Damarrama’s Top Albums 2016

5

Dua ribu enam belas. Sebuah tahun yang panjang dan mengerikan untuk dilewati. Dari mulai banyaknya legenda yang meninggal hingga terpilihnya Darth Vader dalam pemilu di Amerika Serikat. Diantara beberapa peristiwa cukup mengerikan yang terjadi di tahun ini marilah kita sejenak menyingkir kemudian lebih bersyukur bahwa tahun ini dipenuhi dengan album-album musik yang memanjakan telinga.

Terlalu banyak malahan, inginnya sih membuat daftar ini lebih dari lima belas album, tapi nampaknya saya terlalu malas untuk mengisi commentary section (maafkan -__-). Seperti biasa, daftar ini subjektif dan disusun berdasarkan tingkat kefavoritan. Without further ado, berikut album musik dari 2016 yang menyita perhatian saya.

15. Modern Baseball – Holy Ghost

Menggabungkan pop punk dengan semangat garage band menjadikan album ini mempunyai  nuansa yang unik. Isi albumnya pun tidak melulu bercerita soal teenage angst (seperti pop punk pada umumnya). Dengan mengambil tema yang agak berat soal kehilangan dan perasaan depresi salah satu personelnya album ini berhasil memunculkan hook yang cukup memorable dan meledak-ledak. Holy Ghost merupakan paradoks, keteraturan dalam kesemrawutan. Organized chaos. Album ini juga yang mengingatkan pada masa-masa remaja dimana stage diving merupakan hal paling keren yang bisa kita lakukan. These guys are what’s it all about.

14. Band of Horses – Why Are You OK

Band of Horses merupakan salah satu band yang lagunya akan selalu cocok ditempatkan sebagai soundtrack sebuah film atau tv series. Ben Bradwell, merupakan sosok dibalik fenomena tersebut. Vocal ngondoy-nya yang khas ditemani dengan nada-nada minor dari genjrengan gitarnya dan ketukan drum yang statis merupakan formula yang jitu yang membuat Band of Horses dengan cepat disukai oleh khalayak ramai. Dalam penulisan liriknya, Bradwell menggunakan frasa pasif-agresif semacam “You stay here till the ghost is clear”, “I love you so much I’m going to throw up”, dan “As far as we’ve come, we’ve still further to go”. Pada akhirnya, Why Are You OK merupakan album yang OK dalam enam tahun terakhir dalam karier Band of Horses ini.

13. A Tribe Called Quest – We Got It From Here… Thank You 4 Your Service

Setelah 18 tahun lamanya, akhirnya A Tribe Called Quest kembali mengeluarkan album terbarunya yang sarat dengan muatan politik. Salah satu lagunya bahkan dengan cerdas dapat memperkirakan hasil dari pemilu di Amerika Serikat bulan November kemarin. Terlihat dari “For Tyson types and Che Figures / Let’s make somethin’ happen” adalah sebuah ajakan untuk sayap kiri (demokrat sosialis) untuk melakukan revolusi. Sebagaiman album hip-hop bernuansa OG lainnya, ATCQ tetap dapat memberikan kritik sosial tanpa mengurangi nuansa yang membuat mereka menjadi legenda. Hal lain yang membuat album ini berbahaya adalah sebuah track penutupnya yang berjudul “The Donald”. Surprise surprise, alih-alih soal kritik terhadap Presiden terpilih Amerika, lagu ini justru merupakan sebuah penghormatan terhadap Phife Dawg (salah satu personel ATCQ yang beru meninggal). Lagu ini bisa dengan sangat menyentuh menggambarkan peninggalan darinya berupa ATCQ. Angkat topi untuk ATCQ yang sudah mau turun gunung untuk membuat sebuah magnum opusnya. Tidak ada yang bisa diucapkan lagi kecuali Thank You 4 Your service.

12. Japanese Breakfast – Psychopomp

Perpaduan antara post rock dan dream pop bertemu dengan vokal twee pop. Ada banyak atmosfir yang disajikan dalam album ini. Melodi yang disajikan pun cukup beragam dan bisa memberikan nuansa sendu. Sebuah album yang setelah didengarkan dapat memberikan perasaan optimis.

11.  Metallica – Hardwired… to self-destruct

Sudah jadi rahasia umum bahwa band yang merilis lebih dari empat album sebaiknya bubar saja atau jika saja beruntung tidak bubar maka fansnya akan terbagi menjadi dua. Fans yang mengharapkan mereka terus berdinamika atau fans yang mengharapkan mereka untuk kembali ke bentuk awalnya. Tidak terkecuali dengan Metallica. Setelah Black album tidak sedikit fans yang jejingkrakan mendengar Master of Puppets atau singalong pada lagu Enter Sandman. Saya sendiri bukan seorang purist, lebih suka Metallica pada era Black album.

Semua berubah pada tahun 2008, waktu saya pertama kali mendengarkan Ride the Lightning saya tidak tahu bahwa lagu tersebut adalah lagu dari Metallica. Dengan produksi ala-ala tahun 80an saya berpikir “Wah gila, ini band oke juga bisa niruin Metallica” hingga pada akhirnya saya menyadari bahwa itu adalah Metallica yang mencoba mengcopy-cat Metallica.

Hardwired…to self-destruct adalah apa-apa yang ada pada album Death Magnetic dalam versi yang lebih baik. Hyper-speed drumming, riff gitar yang bersuara seperti senapan otomatis, bluesy notes, vokal Hetfield yang cheesy hingga lagu-lagu yang singalong-able semua ada disana. Walaupun bukan sebuah album yang sempurna namun tetap sebuah karya yang dapat menggerakan kita semua untuk berdoa “Sehat-sehat terus ya mbah biar pada bisa bikin album yang keren”.

