Cinta Tanah Air

Nasionalisme bukanlah perkara siapa yang pernah mengikuti upacara bendera terbanyak, dan hapal pembukaan UUD 1945.

Nasionalisme bukan soal siapa yang paling mencintai negeri ini kemudian menolak lupa terhadap kesalahan negerinya.

Nasionalisme, tentu saja bukan hanya di baju. Tidak bisa diukur dengan seberapa sering kamu mengenakan batik.

Nasionalisme, disalah kaprahkan dengan mengagungkan jargon “…tanyakan apa yang bisa kamu berikan pada negara”.

Nasionalisme, tidak melulu merasa yang paling benar. Menolak tunduk terhadap semua asing.

Nasionalisme, bukan soal seberapa fasih kamu menggunakan bahasa Indonesia. Menghapal kbbi yang kemudian bisa kamu garis bawahi dan cetak tebal apa arti nasionalisme itu sendiri.

Nasionalisme semestinya tidak perlu deklarasi. Pun tidak perlu kesepakatan perihal kesetiaan dalam membela negara.

Nasionalisme, bukan pula soal siapa yang mengibarkan bendera merah putih dengan prosesi lebih hebat ; entah di puncak gunung atau di dasar laut.

Nasionalisme, barangkali adalah keikhlasan dalam menyikapi apa-apa yang tidak bisa terengkuh oleh negara ini.

Yet after all this time.

Always.

Soundsfair, sounds…..fair?

Soundsfair adalah sebuah perhelatan musik dan pameran seni yang diadakan oleh Java Festival Production. Konsep awalnya adalah menggabungkan dua festival musik besar (Java Rockingland dan Java Soulnation) sekaligus eksibisi pameran seni didalamnya. Untuk perhelatannya yang pertama kali ini,Java Festival Production menghadirkan sederet artis kelas wahid mancanegara dari mulai Magic! hingga The Jacksons. Festival ini diselenggarakan selama 3 hari di hall JCC yang disulap menjadi beberapa panggung dengan kualitas lighting dan sound yang tidak diragukan lagi kedahsyatannya.

Saya sendiri hanya sempat datang pada perhelatannya di hari Minggu karena memang saya berniat untuk menonton aksi dari The Jacksons dan Yuna. Penyanyi yang saya sebut terakhir merupakan penyanyi berkebangsaan Malaysia yang tahun kemarin baru saja merilis debut albumnya dibawah naungan Verve Records yang merupakan anak dari record label kenamaan Universal Music Group.Albumnya sendiri masuk dalam nominasi Best Album World Music Award.

Berbekal kamera SLR dan tiket yang didapatkan dari agan-agan di Kaskus,berangkatlah saya menuju JCC pada hari Minggu. Sesampainya disana saya cukup bingung karena minimnya petunjuk arah dan jadwal masing-masing panggung. Panggung yang pertama saya tuju adalah panggung Demajors  yang letaknya ada di basement. Peformance pembuka dari panggung Demajors adalah seorang bedroom singer yang sudah cukup berumur dengan alunan gitarnya yang sangat menyentuh hati,yap siapa lagi kalau bukan Adhitia Sofyan.

Surprise surprise,ternyata panggung yang disediakan oleh Demajors cukup mendukung untuk menikmati peformance Adhitia Sofyan sambil ndusel ndusel ria. Penonton disediakan tempat untuk menikmati konsernya secara lesehan lengkap dengan bantalnya. Adhitia Sofyan mampu membawakan lagu-lagu hitsnya seperti September, Tokyo Lights Fade Away, In to You hingga Adelaide Sky yang melegenda. Momen yang saya ingat adalah ketika Adhitia Sofyan hendak menyanyikan lagu September,dia bercuap cuap begini, “Ya jadi ini satu lagu tentang dua orang yang saling memadu kasih dalam waktu yang singkat sebelum mereka harus kembali ke pacarnya masing-masing”¬†yang kemudian secara serentak disambut dengan koor “AAAAAWWWW” dari para penontonnya. Ohiya,disini pula mas Adhitia Sofyan mengalami tragedi gitar kebanting. Nah,makanya mas kurang-kuranginlah bikin orang terhanyut .

Continue reading

Indonesia?

Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, kemudian mereka bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apa kita biarkan mereka untuk gagah. Mereka gagal untuk gagah. Mereka hanya ganti baju, tapi dalam tubuh mereka adalah sebuah kehinaan. Sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Sesuatu yang mereka bayar sampai titik manapun

– Munir Said Thalib –

Dalam perjuangan untuk kemanusiaan tak pernah ada usaha kecil, usaha besar atau usaha yang tak berguna. Semua usaha memiliki perannya masing-masing. Ada yang keras berteriak di jalan sembari mengangkat toa, ada yang salih membaca lantas menulis usaha keadilan, ada pula yang berjuang dengan diam-diam seraya memberdayakan masyarakat sekitarnya. Lantas bagaimana anda akan memposisikan diri? Dalam perang melawan kejahatan kemanusiaan tidak pernah ada area abu-abu. Jika anda tak berada dalam barisan solusi, maka anda adalah bagian dari masalah.

Semoga penduduk negeri ini sadar. Mendiamkan kejahatan adalah sama dengan turut berpartisipasi di dalamnya.