi enggak harus basi karena kesantunan tetap harus diutamakan semenjak yang kita temui adalah makhluk berperasaan. Maka, berkatalah saat memang harus. Lebih baik diam saat ucapan dirasa enggak berdayaguna. Alasannya sederhana.

“Tongue has no bones but it’s strong enough to break heart”

Damarrama’s Top Albums 2015

Selamat tahun baru. Walaupun 2016 masih terpaut seminggu lagi, tapi kita semua pasti sudah merasakan atmosfir tahun yang baru. Seperti biasa, saya akan menuliskan beberapa album favorit saya sepanjang tahun ini. Mengingat-ingat kembali serta merangkum apa saja rilisan tahun ini yang saya dengarkan. Beruntunglah di jaman yang serba praktis ini sudah ada yang namanya fasilitas streaming musik beserta algortima rekomendasinya. Apapun yang saya dengarkan , besoknya sudah muncul artis yang (menurut algoritmanya) pasti saya suka. Selain itu, layanan streaming musik ini juga sangat membantu untuk tetap up to date dengan rilisan rilisan baru. Yang paling penting adalah semua ini bisa didapatkan dengan gratis dan L E G A L. Terima kasih Spotify dan Deezer (bukan postingan berbayar).

Kembali kepada topik pemilihan rilisan yang saya dengarkan di 2015 ini. Saya sendiri sebenarnya menemukan lebih dari 15 rilisan yang bisa ditulis, namun sepertinya cukup merepotkan juga apabila menulis terlalu banyak. Toh kelima belas rilisan yang saya tulis juga sudah bisa merangkum apa-apa saja yang menjadi favorit saya. Daftar berikut subjektif disusun berdasarkan tingkat kefavoritan, jadi ya udah percaya aja rekomendasi saya bagus. Asli deh.

 

15.   Courtney Bannet – Sometimes I Sit and Think, sometimes I just Sit

Courtney Bannet mencoba menciptakan lagu-lagu yang cukup relate-able dengan kehidupan manusia sekaligus menyenangkan untuk didengarkan. Album ini memberikan perspektif yang jelas kedalam jalan pikiran orang yang tidak tahu apa yang mereka mau. Normal saja kan, Courtney Bennet juga seorang manusia yang tidak perlu tahu segalanya.

14.  Tuxedo – Tuxedo

Semenjak dunia diguncang dengan demam ‘Uptown Funk’ merilis lagu dengan nuansa funk dan disko sepertinya adalah pilihan yang tepat untuk bisa diterima pasar. Melihat celah yang menguntungkan ini, Tuxedo mencoba mengambil alih pasar funk disco dengan merilis album self-titled. Nampaknya grup band besutan Mayer Hawthorne dan juga dibantu produser hip-hop, Jake One ini juga ingin mencicipi buah kesuksesan. Wajar saja jika albumnya terdengar seperti musik daur ulang, karena memang project ini sendiri sudah dimulai dari tahun 2007 dengan visi yang cukup simpel yaitu to make everyone dance. Teknik bass slap dan clapping-clapping yang bertebaran membuat album ini terdengar seksi. Sulit sepertinya membayangkan album yang bercita rasa sleek dan smooth seperti Tuxedo ini akan hadir dalam waktu dekat.

 

13. Troye Sivan – ‘BLUE NEIGHBOURHOOD’

Dalam album debutnya yang berjudul Blue Nighbourhood, Troye Sivan seakan berani untuk mengacaukan persebaran album-album pop sedih yang dikuasai Adele. Musiknya seperti Lana Del Rey, liriknya bijaksana melampaui anak seumurannya. Vokalnya terdengar effortless seperti Ed Sheeran atau Bruno Mars. Dengan melewatkan talenta yang sangat jarang terjadi di dunia musik, apalagi datang dari seorang remaja Australia. Anda akan melewatkan sesuatu yang penting apabila belum mendengarkan album ini.