10.Christabel Annora – Talking Days

Untuk urusan penyanyi wanita saya selalu memilih pihak yang kurang mainstream. Seperti halnya saya memilih Monita Tahalea dibanding Raisa atau Christabel Annora dibanding dengan Danilla Riyadi. Ya nama terakhir yang saya sebut mungkin memang kurang familiar di khalayak ramai. Ada yang spesial saat membicarakan soal Christabel Annora, dia mungkin bukan definisi “wanita cantik” pada umumnya (toh cantik itu relatif). Namun ada hal-hal dalam dirinya yang membuat kita (atau hanya saya?) penasaran, orang Perancis menyebut nya dengan je ne sais quoi. 

Begitu pula dengan albumnya yang walaupun banyak memberikan nuansa sendu tapi tetap terasa manis. Ada 13 lagu yang terdapat di album rilisan Barongsai Records itu. Keseluruhannya memiliki benang merah antara satu sama lain. Sangat menyenangkan jika didengar urut dari track pertama hingga akhir. Christabel Annora memang sengaja menyusunnya cukup runut sesuai rutinitas kebanyakan orang. Mulai dari bangun tidur, melakukan aktivitas, berpolemik, bersuka-cita, hingga kembali tertidur; inilah yang dinamakan ampuh menyita banyak pasang telinga untuk memenuhi playlist hariannya.

Talking Days merupakan sebuah album perkenalan manis dari Christabel Annora yang membuat saya ingin membalas

“Hai Christabel, nice talking to you too”

9. AURORA – All My Demons Greeting Me as a Friend

AURORA adalah nama panggung dari penyanyi berusia 19 tahun yang menggetarkan panggung Nobel Peace Prize 2015 dengan penampilannya mengcover lagu Half The World Away dari Oasis yang berhasil menyita perhatian dari artis-artis senior lainnya. Yang menyita perhatian adalah suaranya yang tajam seakan membelah sunyinya ruangan auditorium tersebut. Albumnya sendiri mempunyai konsep yang menarik. Terinspirasi dari Bob Dylan dan Leonard Cohen, Aurora berhasil menyampaikan pikiran dan gagasan yang jauh melebihi usianya. Sama seperti Lorde, album ini juga bercerita tentang escapism, cinta yang hilang hingga instrospeksi terhadap diri sendiri. Jika stereotipe artis pop adalah buruk, Aurora mencoba mendobrak stigma itu. Album ini merupakan salah satu buktinya.

8.The 1975 – I like it when you sleep, for you are so beautiful yet so unaware of it

Setelah menelurkan debut albumnya pada tahun 2013, The 1975 kembali beraksi dengan album terbarunya yang berjudul I like it when you sleep. Hasilnya tak kalah impresif dari debutnya. Meski materi-materi dalam album kedua ini lebih abstrak dan dewasa pada penulisan liriknya namun tak serta merta melucuti warna musik The 1975 yang penuh warna. Riuh deng an energi melankolis, I like it when you sleep, for you are so beautiful yet so unaware of it  merangkum sejumlah balada eksentrik tentang cinta. Permainan instrumen eletronika maupun bunyi-bunyian organik mampu membangun atmosfer eksotis dalam tubuh pop album ini.

7. David Bowie – Blackstar

Salah satu album terkelam dan paling eksperimental dari Bowie. Di dominasi oleh nada-nada gloomy bernuansa jazz, Bowie seakan menyihir kita untuk berkontemplasi tentang perkara kematian. Tujuh tembang dalam album ini adalah salah satu candu terbaik untuk berkontemplasi dengan diri sendiri.

6. Kaytranada – 99.9%

Ibaratkan sebuah spektrum warna, racikan hip-hop dan EDM dari seorang DJ Kanada bernama Kaytranada bekerja dengan menampilkan seluruh warna tersebut. Sensasi-sensasi terbaik mengalir dari eksplorasi instrumen tabuh dan petik yang tesinkronisasi dengan energi synth.99.9% membuat Anda berjingkrak, melayang, dan juga duduk terdiam demi menemukan jiwa Anda yang sesungguhnya. Lantas lantunan “If you had everything you’d ever wanted. Right in front of me, what’s it gonna be?” akan jadi klimaksnya.

5. Weezer – White Album

Although this album is not the most impressive album from Weezer, but given the last decade of their discography, I have an urge to say that The White Album is, hats off, the best Weezer album since…well, since it became so hard to agree on what the last great Weezer album was.

4. Trees & Wild – Zaman Zaman

Lupakanlah soal album pertama mereka yang berjudul ‘Rasuk’, ‘Zama Zaman’ merupakan sebuah monster yang berbeda. Ada kemiripan yang menarik antara The Trees and The Wild dengan Bon Iver. Meski cukup berbeda secara musikal, TTATW dan Bon Iver – atau dalam hal ini Remedy Waloni dan Justin Vernon – tampaknya memiliki cara yang sama untuk memaknai momentum. Setelah menuai pujian di album sebelumnya, keduanya malah nyaris vakum dan mengabaikan “kesempatan” yang ada untuk justru mengubur presence yang telah mereka ciptakan. Baru setengah dekade kemudian (“Rasuk” dirilis 7 tahun yang lalu, dan “Bon Iver” dirilis 5 tahun yang lalu), mereka kembali dengan materi anyar. Dan, alih-alih kembali untuk merayakan dan bernostalgia dengan konsep lama yang membuat mereka menjadi pujaan fansnya, Remedy dan Vernon sama-sama kembali dengan amunisi baru yang dsiap ditembakan kepada ekspektasi yang ada di kepala pendengarnya. Jika amunisi Vernon adalah absurditas penulisan judul lagu dan glitch yang membuat bingung para penggemar denting gitar akustik yang bernuansa sendu melagu (pun intended), maka senjata Remedy di album comebacknya adalah eksistensi noise atmosferik yang dominan di hampir seluruh lagunya. Keberanian ini jelas patut diapresiasi. Bahwa TTATW berani keluar dari zona nyaman mereka dan mau menjelajahi area baru.

