Damarrama’s Top Albums 2016

5

Dua ribu enam belas. Sebuah tahun yang panjang dan mengerikan untuk dilewati. Dari mulai banyaknya legenda yang meninggal hingga terpilihnya Darth Vader dalam pemilu di Amerika Serikat. Diantara beberapa peristiwa cukup mengerikan yang terjadi di tahun ini marilah kita sejenak menyingkir kemudian lebih bersyukur bahwa tahun ini dipenuhi dengan album-album musik yang memanjakan telinga.

Terlalu banyak malahan, inginnya sih membuat daftar ini lebih dari lima belas album, tapi nampaknya saya terlalu malas untuk mengisi commentary section (maafkan -__-). Seperti biasa, daftar ini subjektif dan disusun berdasarkan tingkat kefavoritan. Without further ado, berikut album musik dari 2016 yang menyita perhatian saya.

15. Modern Baseball – Holy Ghost

Menggabungkan pop punk dengan semangat garage band menjadikan album ini mempunyai  nuansa yang unik. Isi albumnya pun tidak melulu bercerita soal teenage angst (seperti pop punk pada umumnya). Dengan mengambil tema yang agak berat soal kehilangan dan perasaan depresi salah satu personelnya album ini berhasil memunculkan hook yang cukup memorable dan meledak-ledak. Holy Ghost merupakan paradoks, keteraturan dalam kesemrawutan. Organized chaos. Album ini juga yang mengingatkan pada masa-masa remaja dimana stage diving merupakan hal paling keren yang bisa kita lakukan. These guys are what’s it all about.

14. Band of Horses – Why Are You OK

Band of Horses merupakan salah satu band yang lagunya akan selalu cocok ditempatkan sebagai soundtrack sebuah film atau tv series. Ben Bradwell, merupakan sosok dibalik fenomena tersebut. Vocal ngondoy-nya yang khas ditemani dengan nada-nada minor dari genjrengan gitarnya dan ketukan drum yang statis merupakan formula yang jitu yang membuat Band of Horses dengan cepat disukai oleh khalayak ramai. Dalam penulisan liriknya, Bradwell menggunakan frasa pasif-agresif semacam “You stay here till the ghost is clear”, “I love you so much I’m going to throw up”, dan “As far as we’ve come, we’ve still further to go”. Pada akhirnya, Why Are You OK merupakan album yang OK dalam enam tahun terakhir dalam karier Band of Horses ini.

13. A Tribe Called Quest – We Got It From Here… Thank You 4 Your Service

Setelah 18 tahun lamanya, akhirnya A Tribe Called Quest kembali mengeluarkan album terbarunya yang sarat dengan muatan politik. Salah satu lagunya bahkan dengan cerdas dapat memperkirakan hasil dari pemilu di Amerika Serikat bulan November kemarin. Terlihat dari “For Tyson types and Che Figures / Let’s make somethin’ happen” adalah sebuah ajakan untuk sayap kiri (demokrat sosialis) untuk melakukan revolusi. Sebagaiman album hip-hop bernuansa OG lainnya, ATCQ tetap dapat memberikan kritik sosial tanpa mengurangi nuansa yang membuat mereka menjadi legenda. Hal lain yang membuat album ini berbahaya adalah sebuah track penutupnya yang berjudul “The Donald”. Surprise surprise, alih-alih soal kritik terhadap Presiden terpilih Amerika, lagu ini justru merupakan sebuah penghormatan terhadap Phife Dawg (salah satu personel ATCQ yang beru meninggal). Lagu ini bisa dengan sangat menyentuh menggambarkan peninggalan darinya berupa ATCQ. Angkat topi untuk ATCQ yang sudah mau turun gunung untuk membuat sebuah magnum opusnya. Tidak ada yang bisa diucapkan lagi kecuali Thank You 4 Your service.

12. Japanese Breakfast – Psychopomp

Perpaduan antara post rock dan dream pop bertemu dengan vokal twee pop. Ada banyak atmosfir yang disajikan dalam album ini. Melodi yang disajikan pun cukup beragam dan bisa memberikan nuansa sendu. Sebuah album yang setelah didengarkan dapat memberikan perasaan optimis.