 

12.   Alabama Shakes – Sound and Color

Sound & Color merupakan rilisan yang berani tapi juga penuh kehati-hatian. Beberapa eksperimen dan resiko, terkadang salah langkah yang diambil sudah diperhitungkan masak-masak oleh Alabama Shakes. Dalam rilisan ini Alabama Shakes menawarkan sebuah musik dengan terobosan terbaru tanpa tendensi untuk mengalienasi yang penuh dengan kejutan.

 

11. Jamie xx – In Colour

Setelah terlalu lama me-remix lagu-lagu Radiohead dan terlibat dalam pembuatan album Drake – Take Care. Jamie xx yang notabene sudah mainan turntable dari usia 10 tahun ; dan kini pada usia 26 tahun ia menciptakan masterpiecenya sendiri. In Colour adalah rilisan fenomenal dengan balutan musik elegan didalamnya.

10. Passion Pit – Kindred

Dengan durasi tidak lebih dari 40 menit, Kindred merupakan rilisan yang penuh dengan dikotomi dalam liriknya. Angelakos menyelesaikan materi album ini sambil berjuang melawan bipolar sindrom yang di deritanya. Ambil contoh lagu “Until We Can’t (Let’s Go)” yang merupakan curahan hati dari Angelakos tentang konsep ‘living very long’ yang menurutnya tidak akan dia alami: settling down , mempunyai anak dan merayakan hari tua dengan bahagia. Atau contoh lain dalam lagu “Looks Like Rain” yang bernuansa dreamy pop ini mengambil sisi optimis dari cerita kelam mengenai kiasan tentang awan hitam yang akan menyelimuti kehidupan kita semua.  Sure, there may be dark clouds overhead on a dreary day, but the water ensures new life can grow. Sekali lagi, Angelakos sukses mengolah pengalaman kelam tentang dirinya menjadi sebuah album pop yang powerful.

9. Brandon Flowers – The Desired Effect

Mr Brightside yang satu ini memang tidak diragukan lagi dalam kancah dunia permusikan. Selain tampan dan pembawaannya yang taat beragama ini saya bercita-cita kalau sudah besar ingin menjadi Brandon Flowers  menjadi Midas bagi apapun yang disentuhnya. Kalian tidak akan bisa menebak apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Brandon Flowers sebelum membaca apa yang dia buat diantara lirik-liriknya. Daripada membuat formula musik yang itu-itu saja dari tahun-tahun sebelumnya, Brandon Flowers membuat sesuatu yang baru setiap saat. That you imagine, is not quite the desired effect (pun intended).

8.  CHVRCHES – Every Open Eye

Kesuksesan debut CHVRCHES  dengan album “The Bones of What You Believe” sepertinya membuat mereka terlena. Album Every Open Eye ini sendiri menurut saya seperti ‘deflated beach ball’, banyak warna, tambalan dan pemanis disana-sini namun pada akhirnya mereka tidak melakukan suatu gebrakan baru. Begitulah industri musik, ketika mereka membuat hal yang relatif sama maka akan dianggap salah, ketika melakukan gebrakan baru juga dianggap salah. Terus dalam kasus CHVRCHES ini siapa dong yang paling bener? Mayberry. Untuk review lebih mendalam bisa dilihat di Houtskools.

7. Tame Impala – Currents

Band yang satu ini pasti sudah tidak asing di kalangan hipster-hipster era 2012an. Dengan album sebelumnya yang bertajuk “Lonerism” dengan hits single Elephant yang sangat catchy, sampai-sampai mungkin kalian kepikiran membeli Blackbery setelah mendengarkan lagu tersebut, kali ini Tame Impala kembali merilis album yang tidak-beigtu-catchy-namun-mempunyai-hook-yang kuat. Perbedaan paling mendasar antara kedua album tersebut adalah : Lonerism merupakan album yang cocok didengarkan selagi jalan, sedangkan Currents merupakan album yang cocok didengarkan ketika kita sedang duduk dalam gelap dan kesendirian sembari merenung. Album ini juga mempunyai wasiat bahwa untuk menemukan kedamaian kita harus menemukannya sendiri dalam diri kita.