Eksplorasi dan eksperimentasi. Dua kata kunci untuk menggambarkan keseluruhan album ini. Mereka seakan benar-benar mendobrak batasan-batasan yang ada dengan membuat lagu-lagu yang berdurasi cukup panjang. Hanya dua lagu yang durasinya di bawah lima menit, bisa dibilang lagu-lagu tersebut merupakan semacam jembatan penghantar ke lagu selanjutnya. Seperti dalam trek “Srangan” yang cukup untuk membuat kita rehat sejenak untuk kemudian kuping kita dihajar lagi di lagu selanjutnya, “Monumen”.

Tujuh tahun pun rasanya dapat dimaklumi untuk sebuah album yang telah lama dinanti dari sebuah grup band. Karena mereka jelas mampu membayar lunas penantian panjang itu dengan menghadirkan album berkualitas yang tetap mampu mempesona para pendengarnya. Butuh sedikit waktu untuk menyelami kreativitas TTATW di “Zaman, Zaman”, dan kalian akan menemukan jawabannya setelah beberapa kali mendengarkan album ini dari awal hingga akhir.

Akhirnya sampailah kita pada tiga besar dari daftar ini. Simak terus ya

Continue reading

Advertisements

(Love Letter) To my second password

Dear you,

When was the last time we’re seeing each other? About 3 months ago? or maybe about 2 weeks ago when I was sign up for that newsletter that required my password to be strong with those capital, number and used of punctuation mark? Great times isn’t it? Feels like yesterday. Do you remember when I tries to typing you almost fifth times just to make sure it’s the correct one? I’m hopeless that time, I thought I would never finish setting up that account. That’s why I love about you – you always keep me guessing.

We knew that our time back there was precious. I know that we want spent more time together, but it’s complicated I supposed. I still seeing my main password, but you have to believe me when I said that my main password is nothing compared to you. The only thing that keeps us together is the reason that my main password is knew about my past through the embarrassing Yahoo mail account. Put you in my position, do you know how much humiliation could be done to my reputation if that information leaked?

When it came to attention I gave to my main password, I just changed the number when it’s mandatory. That’s it. That is how I care about my main password. But you, you’re different. You are special. With your nonsensical combination of symbols, numbers, and upper- and lowercase letters. Do you know how many times I’ve clicked, “Forgot my password,” and entered my pet’s name and the city I was born for you? I wouldn’t do that for any old password.

You know I want you to be in my life, but it’s easier said then done. I have been with my main password for two years now. Right now, my main password is pretty insecure compared to you. I won’t deny that you’re endowed with a more impressive length. I’m not the only one who thinks your character number is impressive–several websites have voiced their approval. You should be flattered, you’re the star here.

Every time we meet again, you accuse me of using you. You accused me that I want to be together when my main password is not strong enough to fulfill the requirement. Now that is how you wrong. The main reason why you’re special is because our spontaneous meeting. Don’t you think when I’m using you for main password it will be less serendipitous, growing duller and duller until I finally store you in my browser like a box of baking soda in the back of the refrigerator. I don’t want that to be us. What we have is too good to be ruined by routine.

For you, I did something I’ve never done before. You may not believe this, but I have you written in notebook that I keep in my desk. You’re right there next to my paperclips and post-its in a place of eminent my main password has never occupied. From time to time I open that little notebook and look fondly upon you when I have one last try before I’m locked out of an account. It’s in these precious moments that you mean the most to me.

That brings why are we here today: I need you. I needed you more than ever before. I’m creating an account somewhere to receive free one-month subscription, and the password requirements are too demanding for my main password. You’re my only hope, alternate password. I know you don’t think you can trust me, but I’m going to change. What if I put you on my Gmail account login? That would be a big step for both of us! I know it’s about time I keep my promises make more time for you, but what do you say? Can we make this work again, at least this once until I can opt-out and unsubscribe from this account? Please?

Cinta Tanah Air

Nasionalisme bukanlah perkara siapa yang pernah mengikuti upacara bendera terbanyak, dan hapal pembukaan UUD 1945.

Nasionalisme bukan soal siapa yang paling mencintai negeri ini kemudian menolak lupa terhadap kesalahan negerinya.

Nasionalisme, tentu saja bukan hanya di baju. Tidak bisa diukur dengan seberapa sering kamu mengenakan batik.

Nasionalisme, disalah kaprahkan dengan mengagungkan jargon “…tanyakan apa yang bisa kamu berikan pada negara”.

Nasionalisme, tidak melulu merasa yang paling benar. Menolak tunduk terhadap semua asing.

Nasionalisme, bukan soal seberapa fasih kamu menggunakan bahasa Indonesia. Menghapal kbbi yang kemudian bisa kamu garis bawahi dan cetak tebal apa arti nasionalisme itu sendiri.

Nasionalisme semestinya tidak perlu deklarasi. Pun tidak perlu kesepakatan perihal kesetiaan dalam membela negara.

Nasionalisme, bukan pula soal siapa yang mengibarkan bendera merah putih dengan prosesi lebih hebat ; entah di puncak gunung atau di dasar laut.