11.  Metallica – Hardwired… to self-destruct

Sudah jadi rahasia umum bahwa band yang merilis lebih dari empat album sebaiknya bubar saja atau jika saja beruntung tidak bubar maka fansnya akan terbagi menjadi dua. Fans yang mengharapkan mereka terus berdinamika atau fans yang mengharapkan mereka untuk kembali ke bentuk awalnya. Tidak terkecuali dengan Metallica. Setelah Black album tidak sedikit fans yang jejingkrakan mendengar Master of Puppets atau singalong pada lagu Enter Sandman. Saya sendiri bukan seorang purist, lebih suka Metallica pada era Black album.

Semua berubah pada tahun 2008, waktu saya pertama kali mendengarkan Ride the Lightning saya tidak tahu bahwa lagu tersebut adalah lagu dari Metallica. Dengan produksi ala-ala tahun 80an saya berpikir “Wah gila, ini band oke juga bisa niruin Metallica” hingga pada akhirnya saya menyadari bahwa itu adalah Metallica yang mencoba mengcopy-cat Metallica.

Hardwired…to self-destruct adalah apa-apa yang ada pada album Death Magnetic dalam versi yang lebih baik. Hyper-speed drumming, riff gitar yang bersuara seperti senapan otomatis, bluesy notes, vokal Hetfield yang cheesy hingga lagu-lagu yang singalong-able semua ada disana. Walaupun bukan sebuah album yang sempurna namun tetap sebuah karya yang dapat menggerakan kita semua untuk berdoa “Sehat-sehat terus ya mbah biar pada bisa bikin album yang keren”.

10.Christabel Annora – Talking Days

Untuk urusan penyanyi wanita saya selalu memilih pihak yang kurang mainstream. Seperti halnya saya memilih Monita Tahalea dibanding Raisa atau Christabel Annora dibanding dengan Danilla Riyadi. Ya nama terakhir yang saya sebut mungkin memang kurang familiar di khalayak ramai. Ada yang spesial saat membicarakan soal Christabel Annora, dia mungkin bukan definisi “wanita cantik” pada umumnya (toh cantik itu relatif). Namun ada hal-hal dalam dirinya yang membuat kita (atau hanya saya?) penasaran, orang Perancis menyebut nya dengan je ne sais quoi. 

Begitu pula dengan albumnya yang walaupun banyak memberikan nuansa sendu tapi tetap terasa manis. Ada 13 lagu yang terdapat di album rilisan Barongsai Records itu. Keseluruhannya memiliki benang merah antara satu sama lain. Sangat menyenangkan jika didengar urut dari track pertama hingga akhir. Christabel Annora memang sengaja menyusunnya cukup runut sesuai rutinitas kebanyakan orang. Mulai dari bangun tidur, melakukan aktivitas, berpolemik, bersuka-cita, hingga kembali tertidur; inilah yang dinamakan ampuh menyita banyak pasang telinga untuk memenuhi playlist hariannya.

Talking Days merupakan sebuah album perkenalan manis dari Christabel Annora yang membuat saya ingin membalas

“Hai Christabel, nice talking to you too”

9. AURORA – All My Demons Greeting Me as a Friend

AURORA adalah nama panggung dari penyanyi berusia 19 tahun yang menggetarkan panggung Nobel Peace Prize 2015 dengan penampilannya mengcover lagu Half The World Away dari Oasis yang berhasil menyita perhatian dari artis-artis senior lainnya. Yang menyita perhatian adalah suaranya yang tajam seakan membelah sunyinya ruangan auditorium tersebut. Albumnya sendiri mempunyai konsep yang menarik. Terinspirasi dari Bob Dylan dan Leonard Cohen, Aurora berhasil menyampaikan pikiran dan gagasan yang jauh melebihi usianya. Sama seperti Lorde, album ini juga bercerita tentang escapism, cinta yang hilang hingga instrospeksi terhadap diri sendiri. Jika stereotipe artis pop adalah buruk, Aurora mencoba mendobrak stigma itu. Album ini merupakan salah satu buktinya.

8.The 1975 – I like it when you sleep, for you are so beautiful yet so unaware of it

Setelah menelurkan debut albumnya pada tahun 2013, The 1975 kembali beraksi dengan album terbarunya yang berjudul I like it when you sleep. Hasilnya tak kalah impresif dari debutnya. Meski materi-materi dalam album kedua ini lebih abstrak dan dewasa pada penulisan liriknya namun tak serta merta melucuti warna musik The 1975 yang penuh warna. Riuh deng an energi melankolis, I like it when you sleep, for you are so beautiful yet so unaware of it  merangkum sejumlah balada eksentrik tentang cinta. Permainan instrumen eletronika maupun bunyi-bunyian organik mampu membangun atmosfer eksotis dalam tubuh pop album ini.