6. Silampukau – Dosa , Kota, dan Kenangan

Silampukau mengambil hati saya sejak lagu Doa 1 dengan lirik potogan lirik “Duh gusti aku kesasar di jalur Indie, terima sablon kaos dan kadang gantungan kunci.”  Musik Silampukau adalah folk. Lengkap dengan gitar akustik, ukulele, harmoni vokal penuh karakter dan lagu-lagu melodius yang bagus. Lirik dan kisah-kisah tentang Surabaya lebih berkuasa ketimbang musiknya. Hal yang menarik dalam album Silampukau ini juga ada pada pemilihan liriknya. Tengoklah dalam lagu Si Pelanggan yang bercerita tentang kawasan Dolly. Pilihan kata yang mereka terapkan di lagu ini seolah membangun sebuah konstruksi sejarah dan masa kini untuk melihat persoalan dari kacamata yang lebih general. Membenturkan kata kafir dan frase krat-krat bir sudah barang tentu jadi serangan dahsyat untuk kenyataan. Tapi lihat lagi premis lain yang mengikuti; cinta tidak mesti merana dan banyak biaya, suaka bagi hati yang terluka, hidup yang celaka atau tempat mentari sengaja ditunda. Deretan yang lumayan panjang itu, tentu tidak bisa dipandang dengan kacamata moral semata, kan? Pamungkas album ini sendiri ada pada lagu Malam Jatuh di Surabaya. Kata mereka, “Tuhan kalah di riuh jalan.” Sebuah kalimat penuh tenaga yang buat saya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, karena ia telah menjadi kesimpulan paling penting dari Dosa, Kota dan Kenangan. Akhir kata , maju terus Silampukau semoga tidak berubah murahan seperti Ahmad Dha…

5. Barasuara – Taifun

Taifun adalah album rock paling lengkap yang dirilis tahun ini. Adalah sebuah album yang dikerjakan selama 3 tahun oleh supergroup bernama Barasuara yang tampaknya sudah menepati hype yang mereka dapat selama ini. Setiap lagu yang ada di Taifun seperti sebuah soundtrack entah itu pada fase pencarian jati diri, berusaha bangkit lagi dari kegagalan, atau meninggalkan masa lalu yang kelam. Dengarkan saja “Menunggang Badai”, “Tarintih” dan “Mengunci Ingatan” maka layar film kehidupan di otak kita masing-masing akan memilik isoundtrack terbarunya diiringi lagu-lagu Barasuara. Barasuara akan memporak-porandakan jiwa kalian dan memberikan telinga kalian sesuatu yang baru untuk didengar, yang akan memberikan kita semua sebuah awal baru di bawah langit yang sama. Seperti taifun.

4. Carly Rae Jepsen – E•MO•TION

Album pop terbaik tahun 2015. Carly Rae Jepsen membuktikan bahwa dirinya bukan hanya sekedar one hit wonder kacangan. Produksi yang rapi, lirik yang gampang  dicerna dan irama ceria yang akan membuat album ini really really really really disukai. Sudah pernah saya review di Houtskools.

Capek ya? Tenang, sebentar lagi kita akan memasuki area 3 besar. Siapa-siapa saja yang akan masuk top-list ini?tetap ikuti tulisan ini ya

Continue reading

(not your kind) Generic Wedding Songs

Kuatkan diri kalian.

not-your-kind-songs

Lebaran hampir tiba. Hari kemenangan dimana kita semua akan berpesta karena telah berhasil menaklukan hawa nafsu selama sebulan penuh. Hari kemenangan dimana seolah makanan tidak pernah habis. Hari kemenangan dimana kita bisa berkumpul dengan keluarga,dari yang terdekat hingga yang terjauh. Oh wait,did I said saudara jauh?Yak betul sekali,saudara jauh. Saudara yang hanya bertemu setaun sekali dan berbasa-basi dengan pertanyaan “Kapan nikah” nya itu.