Nasionalisme, barangkali adalah keikhlasan dalam menyikapi apa-apa yang tidak bisa terengkuh oleh negara ini.

Yet after all this time.

Always.

19 perkataan yang ngeselin buat programmer

Programmer

n. [proh-gram-mer]

Someone who solves a problem you didn’t know you had in a way you don’t understand.

see also : Wizard , Magician

Programmer mungkin saja menghabiskan hampir setiap waktunya untuk berkomunikasi dengan mesin. Mengenal hanya dua inputan, 1 atau 0. Namun bukan berarti mereka adalah mesin. Programmer is a human too who also crack under pressure. Mereka bisa juga merasa frustasi. Frustasi karena hal internal atau eksternal. Omongan dari non-programmer adalah satu dari sekian banyak hal eksternal yang bisa membuat mereka merasa kesal. Berikut celotehan dari muggles (baca:non-programmer) yang seringkali bisa bikin programmer gets hot under their collar.

(sssttttt, nomor 18 akan membuatmu tercengang.)

1. “Masih lancar kan ya semua?”

Honestly, saya kurang paham ekspresi untuk menanggapi ungkapan seperti ini. Mungkin semua memang masih lancar, tapi kami itu berurusan dengan hal yang sangat fragile yang dalam hitungan menit bisa ambyar. Makanya saya gak bisa ngasih jawaban terhadap hal yang saya sendiri gak bisa ngejanjiin.

2. “Kan emang tanggal segitu deadline nya”

Semua programmer benci deadline. Masalah yang kita temui itu sangat kompleks, jadi bikin deadline untuk hal yang kompleks kayak gitu hanya akan terlihat konyol.

3. “Bebas lah, pake cara yang paling cepet aja”

Makasih ya udah ngasih solusi (yang kurang berguna). Tapipak, saya gak akan ambil cara ini kalau dari awal bapak gak ngasih tanggal deadline yang mepet dan gak realistis.

4. “Liat deh, masih ada bug nih”

Bugnya muncul ya karena saya pake cara yang paling cepet. Yang nyuruh pake cara cepet siapa hayo?Ya menurut bapak aja deh.

5. “Eh minta tolong dong, bisa tolong itunya di anuin gak”

Maap, maap nih ya saya cuma terima perintah dari Project Manager atau programmer yang lebih senior dari saya. Don’t get me wrong, saya suka bantu orang tapi hal-hal kayak gini yang bikin nambah kerjaan dan mengurangi kebahagiaan orang-orang.

6. “Sori ganggu, cuma mau tanya ini”

Programmer kira-kira membutuhkan waktu minimal 30 menit for immerse to their own realms (not a fact , but my former workplace is IT related. So trust me with this). Jadi ketika kalian menganggu programmer dengan pertanyaan gak penting kalian itu hanya akan menambah setengah jam lagi sehingga si programmer ini bisa mulai kerja.

7. *nepuk bahu*

Kalau kalian melakukan hal ini ketika programmer lagi pake headset dan menatap serius ke layar komputernya. Ya jangan salahin kita juga kalau itu laptop/komputer bisa melayang ke muka kalian.

8. “Gue gak gitu ngerti sih, tapi bisa gak kalau kita….”

Hah. Lo aja gak ngerti masalahnya tapi sok-sokan mau nawarin solusi? ha ha ha. Lihat definisi diatas deh, programmers sejatinya adalah problem-solver , jadi kami akan sangat menghargai kalau kalian lihat baik-baik dulu masalahnya sebelum nawarin solusi.

9. “Perasaan gue kita harunya ngelakuin gini”

Dari jaman Mac masih 128K dan Windows masih versi 1.0, programmer itu cuman mengenal dunia biner kaku yang penuh logika. Satu dan nol. Request dan respond. Jadi gak usah bawa-bawa perasaan lah buat ngelawan logika.

10. “Ini kan kudunya gampang”

Menyelesaikan masalah dengan koding itu gak pernah gampang.

11. “Guys, status dong”

Misal nih ada website klien yang lagi down dan kita disuruh benerin, ya berarti emang tugas kita kan buat mengembalikan website tersebut sampe up lagi. Kita juga ngerti kalau klien perlu dikabarin prosesnya sampe mana. Tapi kalau terus-terusan ditanya gini kan malah gak kerja-kerja dong ya.

12. “Tolong bikin A/B test buat ukuran tombolnya dong”

Ini agak segmented sih buat front-end. Bukannya saya menyarankan untuk menghindari proses testing, tapi ya apa perlu sih ngabisin waktu seharian buat testing tombol 80px sama tombol 85px?

13. “Yaelah cuma nambahin chekcbox doang”

Sama kayak nomor 10. Bikin frustasi

14. “Loh kenapa?kirain udah siap di launch”

Seringkali kita ngerasa udah siap nih semuanya. Eh ternyata pas mau ditesting masih ada beberapa bug yang bikin mundur waktu launchnya. Ya emang selalu begitu, not a surprise on our world.

15. “Bisa gak tambahin fitur ini ini ini”

There’s nothing more demoralizing than requirements that constantly change.

16. “Gue punya ide keren nih, bisa gak tolong buatin. Nanti lo dapet bagiannya deh”

Programmers are problem-solver. Most of us are not idea people. Kalau emang ide lo sekeren itu ya bikin dulu aja sendiri MVP nya or at least mockupnya. Then we talk.

17. “Bukan kayak gini maksudnya”

Ya bukan mau kita juga diprotes gara requirements lo yang gak jelas.