7. David Bowie – Blackstar

Salah satu album terkelam dan paling eksperimental dari Bowie. Di dominasi oleh nada-nada gloomy bernuansa jazz, Bowie seakan menyihir kita untuk berkontemplasi tentang perkara kematian. Tujuh tembang dalam album ini adalah salah satu candu terbaik untuk berkontemplasi dengan diri sendiri.

6. Kaytranada – 99.9%

Ibaratkan sebuah spektrum warna, racikan hip-hop dan EDM dari seorang DJ Kanada bernama Kaytranada bekerja dengan menampilkan seluruh warna tersebut. Sensasi-sensasi terbaik mengalir dari eksplorasi instrumen tabuh dan petik yang tesinkronisasi dengan energi synth.99.9% membuat Anda berjingkrak, melayang, dan juga duduk terdiam demi menemukan jiwa Anda yang sesungguhnya. Lantas lantunan “If you had everything you’d ever wanted. Right in front of me, what’s it gonna be?” akan jadi klimaksnya.

5. Weezer – White Album

Although this album is not the most impressive album from Weezer, but given the last decade of their discography, I have an urge to say that The White Album is, hats off, the best Weezer album since…well, since it became so hard to agree on what the last great Weezer album was.

4. Trees & Wild – Zaman Zaman

Lupakanlah soal album pertama mereka yang berjudul ‘Rasuk’, ‘Zama Zaman’ merupakan sebuah monster yang berbeda. Ada kemiripan yang menarik antara The Trees and The Wild dengan Bon Iver. Meski cukup berbeda secara musikal, TTATW dan Bon Iver – atau dalam hal ini Remedy Waloni dan Justin Vernon – tampaknya memiliki cara yang sama untuk memaknai momentum. Setelah menuai pujian di album sebelumnya, keduanya malah nyaris vakum dan mengabaikan “kesempatan” yang ada untuk justru mengubur presence yang telah mereka ciptakan. Baru setengah dekade kemudian (“Rasuk” dirilis 7 tahun yang lalu, dan “Bon Iver” dirilis 5 tahun yang lalu), mereka kembali dengan materi anyar. Dan, alih-alih kembali untuk merayakan dan bernostalgia dengan konsep lama yang membuat mereka menjadi pujaan fansnya, Remedy dan Vernon sama-sama kembali dengan amunisi baru yang dsiap ditembakan kepada ekspektasi yang ada di kepala pendengarnya. Jika amunisi Vernon adalah absurditas penulisan judul lagu dan glitch yang membuat bingung para penggemar denting gitar akustik yang bernuansa sendu melagu (pun intended), maka senjata Remedy di album comebacknya adalah eksistensi noise atmosferik yang dominan di hampir seluruh lagunya. Keberanian ini jelas patut diapresiasi. Bahwa TTATW berani keluar dari zona nyaman mereka dan mau menjelajahi area baru.

Eksplorasi dan eksperimentasi. Dua kata kunci untuk menggambarkan keseluruhan album ini. Mereka seakan benar-benar mendobrak batasan-batasan yang ada dengan membuat lagu-lagu yang berdurasi cukup panjang. Hanya dua lagu yang durasinya di bawah lima menit, bisa dibilang lagu-lagu tersebut merupakan semacam jembatan penghantar ke lagu selanjutnya. Seperti dalam trek “Srangan” yang cukup untuk membuat kita rehat sejenak untuk kemudian kuping kita dihajar lagi di lagu selanjutnya, “Monumen”.

Tujuh tahun pun rasanya dapat dimaklumi untuk sebuah album yang telah lama dinanti dari sebuah grup band. Karena mereka jelas mampu membayar lunas penantian panjang itu dengan menghadirkan album berkualitas yang tetap mampu mempesona para pendengarnya. Butuh sedikit waktu untuk menyelami kreativitas TTATW di “Zaman, Zaman”, dan kalian akan menemukan jawabannya setelah beberapa kali mendengarkan album ini dari awal hingga akhir.

Akhirnya sampailah kita pada tiga besar dari daftar ini. Simak terus ya

Continue reading