Omong-omong soal pernikahan, kita semua pasti pernah sekurang-kurangnya sekali dalam seumur hidup menghadiri pernikahan. Pernikahan dimana ada katering,keluarga yang menikah dan band pengiring pernikahan. Berbicara soal band pengiring sendiri tidak luput dari playlist pernikahan yang itu-itu saja. Seperti misalnya The Power of Love nya Celine Dion yang sayup sayup terdengar saat kita sedang menyantap gule kambing atau When I Fall in Love nya Nat King Cole yang seakan sudah menjadi lagu wajib di tiap-tiap pernikahan. Beberapa pernikahan yang pernah saya hadiri pernah mengalunkan cheesy song yang cukup kekinian seperti Just The Way You Are nya Bruno Mars ataupun I’m Yours nya Jason Mraz (even worse). Lirik yang menggambarkan kekaguman dan alunan musik yang syahdu mungkin menjadi formula pakem untuk mengiringi pernikahan. Lagu-lagu tersebut sudah kelewat sering diputar,sehingga ke-cheesy-an-nya menjadi nirmakna.

Don’t get me wrong, I like being cheesy .But, why choose the cheesy songs, the songs they play at the local supermarket when you’re buying toilet paper?

Berikut adalah beberapa playlist lagu-lagu pernikahan versi saya yang sekiranya bisa sedikit menggantikan playlist yang kelewat overrated.

1. WE BELONG – RAC  ft KATIE HERZIG

Terlihat jelas dalam liriknya  “you belong to where your soulmate is going”. Love win, Love always win people !

2. CAN’T DO WITHOUT YOU – CARIBOU

Bukankah pernikahan seharusnya sekali seumur hidup? lagu ini cocok untuk menjadi forever anthem kalian berdua.

3.  DIGITAL LOVE – DAFT PUNK

Fist pump the air, reach for the stars, it’s your wedding day for Pete’s sake! Bust out those mean air guitar moves like nobody’s watching.

4. HIGH FOR THIS – THE WEEKND

Lagu ajakan berbuat dosa kepada pasangan. Ahelah,udah halal ini,udah gak dosa dong.

5. TAKE CARE – BEACH HOUSE

Tidak dapat dipungkiri bahwa lagu ini memang kurang dalam energi positif,sedikit bertentangan dengan konsep pernikahan yang berbahagia. Namun, kalau dilihat lebih jauh lagunya bercerita tentang kebutuhan insan manusia untuk saling menyayangi satu sama lain. Ya setidaknya setelah mendengarkan lagu ini kalian bisa mengandalkan pasangan untuk membawamu dari tempat persembunyian sembari menyeka airmata yang sudah ditahan terlalu lama. Uwuwuwuwuw.

6. SIMPLE SONG – THE SHINS

A classic uplifting, explosive and hip swaying indie love song if ever I heard one.

7. HEROES – DAVID BOWIE

Karena kalian lah pahlawan selama sehari,di hari pernikahan kalian.

8.  STUPID THINGS – YO LA TENGO

“And I still want. We always wake before we fall
I always know that when we wake up you’re mine. Wake up . . . you’re mine”

Seperti harapan dan keinginan bahwa ketika terbangun dari pagi hari kita masih akan mencintai orang disebelah kita.

9. PLAYGROUND LOVE – AIR

Nuansa jazzy yang kebokep-bokepan dari lagu inilah yang bikin semuanya a m b y a r.

10.  ANYONE ELSE BUT YOU – THE MOLDY PEACHES

Cinta tidak melulu perkara kesempurnaan seperti  candle light super romantic dinner  atau tampang serupa Chelsa Islan. Cinta perkara merelakan ketidaksempuranaan dari pasangan seperti : tukang ngambek, belum pernah nonton Star-Wars dan ternyata dia bukan Chelsa Islan. Karena untuk menikah diperlukan komitmen semacam itu,komitmen yang ““I don’t see what anyone can see in anyone else…. but you. AAAAAW

Jadi ketika ada saudara jauh yang bertanya “Kapan Nikah” pada saya waktu lebaran nanti. Akan saya tunjukan playlist sembari berkata “Tante coba deh tebak 3 dari 10 lagu di playlist ini.Kalau udah bisa baru boleh nanya lagi”

 

p.s: You can stream the full playlist here

 

The Man Without Fear

Disclaimer : Firstly, this is an entire Season 1 review with NO SPOILERS. Secondly, I have never read the comics and I don’t remember anything from that Ben Affleck movie except that it was awful. This review is from a fresh perspective without comparisons to any previous media. 