18.”Jumat malem nih, hangout yuk”

Kami (kadang) gak ansos-ansos amat kok. Kami seneng juga bersosialisasi. Tapi kadang dengan deadline yang mepet, kami lebih seneng ngabisin waktu to get things done daripada hangout yang awalnya buat refreshing tapi gak bikin fresh juga.

19. “Kayaknya lo kudu kerja deh weekend ini”

Tapipak, saya harus kerja weekend kan gara-gara bapak ngajakin hangout tadi malem. ehe ehe ehe.

Most of our times we are talking with machines but we aren’t one. Programmers aren’t all that different from anyone else. We appreciate it when people(non-programmer) do 3 key things:

  • Respect our complexity of works
  • Provide us enough time to get it done
  • Give us the space we need to do our best

Most of non-programmers understand all of this, and I have enjoyed working with majority of non-technical people that come across during my career.

My point is, the best way to make sure you don’t frustate programmer are just be a reasonable and respectful human being. It is as simple as that.

Cheers.

Kebangkrutan Yahoo dan remeh temeh didalamnya

*Disclaimer : Tulisan ini tentu saja bukan tulisan serius penuh analisis tentang bagaimana Yahoo bisa bangkrut. Tulisan ini hanyalah sekelumit opini dari orang yang mengikuti berita soal teknologi dan hubungannya soal Yahoo. Go to Mashable or Business Insider if you want to find some serious article.

Minggu kemarin, dunia teknologi dikejutkan dengan kebangkrutan perusahaan raksasa yang bernama Yahoo yang kemudian dibeli oleh Verizon seharga 4.8 miliar dollar. Sebenarnya, harga Yahoo sendiri pernah mencapai puncaknya ketika tahun 2000. Kala itu, perusahaan raksasa ini ditaksir berharga hingga 125 miliar dollar.

Pada akhirnya, timing adalah segalanya. Untuk Yahoo, 16 tahun kemudian adalah sebenar-benarnya kemunduran hingga akhirnya bangkrut. Kalian bisa saja menghabiskan waktu seharian untuk cari-cari artikelnya secara mendalam kenapa Yahoo bangkrut. Simpan waktu kalian, cukup dengan membaca postingan ini 5 menit. Kalian akan tahu kesalahan Yahoo sehingga membuat perusahaan ini bangkrut.

1.Yahoo kebingungan membedakan pentingnya timing dan pentingnya menjadi yang paling pintar.

Kalian tahu yahoomail kan? Coba lihat disitu, apa yang paling mencolok? Yak betul. Banner iklan. Yahoo, sebagai penguasa portal web pada awal awal tahun membuat mereka takabur dan merasa uang bukan masalah. Lalu, apa yang perusahaan apabila bisa mendapatkan uang dengan mudah?Yak betul, mendapatkan uang lebih banyak lagi. Alih-alih menciptakan sebuah ekosistem yang kuat seperti Facebook atau Google, Yahoo malah terus-terusan menual slot banner ads mereka. Easy money.

Setelah punya uang, mereka berpikiran untuk membeli perusahaan lain dan (merasa) bisa menjalankannya lebih baik dari perusahaan itu sendiri. Sebut saja Tumblr, Geocities dan Broadcast.com yang dibeli oleh Yahoo dengan harga fantasis. Hasilnya?Nihil. Tindakan tersebut yang membuat Yahoo seakan tidak punya pilihan yang pasti perihal apa yang mereka inginkan.

2. Yahoo kurang inisiatif terhadap servisnya.

Yahoo Mail kalah dengan Gmail.

Yahoo Answers kalah dengan Quora.

Flickr kalah dengan Instagram.

Dan yang paling memalukan adalah Yahoo Search kalah dengan Google Search. Sebelum ada Google, Yahoo adalah penguasa mesin pencari di jagad maya.

Mereka punya uang, mereka punya jutaan user, mereka seharusnya bisa saja melakukan inisiatif untuk membenahi dan meningkatkan servis mereka. Tapi? mereka kurang inisiatif sehingga kalah terus-terusan oleh pesaing yang (padahal) masih baru.

3. Yahoo melepas aset paling berharganya sendiri

Di tahun 2005, Jerry Yang (Cofounder Yahoo) membeli 40% saham dari Alibaba sebesar 1 miliar dolar. Sembilan tahun kemudian, 40% tersebut bernilai 80 miliar dollar. Tapi tunggu dulu, di tahun 2012 dan 2014. Yahoo menjual beberapa persen saham Alibaba tersebut.

Jack Ma

Hari ini, Yahoo hanya memiliki 15% saham Alibaba. Lima belas persen saham tersebut sekarang bernilai 30 miliar dollar, hampir lebih besar enam kali dari nilai perusahaan Yahoo sendiri. Tapipak, kan lumayan itu 50 miliar yang terbuang.

4. Yahoo selalu salah pilih CEO.

Marrissa Meyers memang terlihat seperti CEO yang kurang kompeten. Apalagi setelah pembelian Tumblr di tahun 2013 dan penjualan saham Alibaba di tahun 2014. Tapi Marrissa Meyers akan terlihat jenius apabila dibandingkan dengan pendahulunya. Contohnya adalah Scott Thompson. Dibawah kepemimpinan dia, Yahoo memecat lebih dari 2000 karyawannya. Dia jugalah biang kerok penjualan sejumlah saham Alibaba.

Kemudian ada pula Terry Semel yang disebut-sebut sebagai CEO dengan track record terburuk. Salah satu ‘prestasinya’ adalah dengan menolak tawaran dari Microsoft untuk membeli Yahoo sebesar 40 miliar dollar. Rugi bandar gak tuh?

5. Yahoo cinta buta terhadap produknya.

Pada tahun 1998, Sergey Brin dan Larry Page pernah menawarkan Google kepada Yahoo dengan nilai ‘hanya’ 1 juta dollar. Yahoo menolaknya dengan harapan user akan lebih berkutat pada Yahoo directories dan melihat lebih banyak iklan.

Jerry Yang bertemu dengan Sergey Brin dan Larry Page

Tidak pernah terpikirkan sekalipun oleh Yahoo bahwa apa yang terbaik untuk user, (biasanya) terbaik juga untuk kemajuan perusahaan mereka. Dan ya tentu saja kita semua tahu bagaimana kisah ini berakhir . Google sekarang bernilai lebih dari 500 miliar dollar, sedangkan Yahoo tinggal sejarah.

Berbasa (yang sangat) basi

Alhamdulillah kita semua masih diberi umur untuk merayakan hari raya Idul Fitri di tahun 2016 ini. Idul Fitri tahun ini memang sudah lewat, namun kesannya masih membekas di pikiran kita; dari mulai repot mudik, bertemu keluarga besar, hingga perasaan tidak rela untuk kembali ke rutinitas setelah sejenak merasakan libur.

Lebaran memang sudah selesai, namun halal-bihalalnya akan segera datang. Bicara halal bihalal pastilah kita akan bicara soal momen reuni dengan berondongan pertanyaan basa (yang terkadang sangat) basi.  Berikut bentuk basa (yang sangat) basi yang terkadang mengusik emosi dan bagaimana cara menghindarinya.

“Kok gemukan/kurusan”

Obrolan seputar berat badan masih terlihat lucu apabila kita masih balita. Indikator balita sehat adalah gemuk, sedangkan kurus adalah kurang gizi. Tapi tahukah kamu, beranjak dewasa gak semua orang suka disinggung masalah berat badannya. Tidak jelas juga siapa yang mempelopori pertanyaan tersebut sebagai pembuka obrolan.

Kita yang disinggung “kok gemukan”, paling paling hanya bisa menimpali “iya nih” sambil tersenyum masam. Tapi tahu gak sih, that girl you called fat she’s starving herself. Atau mungkin kalian mau sok-sokan memuji, “kok kurusan sih” yang mungkin (malah lebih salah) karena mungkin that girl you called skinny she has been losing her weigh for over a year so she can fit into *your* societal imperative according to prejudiced, unhealthy and unrealistic ideal. Menggemuk atau tidak kan hak asasi manusia. Kok kalian yang ngurusin sih? (pun intended)

Ya mungkin memang sudah budaya kita ngomentarin fisik orang lain, kayak gak ada bahasan lain aja. Atau memang gak ada?

“Kerja dimana”

Gak ada yang salah dengan kalimat ini, kalau saja kalian nanya pada orang yang kerja kantoran dan atau berstatys pegawai. Tapi kita hidup di masyarakat heterogen, dimana gak semua orang jadi pegawai. Ada yang menekuni usaha nirlaba, ada yang berdagang, ada yang jadi freelancer atau ada pula yang gak kerja tapi udah kaya raya. Pertanyaan ini sudah jamak terdengar di momen kumpul-kumpul untuk adu gengsi sekaligus kepo mata pencaharian satu sama lainnya.

Pernah ada momen dimana saya nanya gini terus dijawab “Nganggur nih, masih nyari” . Ups, awkward moment deh. Atau kejadian kedua dimana saya nanya hal yang sama kemudian dijawab “Kenapa semua orang nanya gitu, ya? Gue kan enggak kerja, gue peneliti”. Dari situ saya berkesimpulan bahwa tidak semua orang merasa nyaman dengan pertanyaan tersebut. Solusinya adalah dengan merevisinya dengan ‘Lagi sibuk apa?’ karena menurut saya siapapun pasti punya kesibukan walaupun gak kerja.

“Kapan nyusul”

Kata tanya kapan ini masih terdengar oke sampai usia awal 20-an. Dari saat itu kata kapan mempunyai arti tersendiri dibanding kata tanya yang lain. Terlebih kalau pertanyaan ini ditanyakan sewaktu kondangan atau nikahan.

Paling-paling kita yang ditanya cuma bisa cengengesan sambil garuk-garuk kepala berharap ada jawaban di belakang sana. Seberes topik kapan-nyusul-nikah ini akan pula lahir kapan nyusul kapan nyusul lainnya.

Nyatanya, nikah itu beda dengan balapan motor atau F1. Gak ada garis akhir yang seragam untuk tiap-tiap orang. Kalau garis akhirnya saja sudah beda?Ngapain saling salip-menyalip kan? Hanya karena kamu berani nikah di usia belia bukan berarti kita harus nikah tiga milidetik setelahnya kan? Toh juga gak semua orang ingin menikah, bisa aja dia ingin jadi sugar daddy pertapa shaolin di gunung yang jauh dan hidup sendirian kan?

Setiap orang punya ikhtiar tersendiri untuk menyegerakan. Masing-masing punya takdirnya sendiri.

I had a dream talk with God face to face.

He said why people consider life is a race.

While it is actually just a phase.

 

Photo from Stocksnap

Setiap orang akan menikah pada waktu-Nya sejak enggak ada yang tau persis kapan peristiwa-peristiwa penting terjadi di hidup kita. Setiap orang akan menggemuk atau mengurus pada waktunya sejak enggak ada yang pernah tau kapan pola hidup berubah. Setiap orang akan gemilang dengan cara-Nya sejak enggak ada yang pernah tau kemana takdir akan berarah.