Daredevil is an oft maligned character, deemed tier B. He doesn’t have the wealth, charm, and gadgets of Iron Man. He doesn’t have the patriotic appeal of Captain America. He doesn’t have the strength or healing powers of Spider-man. He’s been called the poor man’s Batman. But, Matt Murdock, the man under the Daredevil mask, is one of the most complex characters in comic books and certainly the most tortured character in comic books.

daredevil-1

They say you create drama by putting your characters through the wringer and you give them depth by giving them baggage. Stan Lee had followed that guidance well with previous characters. He gave Peter Parker guilt over his uncle’s death. He gave Tony Stark a damaged heart. Stan and Bill Everett gave Matt Murdock similar baggage – guilt over his father’s death and blindness inflicted upon him as a child. It isn’t just Matt Murdock struggling with what he is becoming and the world around him. The series does an excellent job of giving the supporting characters questions to deal with. Foggy Nelson, Matt’s partner, is the naive angel on his shoulder. Matt and Foggy are lawyers. Their career is built around a respect for law and order, and yet Matt has to subvert all of that to be Daredevil.

The story, the writing and the execution are pitch-perfect with unexpected twists everywhere, . First few episodes jump back and forth from past to present, giving viewers the necessary backstory for all the characters. We don’t just see the show from Matt’s perspective, but also from the perspective of Wilson and Foggy. It can get really gory at times but that’s the flavor of the show: dark, damp and in-your face.

Daredevil-Deborah-Ann-Woll-Karen-Page-970x545

The second best thing of the show are the fight sequences which are amazing in itself. Gritty, non-outlandish and wonderfully choreographed with no effort made to soften the show for more sensitive viewers, the fight-scenes incorporate a myriad of martial arts from ninjutsu, aikido, jujitsu and kick-boxing.

And here comes the ugly.

The action is average. If you were expecting typical Marvel visual and graphic stuff then you might be disappointed since these are mostly street and fist fights. No special weapons of superpowers.

People are sometimes too indestructible. Vladimir should have died much sooner than he did, and he should not have been walking around and firing weapons after all of his injuries.

wilson-fisk-netflix-kingpin-caid-donofrio

Fisk was unrealistic. He speaks multiple languages and is a great martial artist and acquired tons of money and power, how? Put together, this was all a bit much, and I didn’t like that they portrayed him as being able to hold his own against Daredevil in a fight without justifying it in any way.

Final Verdict

Overall this show is a hell-lot better than what I was expecting because no one expects an entire season to be perfect. This is yet another masterpiece in Marvel’s gallery.

The greatest trick the Devil ever pulled

928462-Angels--Demons

You may believe in the Devil, but do you know who he really is?

It’s often said that the greatest trick the devil ever pulled was convincing the world he doesn’t exist. But was it? I reckon he did something a lot more subtle and nefarious.

Watch the news. Read a paper. Heck, read the Bible. The Q’ran. The Talmud. Look at all the things God (supposedly) did, and does. Smiting the disobedient, wiping out whole cities and peoples, flooding the World, torturing innocents just to see if they love him enough. Killing babies. Roasting people in Hell for all eternity. Sending tsunamis, floods and earthquakes that wipe out thousands of innocent people, just to punish a few guys for having anal sex. As it’s often been pointed out, these are not the actions of a sane human being, let alone a loving, well-adjusted deity.

A huge proportion of the things God does are demonstrably evil. And yet he keeps telling us he loves us. These are the actions of an abuser, not a loving parent – and certainly not a loving god.

Based on what we know, isn’t it more likely that the greatest trick the Devil ever pulled was convincing the world that he was God?