Ada sejuta cara mengawali obrolan di momen reuni. Berbasa-basi enggak harus basi karena kesantunan tetap harus diutamakan semenjak yang kita temui adalah makhluk berperasaan. Maka, berkatalah saat memang harus. Lebih baik diam saat ucapan dirasa enggak berdayaguna. Alasannya sederhana.

“Tongue has no bones but it’s strong enough to break heart”

Damarrama’s Top Albums 2015

Selamat tahun baru. Walaupun 2016 masih terpaut seminggu lagi, tapi kita semua pasti sudah merasakan atmosfir tahun yang baru. Seperti biasa, saya akan menuliskan beberapa album favorit saya sepanjang tahun ini. Mengingat-ingat kembali serta merangkum apa saja rilisan tahun ini yang saya dengarkan. Beruntunglah di jaman yang serba praktis ini sudah ada yang namanya fasilitas streaming musik beserta algortima rekomendasinya. Apapun yang saya dengarkan , besoknya sudah muncul artis yang (menurut algoritmanya) pasti saya suka. Selain itu, layanan streaming musik ini juga sangat membantu untuk tetap up to date dengan rilisan rilisan baru. Yang paling penting adalah semua ini bisa didapatkan dengan gratis dan L E G A L. Terima kasih Spotify dan Deezer (bukan postingan berbayar).

Kembali kepada topik pemilihan rilisan yang saya dengarkan di 2015 ini. Saya sendiri sebenarnya menemukan lebih dari 15 rilisan yang bisa ditulis, namun sepertinya cukup merepotkan juga apabila menulis terlalu banyak. Toh kelima belas rilisan yang saya tulis juga sudah bisa merangkum apa-apa saja yang menjadi favorit saya. Daftar berikut subjektif disusun berdasarkan tingkat kefavoritan, jadi ya udah percaya aja rekomendasi saya bagus. Asli deh.

 

15.   Courtney Bannet – Sometimes I Sit and Think, sometimes I just Sit

Courtney Bannet mencoba menciptakan lagu-lagu yang cukup relate-able dengan kehidupan manusia sekaligus menyenangkan untuk didengarkan. Album ini memberikan perspektif yang jelas kedalam jalan pikiran orang yang tidak tahu apa yang mereka mau. Normal saja kan, Courtney Bennet juga seorang manusia yang tidak perlu tahu segalanya.

14.  Tuxedo – Tuxedo

Semenjak dunia diguncang dengan demam ‘Uptown Funk’ merilis lagu dengan nuansa funk dan disko sepertinya adalah pilihan yang tepat untuk bisa diterima pasar. Melihat celah yang menguntungkan ini, Tuxedo mencoba mengambil alih pasar funk disco dengan merilis album self-titled. Nampaknya grup band besutan Mayer Hawthorne dan juga dibantu produser hip-hop, Jake One ini juga ingin mencicipi buah kesuksesan. Wajar saja jika albumnya terdengar seperti musik daur ulang, karena memang project ini sendiri sudah dimulai dari tahun 2007 dengan visi yang cukup simpel yaitu to make everyone dance. Teknik bass slap dan clapping-clapping yang bertebaran membuat album ini terdengar seksi. Sulit sepertinya membayangkan album yang bercita rasa sleek dan smooth seperti Tuxedo ini akan hadir dalam waktu dekat.

 

13. Troye Sivan – ‘BLUE NEIGHBOURHOOD’

Dalam album debutnya yang berjudul Blue Nighbourhood, Troye Sivan seakan berani untuk mengacaukan persebaran album-album pop sedih yang dikuasai Adele. Musiknya seperti Lana Del Rey, liriknya bijaksana melampaui anak seumurannya. Vokalnya terdengar effortless seperti Ed Sheeran atau Bruno Mars. Dengan melewatkan talenta yang sangat jarang terjadi di dunia musik, apalagi datang dari seorang remaja Australia. Anda akan melewatkan sesuatu yang penting apabila belum mendengarkan album ini.

 

12.   Alabama Shakes – Sound and Color

Sound & Color merupakan rilisan yang berani tapi juga penuh kehati-hatian. Beberapa eksperimen dan resiko, terkadang salah langkah yang diambil sudah diperhitungkan masak-masak oleh Alabama Shakes. Dalam rilisan ini Alabama Shakes menawarkan sebuah musik dengan terobosan terbaru tanpa tendensi untuk mengalienasi yang penuh dengan kejutan.

 

11. Jamie xx – In Colour

Setelah terlalu lama me-remix lagu-lagu Radiohead dan terlibat dalam pembuatan album Drake – Take Care. Jamie xx yang notabene sudah mainan turntable dari usia 10 tahun ; dan kini pada usia 26 tahun ia menciptakan masterpiecenya sendiri. In Colour adalah rilisan fenomenal dengan balutan musik elegan didalamnya.

10. Passion Pit – Kindred

Dengan durasi tidak lebih dari 40 menit, Kindred merupakan rilisan yang penuh dengan dikotomi dalam liriknya. Angelakos menyelesaikan materi album ini sambil berjuang melawan bipolar sindrom yang di deritanya. Ambil contoh lagu “Until We Can’t (Let’s Go)” yang merupakan curahan hati dari Angelakos tentang konsep ‘living very long’ yang menurutnya tidak akan dia alami: settling down , mempunyai anak dan merayakan hari tua dengan bahagia. Atau contoh lain dalam lagu “Looks Like Rain” yang bernuansa dreamy pop ini mengambil sisi optimis dari cerita kelam mengenai kiasan tentang awan hitam yang akan menyelimuti kehidupan kita semua.  Sure, there may be dark clouds overhead on a dreary day, but the water ensures new life can grow. Sekali lagi, Angelakos sukses mengolah pengalaman kelam tentang dirinya menjadi sebuah album pop yang powerful.

9. Brandon Flowers – The Desired Effect

Mr Brightside yang satu ini memang tidak diragukan lagi dalam kancah dunia permusikan. Selain tampan dan pembawaannya yang taat beragama ini saya bercita-cita kalau sudah besar ingin menjadi Brandon Flowers  menjadi Midas bagi apapun yang disentuhnya. Kalian tidak akan bisa menebak apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Brandon Flowers sebelum membaca apa yang dia buat diantara lirik-liriknya. Daripada membuat formula musik yang itu-itu saja dari tahun-tahun sebelumnya, Brandon Flowers membuat sesuatu yang baru setiap saat. That you imagine, is not quite the desired effect (pun intended).

8.  CHVRCHES – Every Open Eye

Kesuksesan debut CHVRCHES  dengan album “The Bones of What You Believe” sepertinya membuat mereka terlena. Album Every Open Eye ini sendiri menurut saya seperti ‘deflated beach ball’, banyak warna, tambalan dan pemanis disana-sini namun pada akhirnya mereka tidak melakukan suatu gebrakan baru. Begitulah industri musik, ketika mereka membuat hal yang relatif sama maka akan dianggap salah, ketika melakukan gebrakan baru juga dianggap salah. Terus dalam kasus CHVRCHES ini siapa dong yang paling bener? Mayberry. Untuk review lebih mendalam bisa dilihat di Houtskools.

7. Tame Impala – Currents

Band yang satu ini pasti sudah tidak asing di kalangan hipster-hipster era 2012an. Dengan album sebelumnya yang bertajuk “Lonerism” dengan hits single Elephant yang sangat catchy, sampai-sampai mungkin kalian kepikiran membeli Blackbery setelah mendengarkan lagu tersebut, kali ini Tame Impala kembali merilis album yang tidak-beigtu-catchy-namun-mempunyai-hook-yang kuat. Perbedaan paling mendasar antara kedua album tersebut adalah : Lonerism merupakan album yang cocok didengarkan selagi jalan, sedangkan Currents merupakan album yang cocok didengarkan ketika kita sedang duduk dalam gelap dan kesendirian sembari merenung. Album ini juga mempunyai wasiat bahwa untuk menemukan kedamaian kita harus menemukannya sendiri dalam diri kita.

6. Silampukau – Dosa , Kota, dan Kenangan

Silampukau mengambil hati saya sejak lagu Doa 1 dengan lirik potogan lirik “Duh gusti aku kesasar di jalur Indie, terima sablon kaos dan kadang gantungan kunci.”  Musik Silampukau adalah folk. Lengkap dengan gitar akustik, ukulele, harmoni vokal penuh karakter dan lagu-lagu melodius yang bagus. Lirik dan kisah-kisah tentang Surabaya lebih berkuasa ketimbang musiknya. Hal yang menarik dalam album Silampukau ini juga ada pada pemilihan liriknya. Tengoklah dalam lagu Si Pelanggan yang bercerita tentang kawasan Dolly. Pilihan kata yang mereka terapkan di lagu ini seolah membangun sebuah konstruksi sejarah dan masa kini untuk melihat persoalan dari kacamata yang lebih general. Membenturkan kata kafir dan frase krat-krat bir sudah barang tentu jadi serangan dahsyat untuk kenyataan. Tapi lihat lagi premis lain yang mengikuti; cinta tidak mesti merana dan banyak biaya, suaka bagi hati yang terluka, hidup yang celaka atau tempat mentari sengaja ditunda. Deretan yang lumayan panjang itu, tentu tidak bisa dipandang dengan kacamata moral semata, kan? Pamungkas album ini sendiri ada pada lagu Malam Jatuh di Surabaya. Kata mereka, “Tuhan kalah di riuh jalan.” Sebuah kalimat penuh tenaga yang buat saya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, karena ia telah menjadi kesimpulan paling penting dari Dosa, Kota dan Kenangan. Akhir kata , maju terus Silampukau semoga tidak berubah murahan seperti Ahmad Dha…

5. Barasuara – Taifun

Taifun adalah album rock paling lengkap yang dirilis tahun ini. Adalah sebuah album yang dikerjakan selama 3 tahun oleh supergroup bernama Barasuara yang tampaknya sudah menepati hype yang mereka dapat selama ini. Setiap lagu yang ada di Taifun seperti sebuah soundtrack entah itu pada fase pencarian jati diri, berusaha bangkit lagi dari kegagalan, atau meninggalkan masa lalu yang kelam. Dengarkan saja “Menunggang Badai”, “Tarintih” dan “Mengunci Ingatan” maka layar film kehidupan di otak kita masing-masing akan memilik isoundtrack terbarunya diiringi lagu-lagu Barasuara. Barasuara akan memporak-porandakan jiwa kalian dan memberikan telinga kalian sesuatu yang baru untuk didengar, yang akan memberikan kita semua sebuah awal baru di bawah langit yang sama. Seperti taifun.

4. Carly Rae Jepsen – E•MO•TION

Album pop terbaik tahun 2015. Carly Rae Jepsen membuktikan bahwa dirinya bukan hanya sekedar one hit wonder kacangan. Produksi yang rapi, lirik yang gampang  dicerna dan irama ceria yang akan membuat album ini really really really really disukai. Sudah pernah saya review di Houtskools.

Capek ya? Tenang, sebentar lagi kita akan memasuki area 3 besar. Siapa-siapa saja yang akan masuk top-list ini?tetap ikuti tulisan ini ya

Continue reading